Analis Indo Premier: Volatilitas IHSG Tetap Tinggi Pekan Ini

6 hours ago 3

EQUITY Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak mixed dengan kecenderungan konsolidatif, seiring dengan sentiman global dan domestik yang masih beragam. Pada pekan lalu, IHSG berhasil rebound ke level 7.458 dengan penguatan sebesar 6,14 persen.

Hari memperkirakan indeks global seperti S&P 500, Dow Jones Industrial Average, dan Nasdaq Composite kembali menghadapi tekanan seiring kegagalan negosiasi terbaru antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menghasilkan kesepakatan konkret.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Kondisi ini memperpanjang ketidakpastian geopolitik global dan meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik yang dapat berdampak langsung pada stabilitas pasar energi,” ucapnya dalam keterangan resmi pada Senin, 13 April 2026.

Di sisi lain, kata Hari, eskpektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed juga kembali menjadi hawkish, seiring dengan masih tinggiya risiko inflasi berbasis energi. Kondisi tersebut berpotensi membuat imbal hasil obligasi AS tetap tinggi dan menjadi tekanan tambahan bagi aset berisiko, khususnya saham berbasis pertumbuhan yang sensitif terhadap suku bunga.

"Secara keseluruhan, dinamika ini mendorong investor global untuk kembali mengadopsi sikap risk-off dalam jangka pendek, dengan potensi rotasi ke aset safe haven seperti dolar AS dan komoditas energi,” kata Hari. Dia mengatakan volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi dalam sepekan ke depan.

Sementara itu, di dalam negeri, pergerakan IHSG diperkirakan akan dipengaruhi oleh dua katalis utama, yaitu potensi penyesuaian harga BBM non-subsidi serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang saat ini tertekan di kisaran Rp 17 ribu terhadap dolar AS.

Menurut Hari, kombinasi kebijakan penyesuaian harga energi dan stabilisasi nilai tukar mencerminkan sikap pemerintah yang lebih antisipatif dalam menjaga stabilitas makro ekonomi. Namun, Hari menilai, pasar kemungkinan akan merespons dengan hati-hati dalam jangka pendek, seiring meningkatnya sensitivitas terhadap risiko inflasi dan arah kebijakan lanjutan.

"Ke depan, efektivitas implementasi kebijakan tersebut serta koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter akan menjadi kunci dalam menentukan arah sentimen pasar domestik dan keberlanjutan aliran dana ke pasar keuangan Indonesia,” ujarnya.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |