Apa langkah selanjutnya dalam penjelajahan langit Planet Merah kita?(AeroVironment)
LIMA puluh tahun setelah pendaratan bersejarah Viking 1 di permukaan Mars, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) kini mengalihkan pandangannya dari pijakan darat menuju wilayah udara Planet Merah.
Pada 20 Juli 1976, pendarat (lander) Viking 1 mencatatkan sejarah dengan mendarat di kawasan Chryse Planitia, sekitar 22,5 derajat di utara khatulistiwa Mars. Langkah ini disusul oleh kembarannya, Viking 2, pada 3 September 1976. Keduanya berhasil menjalankan misi permukaan penuh pertama di Mars, setelah upaya Uni Soviet melalui wahana Mars 3 pada 1971 terhenti karena mati kurang dari dua menit pascapendaratan.
Misi utama Viking adalah mencari tanda-tanda kehidupan. Dari tiga eksperimen yang dilakukan, eksperimen Labeled Release (LR) menunjukkan pelepasan gas karbon dioksida secara konstan dari tanah yang diberi nutrisi, indikasi potensial metabolisme mikroba. Namun, sebagian besar ilmuwan menyimpulkan proses tersebut terjadi akibat reaksi non-biologis. Meski memicu perdebatan panjang, Viking memberikan pelajaran berharga bahwa pencarian kehidupan di luar Bumi memerlukan pemahaman lingkungan Mars yang jauh lebih mendalam.
Hasil yang ambigu dan tingginya biaya operasi membuat NASA sempat menghentikan misi pendaratan selama dua dekade. Kebuntuan baru terpecahkan pada Juli 1997 saat wahana Pathfinder mendarat dan menerjunkan rover Sojourner. Penemuan batu kerikil membulat oleh Sojourner menjadi bukti kuat adanya aliran air di masa lalu. Temuan ini melahirkan strategi baru NASA: "follow the water" (mengikuti jejak air).
Pendekatan tersebut memandu pengiriman rover generasi berikutnya, seperti Spirit dan Opportunity (2004), Curiosity (2012), hingga Perseverance (2021). Seluruh penjelajah ini mengonfirmasi keberadaan lingkungan berair di masa lampau, bahkan menemukan molekul organik kompleks.
Kini, strategi eksplorasi Mars memasuki babak baru berkat keberhasilan helikopter Ingenuity. Mula-mula dirancang sebagai demonstrasi teknologi seharga 80 juta dolar AS untuk menguji penerbangan di atmosfer Mars yang sangat tipis, helikopter berbobot 1,8 kilogram ini melampaui ekspektasi. Dari target awal lima kali penerbangan, Ingenuity berhasil terbang sebanyak 72 kali sejak April 2021 hingga Januari 2024.
Kesuksesan Ingenuity membuka jalan bagi misi helikopter berskala ilmiah. NASA merencanakan misi Skyfall pada 2028, yang akan mengirimkan tiga helikopter sejenis ke Mars menggunakan roket berdaya nuklir.
"Dilengkapi dengan serangkaian instrumen ilmiah, pemandu udara ini akan memetakan endapan es tersembunyi dan menganalisis pola cuaca," tulis pejabat NASA dalam deskripsi misi Skyfall. "Misi ini juga akan mendemonstrasikan bagaimana kendaraan udara dapat menghasilkan peta medan dan bawah permukaan yang luas untuk mengidentifikasi destinasi yang aman dan kaya sumber daya bagi astronaut Amerika di masa depan yang berpetualang ke Mars."
Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA kini tengah merancang helikopter berkapasitas lebih besar untuk mendukung berbagai misi mendalam di Planet Merah. Berawal dari pendaratan bersejarah Viking 1 setengah abad lalu, eksplorasi Mars kini resmi mengangkasa menuju era baru penjelajahan udara. (Space/Z-2)

















































