Tradisi Dulang Pemersatu Masyarakat Muna Raih Rekor Dunia MURI Lewat 1.228 Sajian

4 hours ago 1
Tradisi Dulang Pemersatu Masyarakat Muna Raih Rekor Dunia MURI Lewat 1.228 Sajian Sebanyak 1.228 dulang berisi hidangan tradisional yang disajikan dalam Silaturahmi Akbar Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara di kawasan Eks MTQ dan Tugu Religi Kota Kendari, Minggu (19/7), resmi mengantarkan budaya Muna meraih Rekor(MI/Rahmat Rullah)

Tradisi budaya masyarakat Muna kembali mengukir sejarah. Sebanyak 1.228 dulang berisi hidangan tradisional yang disajikan dalam Silaturahmi Akbar Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara di kawasan Eks MTQ dan Tugu Religi Kota Kendari, Minggu (19/7), resmi mengantarkan budaya Muna meraih Rekor Dunia Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Pencapaian tersebut menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian budaya Nusantara sekaligus memperkenalkan warisan adat masyarakat Wuna kepada dunia internasional.

Ketua Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara, La Ode Darwin, menyampaikan apresiasi atas kerja sama seluruh masyarakat Muna yang berhasil menyukseskan agenda budaya terbesar tersebut. Menurutnya, Silaturahmi Akbar bukan sekadar pertemuan keluarga besar masyarakat Muna, melainkan momentum untuk memperkokoh persatuan sekaligus menunjukkan bahwa budaya lokal mampu menjadi identitas bangsa di tingkat global.

“Hari ini Sulawesi Tenggara menatap dunia melalui budaya. Dulang bukan hanya tempat menyajikan makanan, tetapi simbol persatuan, doa, gotong royong, dan penghormatan yang hidup dalam setiap sendi kehidupan masyarakat Muna,” ujar La Ode Darwin.

Ia mengatakan, keberhasilan menghadirkan 1.228 dulang hingga mendapat pengakuan Rekor Dunia MURI merupakan kebanggaan seluruh masyarakat Muna, sekaligus bukti bahwa tradisi leluhur masih terpelihara dengan baik. Menurut Darwin, dalam setiap prosesi adat Muna, dulang memiliki kedudukan yang sangat penting karena menjadi simbol kebersamaan.

“Satu dulang dinikmati secara bersama-sama oleh 10 hingga 15 orang, bahkan dapat mencapai 30 orang untuk ukuran yang lebih besar. Filosofi inilah yang mengajarkan bahwa masyarakat Muna hidup dalam semangat berbagi, saling menghormati, dan mengutamakan persatuan di atas perbedaan,” katanya.

Ia menegaskan, budaya dulang mampu melebur berbagai kelompok masyarakat tanpa memandang latar belakang sosial maupun kepentingan.

“Dulang adalah simbol pemersatu. Semua duduk bersama menikmati makanan dalam satu wadah sebagai lambang persaudaraan. Nilai ini yang ingin terus kami wariskan kepada generasi muda,” ujarnya.

Rekor Dunia, Bukan Sekadar Rekor Nasional
Penghargaan yang diterima KKMM Sultra bukan sekadar pencatatan rekor nasional. Utusan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) yang hadir langsung di lokasi menyampaikan bahwa setelah proses verifikasi dan penghitungan menyeluruh dilakukan, jumlah dulang mencapai 1.228, melampaui target awal panitia sebanyak 1.200 dulang. Dengan capaian tersebut, MURI menetapkan penyajian dulang masyarakat Muna sebagai Rekor Dunia. Perwakilan MURI menjelaskan bahwa penghargaan diberikan untuk kategori “Ritual Haroa dengan Sajian Makanan Menggunakan Dulang Terbanyak.”

Menurut MURI, dulang bukan sekadar wadah makanan, tetapi merupakan simbol doa, harapan, penghormatan kepada tamu, serta semangat kebersamaan yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Muna.

Ribuan Warga Padati Eks MTQ Kendari
Silaturahmi Akbar KKMM Sultra mengusung tema “Merajut Persaudaraan, Melestarikan Adat dalam Semangat Kawunaha yang Luhur Menuju Indonesia Emas 2045.” Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 10.000 peserta, terdiri atas keluarga besar masyarakat Muna dari berbagai kabupaten dan kota, tokoh adat, akademisi, pejabat pemerintah, pemuda, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Ketua Panitia Pelaksana Bariun, mengatakan keberhasilan penyelenggaraan kegiatan merupakan hasil gotong royong seluruh elemen masyarakat.

“Keberhasilan ini bukan hanya tentang jumlah dulang, tetapi keberhasilan menjaga semangat persaudaraan masyarakat Muna. Nilai-nilai Kawunaha tetap hidup dan menjadi kekuatan kita bersama,” katanya.

Menampilkan Tradisi Wuna yang Mulai Langka
Selain pemecahan Rekor Dunia MURI, masyarakat juga disuguhkan berbagai atraksi budaya Wuna yang kini mulai jarang ditampilkan. Rangkaian kegiatan diawali dengan Kabasano Haroa, ritual doa bersama sebagai ungkapan syukur dan permohonan keselamatan. Selanjutnya dipentaskan berbagai kesenian dan tradisi khas Muna, di antaranya: ewa wuna yaitu seni bela diri tradisional masyarakat Muna, modero yang berwujud tarian pergaulan yang mempererat persaudaraan, serta kantola atau tradisi berbalas pantun menggunakan bahasa Muna. Ada pula kambero atau perkelahian kuda, atraksi budaya yang menggambarkan ketangkasan, keberanian, dan sportivitas, lariangi, tarian adat yang menjadi simbol keanggunan perempuan Muna, serta tari linda, tarian tradisional yang menampilkan keindahan gerak dan kekompakan para penari. Penampilan tersebut mendapat sambutan meriah dari ribuan pengunjung yang memadati kawasan Eks MTQ Kendari.

Dorong Budaya Muna Mendunia
La Ode Darwin berharap keberhasilan meraih Rekor Dunia MURI menjadi titik awal semakin dikenalnya budaya Muna di tingkat internasional. Ia menilai Pulau Muna memiliki kekayaan budaya dan peradaban yang luar biasa, termasuk situs prasejarah Liang Kobori, yang dikenal sebagai salah satu kawasan dengan lukisan gua tertua di dunia berdasarkan hasil penelitian ilmiah. Menurutnya, kekayaan budaya tersebut harus menjadi modal utama dalam mengembangkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif masyarakat.

“Melalui kegiatan ini kami ingin dunia mengetahui bahwa Muna memiliki warisan budaya yang luar biasa. Tidak hanya tradisi dulang, tetapi juga seni, adat, hingga situs prasejarah yang menjadi kebanggaan Indonesia. Kami berharap budaya Muna semakin dikenal dunia dan mampu mendorong kemajuan pariwisata di Pulau Muna maupun Muna Barat,” pungkas La Ode Darwin.

Keberhasilan Silaturahmi Akbar KKMM Sultra beserta pencatatan 1.228 dulang sebagai Rekor Dunia MURI menjadi bukti bahwa pelestarian budaya lokal tidak hanya memperkuat identitas daerah, tetapi juga mampu mengangkat nama Sulawesi Tenggara di panggung nasional hingga internasional. (X-6)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |