Harimau sumatra(Dok.BKSDA)
MITIGASI konflik interaksi negatif antara manusia dan harimau sumatra, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menyiapkan kandang jebak atau box trap.
Sebelumnya, tim gerak cepat BBKSDA Riau telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan pengawasan dengan memasang kamera trap untuk mengatasi pengaduan masyarakat yang merasa diteror oleh harimau sumatra di Pulau Burung.
“Tim sedang terus melakukan beberapa upaya mitigasi dan sosialisasi, serta pemantauan harimau. Hari ini sedang menyiapkan kandang jebak (box trap) dan semoga kalau sudah siap segera bisa kami pasang,” kata Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau Ujang Holisudin, Minggu (2/8).
Selain itu, lanjut Ujang, pihaknya juga akan melakukan penambahan tim lapangan untuk melakukan pemantauan harimau sumatra menggunakan drone thermal. Adapun sampai saat ini tim BBKSDA masih melakukan sosialisasi pada masyarakat untuk penyelamatan harimau sumatra dan manusia dalam masalah interaksi negatif tersebut.
“Kami juga melakukan penambahan tim untuk melakukan pemantauan dengan drone thermal. Tim masih dalam perjalanan menuju lokasi,” ujarnya.
Sebelumnya, menindaklanjuti laporan tentang adanya interaksi negatif antara manusia dan harimau sumatra yang masuk kepemukiman masyarakat dan menerkam ternak warga di Desa Sungai Danai, Kecamatan Pulau Burung, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, yang terjadi pada Jumat (24/7), BBKSDA Riau menurunkan Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) untuk melakukan pengecekan dan mitigasi.
Kepala Balai Besar KSDA Riau Supartono mengatakan bahwa berdasarkan identifikasi tim WRU di lokasi kejadian yang didampingi oleh perangkat desa dan Kanit Reskrim Polsek Pulau Burung, ditemukan jejak baru harimau sumatra dengan ukuran telapak kaki panjang 14 cm dan lebar 13 cm.
"Untuk mengetahui pergerakan satwa liar harimau sumatra tersebut, tim melakukan pemasangan camera trap dan melakukan pemantauan melalui udara dengan menerbangkan drone di sekitar lokasi kejadian,” ujarnya.
SOSIALISASI DAN EDUKASI
Selanjutnya, Supartono mengatakan bahwa sebagai langkah pencegahan, tim melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat serta perangkat desa agar meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di kebun maupun di sekitar lokasi kejadian.
Ia juga menyarankan agar hewan ternak sapi maupun kambing dikandangkan sehingga tidak memicu datangnya harimau sumatra ke pemukiman serta membuat meriam spirtus guna menghalau kemunculan harimau sumatra agar bisa kembali ke habitat mereka.
Direktur Jenderal KSDAE, Satyawan Pudyatmoko mengatakan bahwa Harimau Sumatra adalah satwa kunci yang dilindungi Undang-undang, sekaligus merupakan satwa kebanggaan Pulau Sumatra. "Untuk itu mari kita jaga alam dan isinya untuk kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Masyarakat diimbau untuk segera melaporkan kepada petugas BBKSDA Riau atau aparat setempat apabila melihat atau mengetahui keberadaan harimau sumatra guna mendukung penanganan lebih lanjut. "Mari bersama-sama kita jaga kelestarian satwa yang dilindungi sekaligus menjaga keamanan ruang hidup masyarakat,” pungkasnya.(E-2)

















































