Ancaman di Balik Rencana Jutaan Pusat Data Luar Angkasa Tanpa Tinjauan Lingkungan

2 weeks ago 19
Ancaman di Balik Rencana Jutaan Pusat Data Luar Angkasa Tanpa Tinjauan Lingkungan Lebih dari satu juta satelit baru dapat ditambahkan ke orbit Bumi rendah untuk mendukung pusat data berbasis ruang angkasa yang diusulkan, yang menuai kritik dari para ilmuwan dan pemerhati lingkungan.(ESA)

RENCANA ambisius sejumlah perusahaan teknologi untuk memindahkan pusat data (data center) ke luar angkasa memicu gelombang protes dari komunitas ilmiah dan pencinta lingkungan. Koalisi organisasi lingkungan yang diwakili lembaga hukum nirlaba Earthjustice mendesak Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (FCC) untuk melakukan tinjauan lingkungan secara menyeluruh sebelum memberikan izin peluncuran.

Dalam beberapa bulan terakhir, FCC menerima lonjakan permohonan lisensi peluncuran satelit pusat data ke orbit rendah Bumi (LEO). Langkah ini dipimpin proposal raksasa dari SpaceX yang mengajukan izin untuk meluncurkan hingga satu juta satelit. Ironisnya, hingga saat ini FCC meloloskan permohonan tersebut tanpa kewajiban analisis dampak lingkungan, baik untuk satelit individual maupun efek akumulatifnya bagi planet Bumi.

Direktur Eksekutif Public Employees for Environmental Responsibility, Tim Whitehouse, mengkritik keras kebijakan ini. Menurutnya, pembiaran ini bertolak belakang dengan prinsip keselamatan global.

"Mengizinkan satu juta pusat data mengorbit tanpa tinjauan lingkungan bukan hanya tidak bertanggung jawab, tetapi juga tindakan yang ceroboh. Potensi proyek-proyek ini merusak atmosfer dengan polusi dan puing-puing serta membahayakan satwa liar harus dipertimbangkan secara matang sebelum melisensikan proyek tersebut," ujar Tim Whitehouse dalam sebuah pernyataan resmi.

Sebagai perbandingan, saat ini hanya ada sekitar 15.000 satelit aktif dan 46,000 objek terlacak yang mengelilingi Bumi. Angka ini sebenarnya sudah diproyeksikan melonjak menjadi 58.000 satelit aktif akibat mega-konstelasi broadband Starlink milik SpaceX. Namun, kehadiran proyek pusat data berbasis luar angkasa ini diprediksi akan membuat populasi objek buatan di orbit meledak tak terkendali.

Para ahli memperingatkan dampak sistemik yang mengerikan dari kepadatan ekosistem teknologi di luar angkasa ini. Jan Hasselman, pengacara senior di Earthjustice, menegaskan bahwa hukum mengharuskan regulator untuk bertindak tegas.

"Peningkatan satelit secara drastis di luar angkasa berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari manusia serta masa depan planet kita. Lembaga yang memberikan otorisasi kepada perusahaan-perusahaan yang mengincar ruang angkasa sebagai batas baru tetap harus beroperasi dalam koridor hukum. Undang-undang mewajibkan FCC mempertimbangkan semua risiko dan dampak dari proposal ini. Jika kami harus menuntut agar mereka patuh, kami akan melakukannya," tegas Jan Hasselman.

Kekhawatiran utama koalisi ini berfokus pada potensi tabrakan antarsatelit yang akan menghasilkan jutaan serpihan sampah antariksa baru. Selain itu, emisi gas rumah kaca dari roket peluncur serta pelepasan logam berat saat satelit kedaluwarsa terbakar di atmosfer turut mengancam ekosistem udara Bumi.

Dampak lainnya adalah polusi cahaya ekstrem yang akan mengubah wajah langit malam secara permanen. Fenomena ini tidak hanya mengganggu pengamatan astronomi, melainkan juga merusak ritme alami satwa liar. Polusi cahaya dapat mengacaukan pola migrasi, jadwal makan predator malam seperti kelelawar dan singa gunung, hingga mengancam rantai makanan.

Direktur Eksekutif DarkSky International, Ruskin Hartley, mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian langit gelap.

"Proyek-proyek ini dapat mengubah langit malam yang kita kenal secara permanen. FCC perlu menanggapi secara serius kewajibannya untuk memastikan proyek-proyek ini tidak menyebabkan kerusakan yang tidak perlu pada langit yang gelap alami, atau pada lingkungan kita secara keseluruhan," pungkas Ruskin Hartley.  (Space/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |