Gambar yang menunjukkan anomali suhu permukaan laut mingguan selama paruh kedua bulan Juni 2026.(NOAA)
DUNIA saat ini tengah bersiap menghadapi ancaman Super El Niño, sebuah fenomena cuaca yang diprediksi akan menjadi salah satu yang paling intens dalam beberapa dekade terakhir. Fenomena ini membawa ancaman nyata berupa lonjakan drastis cuaca ekstrem yang mematikan di berbagai belahan bumi.
Menghadapi situasi tersebut, sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances memunculkan sebuah pertanyaan besar: bagaimana jika manusia dapat meredam dampak buruk dari El Niño paling parah sekalipun dengan cara meredupkan matahari untuk sementara waktu?
Studi yang dipimpin oleh sekelompok ilmuwan dari Scripps Institution of Oceanography ini berfokus pada potensi penggunaan teknik rekayasa iklim yang sangat kontroversial, yaitu solar geoengineering. Secara spesifik, mereka mengkaji teknik pencerahan awan laut atau marine cloud brightening. Metode ini dilakukan dengan cara menyemprotkan partikel aerosol ke awan di atas samudra agar dapat memantulkan kembali sinar matahari ke luar angkasa.
El Niño sendiri merupakan pola iklim alami yang berasal dari Samudra Pasifik tropis, yang biasanya memicu kenaikan suhu global serta cuaca ekstrem. Namun, fenomena alami ini kini diperparah oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia yang terus menaikkan suhu dasar planet bumi. Akibatnya, tahun-tahun terjadinya El Niño menjadi kian ekstrem dan membawa dampak destruktif bagi kehidupan manusia serta perekonomian global.
Karena risiko eksperimen rekayasa iklim di dunia nyata dinilai terlalu berbahaya dan dapat memicu "konsekuensi bencana yang tidak disengaja", para peneliti beralih ke "eksperimen alami" yang pernah terjadi. Mereka mengamati peristiwa kebakaran hutan hebat di Australia pada kurun waktu 2019 hingga 2020. Peristiwa tersebut menghasilkan gumpalan asap tebal berisi partikel yang memantulkan sinar matahari di atas Samudra Pasifik, yang terbukti mendinginkan lautan dan berkontribusi memicu fenomena La Niña setelahnya.
Para ilmuwan kemudian menggunakan model komputer untuk mensimulasikan dampak jika teknik pencerahan awan buatan ini diterapkan sebelum terjadinya dua peristiwa El Niño kuat dalam sejarah, yaitu pada tahun 1997 dan 2015. Hasil simulasi menunjukkan bahwa penerapan teknik ini secara terukur mampu melemahkan dampak buruk El Niño, serta memperkuat efek pendinginan dari La Niña hingga 40 persen.
Meskipun demikian, wacana ini memicu perdebatan etis dan teknis yang sengit di kalangan ahli global. Sebagian pakar menilai metode rekayasa iklim terlalu berbahaya karena memiliki risiko efek samping yang tak terhitung jumlahnya. Ada pula kekhawatiran mengenai risiko termination shock, yaitu lonjakan suhu bumi yang melonjak secara ekstrem dan mendadak jika proyek geoengineering ini dihentikan di tengah jalan.
Namun, Kate Ricke, salah satu penulis studi dan ilmuwan iklim dari Scripps Oceanography memberikan pandangan berbeda. Menurutnya, ide yang dikaji kali ini adalah menggunakan geoengineering sebagai alat sementara yang ditargetkan untuk peristiwa musiman spesifik yang dipastikan membawa kerusakan besar.
"Ini bukan sesuatu yang membuat Anda terikat selamanya," ujar Ricke.
Ia menambahkan bahwa di tengah ancaman Super El Niño yang ekstrem, hampir semua wilayah di dunia akan menjadi pihak yang dirugikan. "Kita perlu memahami lebih banyak hal, tetapi jika ada cara menggunakan ini... untuk memitigasi El Niño, mengapa kita tidak mempertimbangkannya?" pungkas Ricke. (CNN/Z-2)

















































