Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah pejabat Kementerian Pertahanan Amerika Serikat dikabarkan khawatir usai perang AS melawan Iran menggunakan lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk.
Sejumlah sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada Washington Post bahwa angka ini sekitar sembilan kali lipat dari jumlah rudal Tomahawk yang dibeli Pentagon setiap tahunnya.
Dilansir dari CBS News, tingkat produksi maksimum Tomahawk diperkirakan sekitar 2.330 unit per tahun. Tiga kontrak dari Raytheon masing-masing memiliki kapasitas 600 unit dan BAE memiliki kontrak untuk memproduksi hingga 530 rudal per tahun, menurut laporan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), yang mengutip dokumen anggaran Pentagon.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, menurut CSIS, jumlah pengadaan aktual untuk militer AS yaitu sekitar 90 unit per tahun.
Penggunaan masif Tomahawk dalam perang ini telah membuat was-was sejumlah pejabat dan analis pertahanan. Pasalnya, rudal Tomahawk cukup mahal dan produksinya tak banyak.
Biaya Tomahawk bervariasi tergantung versinya. Untuk versi berbasis darat, rudal ini senilai US$2,2 juta (sekitar Rp37 miliar) dan peluncurnya seharga lebih dari US$6 juta (sekitar Rp101 miliar).
Tomahawk yang diluncurkan dari kapal perusak atau kapal selam harganya bisa lebih dari US$4 juta (sekitar Rp67 miliar).
Untuk produksinya, dalam beberapa tahun terakhir, industri hanya memproduksi belasan hingga beberapa ratus rudal setiap tahun untuk AS. Ini berdasarkan dokumen anggaran Kementerian Pertahanan AS.
Pemberitahuan terbaru dari Pentagon menunjukkan adanya upaya aktif untuk memperluas kapasitas Tomahawk. RTX mengumumkan bulan lalu bahwa produksi Tomahawk tahunan akan ditingkatkan menjadi lebih dari 1.000 unit per tahun sesuai perjanjian baru.
Tomahawk hanyalah salah satu amunisi canggih yang telah dipakai AS dalam perang melawan Iran.
Senator Demokrat Jack Reed dari Rhode Island dalam sidang awal pekan ini mengatakan pasukan AS telah menembakkan "ribuan rudal Tomahawk, rudal serang presisi, dan senjata ofensif jarak jauh lainnya ke Iran, ditambah pula pencegat Patriot, THAAD, dan Standard dalam jumlah yang mengkhawatirkan."
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt telah buka suara mengenai laporan ini. Kepada Reuters, ia mengatakan "AS memiliki stok amunisi, peluru, dan senjata yang lebih dari cukup untuk mencapai tujuan Operasi Epic Fury."
"Meskipun demikian, Presiden (Donald) Trump selalu sangat fokus pada (penguatan) Angkatan Bersenjata dan dia akan terus menyerukan kepada kontraktor pertahanan untuk lebih cepat membangun senjata buatan Amerika, yang merupakan yang terbaik di dunia," ujarnya.
Pentagon, yang kini diubah namanya jadi Departemen Perang, juga menyatakan pihaknya memiliki semua yang dibutuhkan untuk misi apa pun.
"Departemen Perang memiliki semua yang dibutuhkan untuk melaksanakan misi apa pun pada waktu dan tempat yang dipilih Presiden dan dalam jangka waktu berapa pun," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Sean Parnell kepada Reuters.
Tomahawk adalah rudal jelajah yang dapat menempuh jarak lebih dari 1.000 mil dan menyerang dengan teramat presisi. Rudal ini bahkan mampu menggempur target yang dilindungi oleh sistem pertahanan udara canggih.
Tomahawk dikembangkan selama Perang Dingin dan terus ditingkatkan sejak saat itu. Rudal ini jadi salah satu senjata jarak jauh Pentagon yang paling andal.
Tomahawk utamanya dioperasikan oleh Angkatan Laut AS. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, juga diadopsi oleh Angkatan Darat. Militer sekutu, termasuk Angkatan Laut Inggris, juga menggunakan sistem ini.
(blq/bac)
Add
as a preferred source on Google

13 hours ago
2






































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5491263/original/038261600_1770089716-wehrmann_j.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5390165/original/033586000_1761235850-Persib_Bandung_1.jpeg)