Ilustrasi(Dok Istimewa)
MENINGKATNYA suhu udara, curah hujan ekstrem, dan banjir yang semakin sering melanda berbagai kota di Indonesia jadi pengingat bahwa pembangunan perkotaan harus semakin adaptif terhadap perubahan iklim. Di tengah tantangan tersebut, sektor bangunan berperan strategis dalam menciptakan kota lebih tangguh dan mendukung pengurangan emisi karbon.
Isu tersebut mengemuka dalam Annual Community Gathering 2026 yang digelar Green Building Council Indonesia (GBCI) bertema Building Forward: Accelerating Green Buildings for Climate Resilient Indonesia, di Jakarta.
Forum ini mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan komunitas untuk memperkuat kolaborasi dalam mendorong penerapan bangunan hijau sebagai bagian dari strategi menghadapi dampak perubahan iklim.
Sebagai organisasi yang berfokus pada pembangunan berkelanjutan, GBCI terus mendorong transformasi sektor bangunan melalui pengembangan standar bangunan hijau, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, sertifikasi, dan kolaborasi lintas sektor. Upaya tersebut diharapkan mampu mendukung pembangunan rendah karbon serta meningkatkan ketahanan kota dan kualitas hidup masyarakat.
Ketua Umum GBCI Ignesjz Kemalawarta mengatakan tantangan perubahan iklim tidak dapat dihadapi satu pihak saja sehingga diperlukan sinergi kuat dari berbagai pemangku kepentingan.
"Membangun ketahanan iklim butuh kolaborasi kuat. Pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan masyarakat memiliki peran saling melengkapi untuk menghadirkan bangunan lebih adaptif, efisien, dan berkelanjutan. Melalui Annual Community Gathering 2026, GBCI ingin mempertemukan berbagai pihak agar kolaborasi ini dapat berkembang menjadi aksi nyata yang berdampak bagi kota dan masyarakat," ujarnya, Rabu (8/7/2026).
Sebagai bagian dari rangkaian acara, GBCI menggelar diskusi bertajuk Climate Resilient Buildings for Climate Resilient Cities yang membahas berbagai strategi memperkuat ketahanan iklim di sektor bangunan.
Diskusi menyoroti pentingnya integrasi kebijakan pemerintah, penerapan standar internasional, serta adopsi praktik terbaik untuk meningkatkan kemampuan bangunan menghadapi risiko perubahan iklim.
Di antaranya, Kepala Biro Pembangunan dan Lingkungan Hidup Setda DKI Jakarta Iwan Kurniawan yang memaparkan kebijakan pembangunan perkotaan dan ketahanan iklim. Juga, Technical Specialist International Finance Corporation (Erlyana Anggita Sari menjelaskan penerapan Building Resilience Index sebagai pendekatan untuk mendukung adaptasi iklim pada bangunan.
Adapun Country Managing Director Global Building Performance Network (GBPN) Farida Lasida membagikan pengalaman internasional dalam meningkatkan kinerja bangunan sebagai bagian dari strategi membangun kota yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.
Tak berhenti pada forum diskusi, GBCI memperkenalkan agenda strategis organisasi sepanjang 2026 yang berfokus pada penguatan kapasitas, perluasan kolaborasi lintas sektor, dan percepatan implementasi bangunan hijau di Indonesia.
Agenda tersebut dipaparkan Direktur Komunikasi dan Kemitraan GBCI Wiza Hidayat yang menjelaskan berbagai program sepanjang tahun, termasuk Indonesia Green Building Festival pada September mendatang dalam rangka mendukung World Green Building Week.
Melalui berbagai inisiatif ini, GBCI berharap pertukaran pengetahuan yang terbangun dapat mendorong lebih banyak pihak terlibat dalam transformasi sektor bangunan menuju pembangunan lebih berkelanjutan.
Komitmen terhadap keberlanjutan juga diterapkan dalam penyelenggaraan acara. Annual Community Gathering 2026 mengusung konsep green event dengan menghitung emisi karbon yang dihasilkan dari perjalanan peserta menuju lokasi kegiatan, kemudian mengimbanginya melalui program carbon offset.
Langkah ini jadi contoh bahwa penerapan prinsip keberlanjutan tidak hanya diwujudkan dalam kebijakan dan diskusi, tapi juga melalui praktik nyata dalam setiap penyelenggaraan kegiatan.
Lewat forum ini, GBCI berharap kolaborasi yang terbangun menghasilkan implementasi konkret di berbagai sektor. Dengan semakin banyak bangunan yang dirancang lebih efisien, adaptif, dan tahan pada dampak perubahan iklim, manfaatnya diyakini tidak hanya dirasakan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kenyamanan, keselamatan, dan kualitas hidup masyarakat di kawasan perkotaan. (H-2)

















































