Prancis Tolak Usulan Penangguhan Spanyol akibat Krisis Migran Maroko

5 hours ago 1
Prancis Tolak Usulan Penangguhan Spanyol akibat Krisis Migran Maroko Ilustrasi(Anadolu)

MENTERI Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, menyatakan penolakan keras terhadap usulan penangguhan atau keluarnya Spanyol dari Perjanjian Schengen. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas krisis migrasi hebat yang saat ini melanda wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, Ceuta.

Dalam konferensi pers yang digelar pada Sabtu (1/8/2026), Nunez menegaskan posisi Prancis yang tetap mendukung integritas wilayah Schengen. Ia menilai wacana mengeluarkan Spanyol dari zona bebas paspor tersebut sebagai langkah yang tidak masuk akal.

"Spanyol tidak boleh keluar dari Kawasan Schengen. Itu sama sekali tidak mungkin," tegas Nunez di hadapan awak media.

Selain menolak usulan penangguhan tersebut, Nunez menekankan bahwa hubungan antara Paris dan Madrid tetap solid. Ia memastikan bahwa koordinasi keamanan dan politik antara kedua negara tidak terganggu oleh situasi di perbatasan selatan Eropa tersebut.

Nunez menambahkan bahwa hubungan bilateral dan kerja sama antara Prancis dan Spanyol tetap terjalin dengan sangat baik, terutama dalam menghadapi tantangan keamanan regional.

Tekanan dari Negara Anggota Uni Eropa

Sikap tegas Prancis ini merupakan jawaban atas desakan dari sejumlah negara anggota Uni Eropa lainnya. Pada Jumat (31/7), negara-negara seperti Italia, Ceko, Finlandia, dan Denmark secara terbuka menyerukan penangguhan keanggotaan Spanyol dalam Perjanjian Schengen.

Desakan tersebut dipicu oleh ketidakmampuan membendung gelombang imigran dari Maroko yang memasuki Ceuta dalam jumlah besar. Para pengusul berpendapat bahwa kebocoran perbatasan di Ceuta dapat mengancam keamanan kolektif negara-negara Schengen lainnya jika tidak ada tindakan drastis.

Krisis Migrasi di Ceuta

Ceuta, bersama dengan Melilla, merupakan wilayah kantong Spanyol yang terletak di pesisir utara Afrika. Wilayah ini memiliki posisi strategis sekaligus rentan karena berbatasan langsung dengan Maroko, menjadikannya satu-satunya perbatasan darat antara Uni Eropa dan benua Afrika.

Kondisi geografis ini sering dimanfaatkan sebagai jalur utama migrasi ilegal menuju Eropa. Namun, dalam beberapa hari terakhir, tekanan migrasi di Ceuta dilaporkan mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Berdasarkan data dari otoritas Spanyol, diperkirakan puluhan ribu imigran telah melintasi perbatasan secara ilegal dan memasuki wilayah tersebut dalam waktu singkat. Situasi ini memicu ketegangan diplomatik dan kemanusiaan yang memaksa Uni Eropa untuk mempertimbangkan langkah-langkah darurat di perbatasan luar mereka. (Ant/I-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |