Logo Adidas(Christof STACHE / AFP)
PERUSAHAAN sepatu dan pakaian olahraga asal Jerman, Adidas, menyampaikan permintaan maaf setelah kampanye iklannya yang menampilkan mantan tentara Israel, Shalev Biton, memicu kritik dan seruan boikot.
Biton ditampilkan dalam promosi layanan Single-Shoe Service. Kaki kirinya diamputasi setelah mengalami cedera ketika bertugas di militer Israel pada 2021.
Adidas mengakui kampanye tersebut menimbulkan reaksi negatif dari publik. Perusahaan menyebut materi promosi itu dibuat oleh tim lokal Adidas di Israel dan bukan bagian dari kampanye global perusahaan.
"Kami menyadari bahwa gambar yang digunakan dalam aktivasi lokal baru-baru ini oleh tim lokal telah menimbulkan kekhawatiran dan reaksi keras," kata Adidas dalam sebuah pernyataan, menurut laporan Times of Israel.
"Kami tidak pernah bermaksud untuk menyinggung dan kami meminta maaf kepada siapa pun yang terpengaruh," tambah perusahaan itu, menggambarkan promosi tersebut sebagai inisiatif lokal dan bukan bagian dari kampanye global.
Biton merupakan satu dari 11 atlet penyandang disabilitas yang ditampilkan dalam poster promosi yang dipasang di sejumlah toko Adidas di Israel.
Namun, kehadiran Biton dalam kampanye tersebut menuai kritik dari aktivis pro-Palestina. Mereka mempertanyakan keputusan Adidas menggunakan mantan tentara Israel dalam promosi yang berfokus pada penyandang amputasi, terlebih di tengah tingginya jumlah warga Palestina yang kehilangan anggota tubuh akibat perang di Gaza.
Perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang diterbitkan pada Mei menyebut Gaza telah mencatat lebih dari 5.000 kasus amputasi anggota tubuh akibat trauma serta lebih dari 22.000 cedera serius pada ekstremitas sejak Oktober 2023. Anak-anak disebut mencakup hingga seperempat dari mereka yang mengalami cedera yang mengubah kehidupan.
Kritik terhadap Adidas juga datang dari sejumlah tokoh publik. Aktor asal Spanyol Javier Bardem termasuk di antara mereka yang menyerukan agar konsumen memboikot perusahaan tersebut sebagai bentuk protes terhadap kampanye itu.
Adidas menjelaskan bahwa layanan Single Shoe dibuat untuk mendukung inklusivitas. Program tersebut memungkinkan orang dengan perbedaan atau kehilangan anggota tubuh membeli hanya sepatu yang mereka perlukan, tanpa harus membeli sepasang.
Layanan tersebut pertama kali diperkenalkan Adidas di 23 negara Eropa pada Januari. Konsumen dapat membeli satu sepatu dengan harga 50 persen dari harga sepasang sepatu di toko maupun gerai yang dimiliki Adidas.
Menurut perusahaan, pengembangan program dilakukan melalui konsultasi dengan kelompok dan organisasi yang mewakili penyandang disabilitas, termasuk ParalympicsGB.
Adidas mengatakan layanan Single Shoe kini tengah diperluas ke berbagai wilayah, termasuk Eropa, Asia, dan Timur Tengah. Program tersebut juga mencakup sejumlah negara dan wilayah seperti Palestina, Uni Emirat Arab, Libanon, Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dan Mesir.
Perusahaan menegaskan akan melakukan evaluasi terhadap respons publik dan memastikan program tersebut tetap sejalan dengan nilai inklusivitas yang diusungnya.
Adidas mengatakan akan terus mendengarkan, belajar, dan bekerja untuk memastikan bahwa tindakan kami mencerminkan nilai-nilai inklusif yang kami junjung tinggi. (H-4)





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293885/original/003140100_1783758261-10-10.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9292877/original/058508100_1783663395-IMG_2546.jpg)





