AS incar negosiasi langsung dengan Iran untuk akhiri program nuklir

1 day ago 5

Ankara (ANTARA) - Pemerintahan Presiden Donald Trump tengah berupaya mengadakan pembicaraan langsung dengan Iran terkait isu nuklir, dengan tujuan meraih kesepakatan besar yang akan membongkar seluruh program nuklir Teheran.

Jika berhasil, perundingan itu akan menjadi keterlibatan bilateral paling berkelanjutan antara kedua negara sejak Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir 2015 pada tahun 2018, menurut laporan Wall Street Journal.

“Saya pikir pembicaraan langsung akan berlangsung lebih cepat, dan Anda bisa lebih memahami pihak lain. Saya tahu mereka sebenarnya ingin melakukan pembicaraan langsung,” kata Trump pada Kamis (3/4)

Seorang pejabat senior AS mengungkapkan bahwa pemerintahan Trump ingin menghindari proses panjang melalui perantara, dan lebih memilih diskusi tatap muka secara langsung.

“Tujuannya adalah menghilangkan ancaman, bukan sekadar mengelolanya,” kata pejabat tersebut.

Pihak Iran belum memberikan tanggapan resmi terhadap usulan terbaru tersebut.

Namun, sejumlah pejabat di Teheran menyiratkan kesiapan untuk melakukan pembicaraan tidak langsung, dengan kemungkinan melibatkan negara ketiga sebagai mediator.

Seorang penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memberikan sinyal bahwa negosiasi langsung mungkin saja dilakukan di masa mendatang.

Trump disebut-sebut telah mengirim surat pribadi kepada Khamenei bulan lalu, yang berisi tawaran kesepakatan dengan batas waktu dua bulan.

Isi surat tersebut, yang dikonfirmasi oleh sejumlah sumber yang mengetahui isi pembicaraan, menunjukkan tekad Washington untuk mencapai solusi cepat.

Pemerintahan Trump juga mendorong kesepakatan yang lebih ketat dibanding kesepakatan era Obama, yang sebelumnya mengizinkan Iran memperkaya uranium dalam batasan tertentu.

Kini, AS menuntut agar Iran melakukan penghentian total aktivitas pengayaan uranium.

Iran selama ini bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan damai dan merupakan hak kedaulatan negara. Namun, badan intelijen AS baru-baru ini memperingatkan bahwa stok uranium yang diperkaya milik Iran kini cukup untuk memproduksi bahan bakar senjata nuklir hanya dalam hitungan beberapa pekan.

Sebagai bagian dari tekanan diplomatiknya, Washington juga telah meningkatkan penempatan militer di kawasan Timur Tengah, termasuk dua kelompok kapal induk tempur, jet tempur F-35, pembom siluman B-2, serta sistem pertahanan udara Patriot.

Para pejabat AS menyatakan bahwa pengerahan tersebut bersifat preventif, bukan untuk serangan dalam waktu dekat.

Selain itu, para pejabat AS juga menyoroti serangan militer Israel baru-baru ini yang disebut telah melemahkan pertahanan udara Iran dan merusak jaringan pasukan proksi Iran di kawasan.

“Dengan Iran yang tengah goyah akibat serangan militer Israel dan krisis ekonomi dalam negeri, Trump melihat ini sebagai peluang untuk meningkatkan tekanan,” ujar Michael Singh, mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional AS.

Namun, Iran tetap memiliki pengaruh yang cukup besar. Negara itu diyakini mampu memproduksi uranium yang sangat diperkaya setara satu bom nuklir setiap bulan.

Para ahli memperingatkan bahwa ultimatum dua bulan dari Trump bisa menjadi bumerang, karena bila negosiasi gagal, tekanan bisa meningkat agar Washington mempertimbangkan opsi militer.

Sebelumnya pada Senin lalu, Khamenei memperingatkan bahwa “Jika ada tindakan jahat terhadap Iran, mereka akan menerima pukulan balasan yang keras.”

Pemimpin-pemimpin Iran juga telah menegaskan bahwa pasukan AS dan Israel di kawasan akan menjadi target serangan jika Iran diserang.

Hingga kini, lokasi dan tim negosiasi resmi belum diumumkan, namun Steve Witkoff, utusan khusus pemerintahan Trump untuk Timur Tengah, diperkirakan akan memainkan peran utama dalam perundingan tersebut.

Iran juga menegaskan bahwa pihaknya tidak akan pernah bersedia bernegosiasi soal program rudal balistik, yang dianggap sebagai elemen penting dalam sistem pertahanan nasional mereka.

Seorang mantan pejabat pertahanan AS mengatakan bahwa kampanye udara bersama AS-Israel memang bisa merusak infrastruktur nuklir Iran, tetapi operasi serupa kemungkinan harus diulang dalam waktu satu tahun jika Iran kembali membangunnya.

“Tak ada jalan keluar yang mudah di sini. Iran akan mencoba mengulur waktu, dan AS harus memutuskan seberapa jauh mereka siap melangkah,” kata Richard Nephew, mantan negosiator nuklir AS.

Sumber: Anadolu

Baca juga: China sebut pendekatannya berbeda dengan AS untuk tangani nuklir Iran

Baca juga: PBB minta AS, Iran hindari pernyataan provokatif soal senjata nuklir

Baca juga: Iran kecam ancaman "pengeboman" Presiden AS Trump

Penerjemah: Primayanti
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2025

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |