Bagaimana Kafe Mistis di Bekasi Menarik Pengunjung

3 hours ago 1

DI tengah menjamurnya kafe berkonsep tematik di Kota Bekasi, Jawa Barat, Ngangsu menawarkan konsep yang berbeda. Pengunjung akan disambut oleh barista yang berpenampilan seperti dukun. Interaksi dalam memesan menu pun berlangsung seperti konsultasi yang penuh dengan humor.

Suasana klenik makin terasa dengan hiasan pocong dan kuntilanak. Tempat duduk tersebar dari halaman rumah hingga kebun kosong. Para pengunjung pun bercengkrama di bawah cahaya kafe yang remang-remang.

Ngangsu terletak di tengah perkampungan, tepatnya di Jalan Ro'oh No. 96, Bojongsari, Jatiasih, Kota Bekasi. Jauh dari hiruk pikuk kota, pengunjung menempuh perjalanan selama 30 menit dari Stasiun LRT Ciracas, Jakarta Timur.

Terinspirasi Nuansa Kejawen

Benedictus Cleo Werdi, salah satu pendiri Ngangsu, bercerita bahwa kafenya berdiri sejak Maret 2026. Bersama dua rekannya, Nur Latifah dan Alvin Guruh Saputra, Cleo ingin mengusung konsep kafe yang berakar pada budaya Jawa dan nuansa kejawen.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Gagasan itu muncul karena ingin memberikan pengalaman unik kepada pengunjung. Selain itu juga karena keterbatasan modal untuk bersaing. "Modal kami sedikit untuk melawan kompetitor yang sudah gede," kata Cleo kepada Tempo, Kamis, 18 Juni 2026.

Kesadaran tersebut mendorong tim Ngangsu mencari konsep yang belum banyak ditemui di Bekasi. Mereka kemudian terinspirasi dari sejumlah tempat di Yogyakarta, terutama kawasan Imogiri dan lingkungan keraton, yang dinilai memiliki nuansa kejawen yang kuat.

Menurut Cleo, konsep yang mereka bangun bukanlah horor dalam pengertian menakutkan, melainkan menghadirkan suasana yang dekat dengan alam dan budaya Jawa. Konsep tersebut diwujudkan melalui area makan yang seluruhnya berada di ruang terbuka. Pengunjung diajak menikmati suasana di tengah pepohonan, udara terbuka, dan taman yang dipenuhi tanaman.

Pendiri kafe mistis Ngangsu, Latifah, Cleo, dan Alvin, di Jati Asih, Bekasi, 18 Juni 2026. Tempo/Savero Aristia Wienanto.

Dalam pengembangannya, Cleo mengaku banyak mengadopsi pengalaman dari Omah Mbah Kung, restoran yang pernah ia bangun dan kini sudah tutup. Namun, konsep yang diterapkan di Ngangsu dibuat lebih spesifik dengan memperkuat unsur kejawen dan kedekatan dengan alam.

Meski berangkat dari pengalaman mengelola Omah Mbah Kung, seluruh menu di Ngangsu kembali dikembangkan dan disesuaikan. Penyesuaian dilakukan bukan untuk mengikuti selera pasar Bekasi, melainkan justru memperkenalkan cita rasa yang berbeda.

Ia mencontohkan penggunaan rempah-rempah dan menu bercita rasa manis seperti ayam bacem yang dinilai bukan karakter utama lidah masyarakat Bekasi. "Kami enggak mengikuti pasar, tapi berupaya agar pasar yang mengikuti kami," tuturnya.

Karena itu, identitas kuliner Jawa tetap dipertahankan sebagai ciri utama Ngangsu. Penggunaan rempah-rempah menjadi bagian dari karakter yang ingin dibangun sejak awal. Tak hanya itu, bentuk gubuk-gubuk di kawasan kafenya terinspirasi dari rumah-rumah sederhana yang banyak dibangun warga setelah gempa bumi di Yogyakarta pada 2006. Menurut Cleo, bentuk bangunan semacam itu dinilai lebih aman ketika terjadi gempa susulan.

Konsep Mistis Berbeda

Konsep mistis yang diusung Ngangsu juga sengaja dibuat berbeda dari berbagai tempat bertema horor lainnya. Cleo mengatakan mereka tidak menghadirkan sosok-sosok hantu sebagai daya tarik utama. Sebaliknya, Ngangsu berupaya membangun pengalaman yang mematahkan ekspektasi pengunjung, yakni humor dari barista. “Orang datang mikirnya serem. Pas datang ternyata lucu juga,” ucapnya.

Konsep tersebut kemudian diterjemahkan menjadi suasana makan yang menyerupai makan malam romantis. Pencahayaan dibuat hangat sehingga menghadirkan kesan tenang, meski dibalut dekorasi bernuansa mistis. "Kami terinspirasi dari candlelight dinner, bukan makan di tengah kuburan," kata Cleo.

Untuk memperkuat interaksi antar-pengunjung, Ngangsu juga tidak menyediakan fasilitas seperti Wi-Fi dan stop kontak listrik yang cukup banyak. Cleo berharap pengunjung lebih banyak berbincang dibanding sibuk menggunakan telepon seluler. 

Selain konsep tempat, ia menilai gimik merupakan bagian dari seni dalam membangun pengalaman pelanggan. Menurut dia, gimik bukan sekadar alat promosi, melainkan cara menciptakan pengalaman yang membuat pengunjung terkejut dan memiliki cerita setelah berkunjung. Meski demikian, ia menegaskan kualitas makanan dan minuman tetap menjadi perhatian utama. "Walaupun harganya murah, kami selalu memikirkan detail produknya," ujarnya.

Cleo mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang tata boga maupun barista. Ia mengatakan seluruh kemampuan tersebut diperoleh secara otodidak. Pengetahuan mengenai rempah sudah dikenal sejak kecil karena dibiasakan oleh orang tuanya. Sementara itu, ia mulai mempelajari kopi pada 2019 sebagai upaya menggabungkan budaya minum kopi dengan kekayaan rempah.

Dalam menjalankan usaha, Cleo mengatakan tidak ada pembagian tugas yang kaku di antara para pendiri. Seluruh anggota tim bekerja secara bersama-sama sesuai kebutuhan. "Kami tidak ada job desk. Kita berjalan mengikuti air mengalir aja," ujarnya.

Ke depan, Cleo mengatakan masih banyak hal yang ingin dikembangkan di Ngangsu. Namun seluruh pengembangan akan dilakukan secara bertahap menyesuaikan kemampuan tenaga maupun biaya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun hubungan personal dengan setiap pelanggan. Termasuk mengenal nama pengunjung yang datang dan mengajak berbincang mengenai konsep yang diusung Ngangsu sebelum memesan makanan. "Kami menganggap pelanggan yang datang itu seperti saudara, sudah seperti teman," ucap Cleo.

Respon positif datang dari salah satu pengunjung bernama Anne Wahid. Ia mengetahui keberadaan kafe itu dari konten di Instagram. Daya tarik lainnya adalah makanan dan minuman yang harganya terjangkau. "Kami benar-benar dijamu dengan menyenangkan dari awal sampai akhir dengan konsep konsultasi bersama dukun," katanya.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |