Ancaman di Balik Satelit Swasta dan AI: Pengawasan Bumi Makin Canggih, Privasi Terancam?

4 hours ago 3
 Pengawasan Bumi Makin Canggih, Privasi Terancam? Citra radar apertur sintetis ini yang diambil oleh satelit Capella Space menunjukkan ladang tenaga surya yang mengapung di atas Danau Tiangang buatan manusia di Tiongkok.(Capella Space)

PENGAMATAN Bumi dari orbit kini bukan lagi monopoli pemerintah. Kehadiran perusahaan swasta yang memadukan jaringan satelit canggih dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara manusia memantau planet ini secara masif. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul ancaman baru terkait privasi, keamanan nasional, hingga penyebaran disinformasi.

Laporan terbaru dari Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) yang disusun oleh Marit Undseth dan Claire Jolly menyoroti fenomena ini. Laporan tersebut menyebutkan demokratisasi data pengamatan Bumi berkat integrasi sistem optik canggih, cloud computing, dan AI membawa tantangan besar.

"Kemajuan dalam sistem optik, fotonika, komputasi awan, dan kecerdasan buatan telah mendemokratisasi kualitas sekaligus aksesibilitas data satelit. Namun, konvergensi teknologi ini juga membawa risiko, termasuk bagi keamanan nasional dan privasi," tulis laporan OECD tersebut.

Sifat Ganda dan Bahwa Disinformasi

Salah satu isu utama yang disoroti OECD adalah sifat ganda (dual-use) dari data satelit. Citra satelit yang digunakan untuk melacak penangkapan ikan ilegal, misalnya, pada saat bersamaan dapat dimanfaatkan untuk memantau pergerakan pasukan militer suatu negara.

Tak hanya itu, laporan OECD menekankan bahaya manipulasi gambar yang kian marak di era digital.

"Sebagai bagian dari tren disinformasi digital yang terus berkembang, kepercayaan terhadap data satelit dapat tergerus oleh citra palsu, citra yang disalahartikan, atau citra yang sengaja disajikan secara keliru," pangkas laporan tersebut.

Kolaborasi Internasional dan Teknologi SAR

Menanggapi perkembangan ini, pakar penginderaan jauh Viktor Stoyanov, Chief Operating Officer Smart Solutions di Space42, perusahaan teknologi asal Uni Emirat Arab, menjelaskan tantangan yang dihadapi pemerintah saat ini. Menurutnya, negara-negara menuntut sistem pengamatan Bumi yang mampu memberikan kedaulatan sekaligus efisiensi biaya.

"Pemerintah semakin berharap sistem pengawasan Bumi dapat memberikan kedaulatan sekaligus efisiensi biaya, dua tujuan yang lama dianggap saling bertolak belakang," kata Stoyanov.

Space42 mengoperasikan konstelasi satelit Synthetic Aperture Radar (SAR) bernama Foresight yang dibangun bekerja sama dengan perusahaan ICEYE dari Finlandia. Stoyanov menilai, pergeseran terbesar dalam beberapa tahun terakhir adalah peralihan dari platform tunggal berukuran besar menuju konstelasi satelit kecil yang terspesialisasi.

"Satelit SAR mampu mengambil gambar menembus awan, debu, dan kegelapan, yang sangat penting bagi wilayah kami dan bagi pelanggan mana pun yang membutuhkan konsistensi tanpa terpengaruh waktu dan cuaca," jelasnya.

Peran Kunci AI di Masa Depan

Dengan volume data gambar yang dihasilkan oleh konstelasi satelit secara melimpah, analisis manual oleh manusia tidak lagi memadai. Di sinilah AI memegang peranan vital sebagai alat pemilah data berbasis volume, kecepatan, dan akurasi. Bagi pihak yang menangani bencana banjir, insiden maritim, atau gangguan rantai pasok, informasi nyata yang diolah cepat oleh AI jauh lebih berharga daripada sekadar kumpulan piksel gambar. (Space/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |