Pertamina Lifting Perdana B50 sebanyak 12.830 Kiloliter

1 day ago 9

PT PERTAMINA Patra Niaga mulai mendistribusikan Biosolar 50 (B50) setelah Presiden Prabowo Subianto meluncurkan implementasi nasional bahan bakar tersebut pada 9 Juli 2026. B50 merupakan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) dan 50 persen solar.

Pertamina Patra Niaga mencatat lifting perdana B50 sebanyak 12.830 kiloliter (KL) dari dua kilang. Pengiriman pertama dilakukan dari Kilang Kasim pada 18 Juli 2026 sebanyak 4.600 KL menuju MT Krasak. Selanjutnya, Kilang Plaju mengirimkan 8.230 KL ke Integrated Terminal (IT) Palembang pada 22 Juli 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora mengatakan lifting perdana tersebut menjadi tonggak awal implementasi program B50. Menurut dia, langkah itu merupakan bagian dari dukungan perusahaan terhadap program swasembada energi pemerintah.

"Lifting perdana B50 oleh Kilang Kasim dan Kilang Plaju merupakan salah satu milestone penting yang menandai langkah nyata Pertamina Patra Niaga dalam memperkuat kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan energi nasional, khususnya melalui implementasi B50 yang dicanangkan pemerintah," kata Kitty melalui keterngan tertulis, Jumat, 24 Juli 2026.

B50 yang telah dikirim dari kedua kilang selanjutnya akan didistribusikan ke SPBU di wilayah Indonesia Barat dan Indonesia Timur. Sebelum distribusi, kata dia, Pertamina menyiapkan fasilitas dan infrastruktur pendukung, sistem pengendalian mutu, serta aspek keselamatan operasi.

"Proses pencampuran solar dan FAME dilakukan secara bertahap hingga memenuhi komposisi sesuai spesifikasi," kata dia.

Setelah proses blending, produk B50 menjalani pengujian laboratorium untuk memastikan kualitasnya memenuhi spesifikasi yang ditetapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Setelah lolos pengujian, B50 dikirim ke Fuel Terminal sebelum didistribusikan ke SPBU.

Kitty berharap implementasi B50 memberi manfaat ekonomi melalui pengurangan impor solar sekaligus mendukung penurunan emisi gas rumah kaca. "Program ini diharapkan mampu menekan ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak," kata Kitty.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |