Apa itu skyquake yang dikaitkan dengan dentuman keras di Bandung

1 day ago 9

Jakarta (ANTARA) - Warga Bandung Raya dibuat penasaran dengan suara dentuman keras yang terdengar berulang pada Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9) dini hari. Suara tersebut dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah Jawa Barat, bahkan ada warga yang mengaku merasakan kaca atau bagian rumah bergetar.

Fenomena itu kemudian ramai dikaitkan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau yang sedang berlangsung di Selat Sunda. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan tidak terdapat aktivitas gempa yang berkaitan dengan dentuman tersebut. BMKG juga menyatakan suara itu tidak berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Di tengah berbagai spekulasi, istilah skyquake atau "dentuman langit" ikut ramai dibicarakan. Lantas, sebenarnya apa itu skyquake?

Baca juga: Warga dengar dentuman sebelum kebakaran melanda permukiman di Palmerah

Apa itu skyquake?

Skyquake merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan suara dentuman keras yang terdengar dari langit atau atmosfer, tetapi sumber suaranya tidak mudah diketahui.

Fenomena seperti ini bukan berarti benar-benar terjadi "gempa di langit". Istilah skyquake lebih banyak digunakan untuk menggambarkan karakter suara yang terdengar seperti ledakan atau dentuman, sementara penyebab pastinya bisa berbeda-beda.

Dalam kasus Bandung, Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Suaidi Ahadi menyebut skyquake sebagai salah satu kemungkinan yang sedang dipertimbangkan. BMKG sebelumnya telah melakukan pemeriksaan terhadap data kegempaan, aktivitas petir, kondisi cuaca hingga medan magnet bumi.

Kenapa skyquake bisa terdengar seperti ledakan?

Salah satu hal yang membuat fenomena ini membingungkan adalah suara dapat terdengar sangat jelas meskipun sumbernya tidak terlihat.

Secara umum, suara dapat merambat melalui atmosfer dan dalam kondisi tertentu bisa terdengar lebih jauh dari sumbernya. Karena itu, suara dentuman yang terdengar masyarakat belum tentu berasal dari lokasi yang terlihat paling dekat.

Namun, mekanisme pasti skyquake sendiri tidak selalu mudah dijelaskan. Dalam kasus Bandung, BMKG menyebut fenomena tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut oleh peneliti di bidang sains kebumian, geofisika dan meteorologi.

Baca juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau diduga sebabkan dentuman tiga provinsi

Apakah dentuman Bandung berasal dari Anak Krakatau?

Ini bagian yang penting.

Pada Sabtu (5/9), BMKG Stasiun Geofisika Bandung menyatakan dentuman yang terdengar di Bandung Raya tidak berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Menurut BMKG, jarak antara Bandung dan Gunung Anak Krakatau membuat hubungan langsung antara suara letusan dan dentuman yang terdengar di Bandung perlu dipertanyakan.

Di sisi lain, Badan Geologi melalui Kepala Badan Geologi Lana Saria sebelumnya menyampaikan dugaan berbeda. Ia menyebut laporan dentuman dan getaran dari Jawa Barat, Banten dan Lampung terjadi pada waktu yang bertepatan dengan erupsi menerus Gunung Anak Krakatau pada 23.07 hingga 04.40 WIB. Karena itu, Badan Geologi saat itu menduga adanya keterkaitan.

Perbedaan temuan tersebut menunjukkan bahwa penyebab dentuman belum bisa disimpulkan secara sederhana sebagai akibat erupsi maupun skyquake.

BMKG tidak menemukan gempa

Dari pemantauan BMKG, tidak ditemukan aktivitas seismik di Bandung dan sekitarnya ketika suara dentuman dilaporkan masyarakat.

BMKG juga memeriksa aktivitas petir. Hasil pemantauan memang menemukan adanya petir, tetapi intensitasnya tidak cukup signifikan untuk langsung dikaitkan sebagai penyebab suara dentuman.

Artinya, sampai hasil pemantauan tersebut, gempa bumi dan aktivitas petir belum memberikan penjelasan yang cukup untuk menjawab sumber suara.

Baca juga: BMKG: Dentuman di Bandung tak berkaitan dengan erupsi Anak Krakatau

Lalu, apakah skyquake berbahaya?

Belum tentu.

Skyquake sendiri merupakan istilah untuk menggambarkan fenomena suara, bukan nama suatu bencana tertentu. Yang perlu diperhatikan justru adalah sumber suara tersebut.

Jika dentuman disebabkan oleh aktivitas geologi, cuaca ekstrem, aktivitas manusia atau fenomena atmosfer tertentu, dampaknya tentu akan berbeda.

Karena itu, masyarakat tidak perlu langsung panik ketika mendengar suara dentuman misterius. Namun, apabila disertai getaran kuat, kerusakan bangunan, benda jatuh atau tanda bahaya lainnya, masyarakat perlu mengikuti informasi dari pihak berwenang.

Kenapa fenomena seperti ini sulit dijelaskan?

Suara dentuman bisa menjadi sulit dilacak karena sumber suara tidak selalu berada tepat di lokasi orang yang mendengarnya. Kondisi atmosfer, arah angin, lapisan udara dan karakteristik sumber suara dapat memengaruhi bagaimana suara merambat.

Ditambah lagi, jika tidak ada rekaman instrumen yang menangkap sumbernya secara langsung, peneliti harus membandingkan berbagai data untuk mencari kemungkinan penyebab.

Itulah yang terjadi pada dentuman Bandung. BMKG masih menyebut fenomena tersebut memerlukan kajian lebih lanjut dan belum memberikan kesimpulan bahwa suara itu benar-benar merupakan skyquake.

Jadi, istilah skyquake yang ramai dikaitkan dengan dentuman Bandung sebaiknya dipahami sebagai dugaan atau kemungkinan, bukan jawaban final. Di tengah viralnya berbagai teori di media sosial, masyarakat tetap perlu menunggu hasil kajian lembaga resmi agar tidak salah mengaitkan fenomena tersebut dengan gempa, cuaca maupun erupsi Gunung Anak Krakatau.

Baca juga: BRIN ungkap kronologi dan penyebab dentuman meteor yang melintasi Jawa

Baca juga: Semeru erupsi dengan letusan setinggi 1,2 km disertai dentuman sedang

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |