Sandera yang dibebaskan tuding Israel sebabkan kematian tawanan Gaza

1 month ago 46

Istanbul (ANTARA) - Seorang sandera Israel yang telah dibebaskan menyalahkan pemerintah Pemimpin Otoritas Benjamin Netanyahu atas kematian sejumlah tawanan di Jalur Gaza.

Dia menyatakan bahwa perang Israel telah mengubah wilayah tersebut menjadi “neraka murni” bagi semua orang di dalamnya.

Dalam kesaksiannya di hadapan Dewan Keamanan PBB pada Selasa malam, Noa Argamani menuding pemerintah Israel bertanggung jawab atas kematian sandera Shiri Bibas, kedua anaknya, serta temannya, Yossi Sharabi.

Ia mendesak komunitas internasional dan pemerintah Israel untuk segera mengambil langkah guna membebaskan semua tawanan yang masih berada di Gaza.

Argamani bersama tiga sandera lainnya dibebaskan pada Juni tahun lalu dalam sebuah serangan militer Israel yang menewaskan sedikitnya 274 orang dan melukai hampir 700 lainnya di kamp pengungsi Nuseirat, Gaza tengah.

Menurutnya, para tawanan Israel tetap hidup selama dalam penyanderaan dan mengalami langsung dahsyatnya serangan udara Israel terhadap wilayah Palestina tersebut.

Argamani menegaskan bahwa Sharabi masih hidup ketika ditangkap oleh kelompok Hamas pada Oktober 2023, namun kemudian tewas akibat serangan udara Israel, sebagaimana yang terjadi pada keluarga Bibas. I

Argamani menegaskan bahwa mereka semua tewas tertimbun reruntuhan akibat pemboman.

"Suatu malam, rumah tempat kami ditahan dihancurkan oleh serangan bom. Kami terjebak di tengah kehancuran... Yossi dan aku tertimbun puing-puing. Aku tidak bisa bergerak, tidak bisa bernapas. Aku pikir itu adalah detik terakhir dalam hidupku," kenangnya.

"Aku juga mendengar Yossi berteriak. Namun, beberapa saat kemudian, suaranya menghilang. Aku berhasil ditarik keluar dari reruntuhan dan mencoba membantu Yossi, tetapi sudah terlambat."

Seruan untuk pembebasan tawanan

Argamani menyerukan kepada komunitas internasional dan otoritas Netanyahu untuk segera membebaskan seluruh sandera yang masih ditahan.

“Kita harus segera mengakhiri tragedi mengerikan ini,” ujarnya. “Kesepakatan (Gaza) harus berjalan sepenuhnya hingga tahap akhir.”

Ia juga mengungkapkan kekecewaannya karena tidak termasuk dalam kelompok pertama sandera yang dibebaskan setelah 50 hari perang, maupun dalam kategori lain yang dijadwalkan untuk dibebaskan.

“Aku tertinggal. Aku tidak termasuk dalam kategori mana pun untuk dibebaskan. Aku bahkan tidak bisa menggambarkan bagaimana rasanya menjadi orang yang ditinggalkan.”

Kesaksiannya merupakan seruan agar pemerintah Israel menghormati perjanjian gencatan senjata di Gaza dengan Hamas dan melanjutkan tahap kedua kesepakatan guna membebaskan pasangannya, Avinatan Or, yang masih ditawan di Gaza.

Tahap pertama kesepakatan Gaza mulai berlaku pada 19 Januari, menghentikan sementara perang Israel yang telah menewaskan lebih dari 48.300 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza.

Sejauh ini, 25 sandera Israel dan empat jenazah telah dipulangkan dari Gaza dengan imbalan ratusan tahanan Palestina dalam tahap pertama perjanjian gencatan senjata.

Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan Kepala Pertahanan, Yoav Gallant, atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Israel juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas perang yang dilancarkannya di wilayah tersebut.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Israel tingkatkan kesiapan pasukan di Jalur Gaza setelah eskalasi

Baca juga: Kenapa Israel tunda pembebasan tahanan Palestina?

Baca juga: Qatar soroti "atmosfer positif" jelang negosiasi tahap 2 gencatan Gaza

Penerjemah: Primayanti
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2025

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |