Ilustrasi karya seniman tentang asteroid berbahaya yang menuju Bumi.(Badan Antariksa Eropa)
BADAN Antariksa Nasional China (CNSA) mengumumkan rencana ambisius untuk membangun jaringan peringatan dini asteroid terintegrasi yang memadukan infrastruktur berbasis darat dan luar angkasa. Pengumuman ini disampaikan bertepatan dengan Hari Asteroid Internasional yang diperingati setiap tanggal 30 Juni. Langkah ini menandai keseriusan Tiongkok dalam mematangkan strategi pertahanan planet (planetary defense) demi melindungi Bumi dari potensi tabrakan benda langit.
Core utama dari sistem pertahanan ini adalah integrasi pemantauan dari dua arah. Kepala Ilmuwan di Pusat Penelitian Pemantauan dan Peringatan Dini Asteroid CNSA, Li Mingtao, menjelaskan bahwa pihaknya tengah mengkaji kelayakan sistem pertahanan tersebut. Di permukaan Bumi, Tiongkok akan menempatkan sejumlah teleskop optik berapertur besar di lokasi-lokasi strategis terpilih. Sementara di luar angkasa, konstelasi teleskop orbital akan diluncurkan untuk memantau langit tanpa kendala atmosfer maupun gangguan siang dan malam.
Kombinasi ini sengaja dirancang untuk mengeliminasi "titik buta" pemantauan tradisional. Salah satu fokus utamanya adalah mendeteksi ancaman yang datang dari arah matahari. Sebagai gambaran, meteor yang meledak di Chelyabinsk, Rusia, pada 2013 gagal terdeteksi radar darat karena posisinya tertutup oleh silau matahari, dan baru disadari saat sudah memasuki atmosfer Bumi.
"Hingga saat ini, belum ada asteroid yang teridentifikasi pasti akan bertabrakan dengan Bumi dalam waktu dekat, namun kekhawatiran terhadap risiko dampak tersebut bukan tanpa alasan. Banyak asteroid dekat Bumi yang masih belum terdeteksi," ujar Li Mingtao seperti dikutip media pemerintah, Xinhua.
Berdasarkan data hingga Juni 2026, komunitas astronomi global telah menemukan dan mengatalogkan lebih dari 40.000 asteroid dekat Bumi. Sekitar 95% asteroid berukuran minimal 1 kilometer, yang berpotensi memicu bencana global, telah berhasil dipetakan. Kendati demikian, tantangan besar ada pada objek yang lebih kecil. Baru sekitar 45% asteroid berukuran 140 meter yang berhasil terdeteksi, padahal ukuran tersebut sudah cukup merusak untuk menghancurkan sebuah negara kecil jika terjadi hantaman.
Selain mendeteksi, para ilmuwan CNSA juga mulai merancang algoritma risiko serta skenario untuk mengalihkan rute batuan ruang angkasa yang berbahaya. Beberapa metode pengalihan orbit yang dipelajari meliputi teknologi proyektil kinetik (kinetic impact), traktor gravitasi, ablasi laser, hingga teknik dorong berkelanjutan.
"Tabrakan kinetik adalah pendekatan yang paling layak dan sederhana, namun efektivitasnya relatif sulit dinilai. Pengalihan rute secara berkelanjutan menawarkan hasil yang lebih presisi, tetapi tantangan utamanya adalah gaya yang diterapkan sangat lemah. Itulah mengapa deteksi dini sangat penting, karena lebih banyak waktu memberi kita lebih banyak pilihan untuk menghindari tabrakan," jelas Li.
Melalui proyek pemantauan 24 jam ini, Tiongkok berupaya memberikan kontribusi nyata pada keamanan global dan mendorong kolaborasi internasional dalam menjaga masa depan peradaban manusia dari ancaman dari ruang hampa. (Space/Z-2)

















































