Tokoh Teater Yogyakarta Genthong HSA Tutup Usia

19 hours ago 1

Pendiri Sanggar Anom di Yogyakarta, Genthong Hariono Selo Ali (HSA) tutup usia pada umur 81 tahun, Senin, 27 Juli 2026 pukul 13.26 di Rumah Sakit Umum Pusat Sardjito di Sleman, Yogyakarta. Genthong dikenal sebagai salah satu tokoh, empu teater di era 1970 hingga 1990-an.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ia dimakamkan di Taman Makam Seniman dan Budayawan Giri Sapto di Bukit Gajah, Desa Giri Rejo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Selasa, 28 Juli 2026. Ia meninggalkan seorang istri, dua anak, menantu dan dua cucu.

Menurut Ani Himawati, anak didik Genthong di Sanggar Anom, Genthong sudah lama sakit. Sebelumnya ia rutin menjalani cuci darah. “Sudah sering opname setelah lebaran lalu,” kata Ani saat ditemui Tempo di rumah duka di Dusun Donotirto, Kelurahan Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul, Senin, 27 Juli 2026 malam.

Menggembleng Kehidupan Seni dan Keseharian di Sanggar

Genthong adalah seniman serba bisa. Selain dikenal sebagai dramawan, dia juga seorang penulis novel dan cerpen, penyair, juga pelukis. Ani mengenalnya saat berkecimpung di Sanggar Anom pada 1992.

Genthong mendirikan sanggar untuk mewadahi para pelajar dari berbagai SMA yang mengikuti lokakarya teater yang diadakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan DIY pada 1980-an. Ia melatih bersama Untung Basuki.

Dari sanggar tersebut, lahirlah sejumlah nama pesohor. Seperti sutradara Hanung Bramantyo, pemain teater almarhum Gunawan Maryanto. “Kami adalah generasi terakhir yang mengalami kehidupan di sanggar. Setelah itu lebih banyak berdiri teater-teater kampus,”ujar Ani yang berlatih hingga enam tahun di sanggar itu.

Menurut Ani, berlatih di sanggar sangat berbeda dengan berlatih di kelompok teater. Di sanggar, mereka yang berkecimpung di dalamnya tak hanya berlatih seni pertunjukan, tetapi juga  kehidupan. Mereka harus tinggal beberapa waktu di sanggar yang berada di Dusun Sendowo, tak jauh dari kampus Universitas Gadjah Mada. ”Ibarat nyantrik di sebuah padepokan,” ujar Ani.

Di sana para remaja SMA itu berlatih hingga tengah malam. Esoknya, mereka bangun dan kembali berangkat ke sekolah masing-masing dengan mengenakan seragam. Pulang sekolah, kembali ke sanggar lagi.

Mereka juga dilatih tanggung jawab untuk mengurus lokakarya yang akan digelar. Genthong menggembleng mereka untuk mengurus pementasan teater dari persiapan hingga usai, saban delapan bulan sekali.

Saat ada pementasan teater di Yogyakarta, Genthong mengajak mereka untuk menonton. Bertemu dengan para seniman-seniman tersohor. “Makanya pesan Pak Genthong, jadi apapun kami nanti, jadilah orang yang istimewa,” tutur Ani mengenang gurunya.

Di sanggar, para remaja ini juga dilatih mengerjakan kegiatan sehari-hari laiknya di rumah sendiri. Diberi tanggung jawab untuk mencuci, memasak, bersih-bersih sanggar, makan dan tidur di sana.“Serasa seperti di shaolin temple,” celetuk Ani.

Selama mereka berlatih dan tinggal di sana, sanggar tak pernah diterangi dengan nyala listrik. Ani menduga itu bagian dari kesengajaan Genthong dalam melatih tanggung jawab kehidupan itu. Tak heran, menjelang petang tiba, mereka ada yang bertugas berbelanja minyak untuk menyalakan petromaks atau lampu minyak.  

Pilihan editor:

Hanung Bramantyo Tertantang Bikin Set Bumi Manusia Seperti Novel

Kesan Whani dan Keinginan Mendokumentasikan Naskah

Dramawan Whani Darmawan pun punya menyimpan kenangan berkesan selama turut serta membantu proses pelatihan di sanggar. Ia membangun pengalaman berkesenian dan kehidupan sehari-hari dengan disiplin dan komitmen. Ia tak segan-segan memberi sanksi bagi yang tidak disiplin. Contohnya ia memberi hukuman push up bagi yang terlambat, usai mandi harus mengisi kembali bak mandi dengan menimba air sumur.

Namun di balik sikap keras, Genthong juga menunjukkan kelembutannya. Saat larut malam, ia bangun untuk mengecak anak-anak didiknya yang tidur berjejer seperti ikan bandeng itu. Lalu menyelimuti mereka satu persatu yang belum berselimut.

“Itu sangat mengesankan bagi saya,” kenang pemeran Darsam dalam film Bumi Manusia itu.

Jiwa petualangan Genthong muda membawanya hingga ke Eropa. Di usia senjanya, jiwa petualannya pun masih membara. Kira-kira 10 tahun lalu, ia pun mengendari mobil sendiri ke Gorontalo. Saat kondisi tubuh membaik tiap kali usai cuci darah, Genthong pun memilih untuk bepergian dengan motornya. Menghabisan waktu untuk menyambangi teman-teman dan anak didiknya di Sanggar Anom dulu.

“Masa mudanya kan suka mengembara, saat  tua disuruh diam juga susah. Nggak bisa dilarang naik motor. Dia sangat menikmati perjalanan,” tutur Whani.

Sebelum Genthong pergi pun, Whani sempat berkeinginan  untuk membukukan naskah-naskah teater yang ditulisnya. Salah satu yang mengesankan Whani adalah naskah berjudul Perang Sunyi, Sunyi Perang yang dipentaskan sepulang Genthong dari Jerman pada 1980. Naskah itu diperankan tiga orang selama tiga jam di Gedung Senisono di Yogyakarta.

Sejumlah naskah karya Genthong yang mendapat penghargaan. Seperti naskah Ciut Pas Sesak Pas yang mendapat peringkat III lomba penulisan naskah drama Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), peringkat pertama lomba penulisan naskah drama Taman Budaya Yogyakarta (TBY) untuk karya berjudul Sang Naga dan Harimau.

Sayangnya, naskah-naskah drama itu banyak yang raib entah di mana. Masa-masa itu belum terpikirkan untuk mendokumentasikannya. “Saya tanya di mana, ya enggak tahu. Nyarinya susah. Kalau ada, mau diterbitkan,” kata Whani yang berharap suatu saat ikhtiar itu bisa diwujudkan oleh generasi-generasi teater masa kini. 

 Pilihan editor:

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |