Jakarta, CNN Indonesia --
Langkah Presiden China Xi Jinping melakukan pembersihan besar-besaran di tubuh militer dinilai mencerminkan penekanan yang semakin kuat pada loyalitas pribadi dalam struktur kekuasaan.
Kebijakan tersebut dinilai tidak semata-mata didorong oleh isu korupsi, melainkan juga oleh kebutuhan untuk memastikan kesetiaan politik di tingkat tertinggi militer.
Sejumlah analis menilai, pembersihan terhadap perwira tinggi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) mengejutkan banyak pihak, baik di dalam maupun luar China. Namun, penyebabnya tidak selalu terkait dengan penentangan terbuka terhadap Xi, melainkan karena standar loyalitas yang semakin ketat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Presiden Xi kini menempatkan loyalitas pribadi, keseragaman ideologis, dan kepatuhan simbolik terhadap pemimpin sebagai elemen utama dalam struktur kekuasaan," ucap Chandu Doddi, peneliti studi China dari Jawaharlal Nehru University di New Delhi, India.
"Dalam konteks ini, bahkan ketidaknyamanan terhadap kultus personal dapat dianggap sebagai risiko politik," sambungnya.
Media militer China dalam beberapa tahun terakhir secara konsisten menekankan pentingnya loyalitas kepada Xi. Narasi resmi menegaskan bahwa militer harus "sepenuhnya dan menyeluruh melaksanakan sistem tanggung jawab ketua Komisi Militer Pusat (CMC)," dengan penekanan pada kepatuhan langsung kepada Xi sebagai pemimpin inti.
"Militer diharapkan menunjukkan loyalitas kepada Xi sebagai figur politik utama, bukan sekadar kepada institusi negara secara abstrak," tutur Doddi.
Pemantauan loyalitas
Penekanan ini juga diperkuat oleh doktrin resmi Partai Komunis China. Dalam Kongres Partai ke-20, Pemikiran Xi Jinping ditegaskan sebagai kerangka utama bagi partai dan negara, sekaligus dimasukkan secara eksplisit dalam piagam partai.
Hal ini menjadikan kepatuhan politik tidak hanya sebagai kewajiban administratif, tetapi juga sebagai ujian ideologis.
Dalam konteks tersebut, tuduhan korupsi terhadap perwira PLA dinilai memiliki fungsi lebih luas.
"Selain sebagai upaya penegakan disiplin, tuduhan tersebut juga berperan sebagai sinyal politik kepada jajaran militer bahwa loyalitas terus dipantau dan jaringan alternatif berpotensi menjadi sasaran," ungkap Doddi.
Sejumlah lembaga analisis, termasuk Jamestown Foundation, menilai bahwa pembersihan berulang di tubuh PLA dapat melemahkan faksi internal, tetapi pada saat yang sama memperkuat kontrol Xi. Hal ini menunjukkan hubungan erat antara konsolidasi kekuasaan dan rasa ketidakamanan dalam sistem tersebut.
Dalam situasi seperti itu, bahkan sikap yang tidak secara eksplisit mendukung kultus kepemimpinan dapat ditafsirkan sebagai bentuk ketidaksetiaan. Jarak simbolik terhadap Xi dapat menjadi indikator risiko dalam sistem politik yang sangat terpusat.
Kemiripan dengan era Mao Zedong
Fenomena ini juga memicu perbandingan dengan era Mao Zedong. Sejumlah pengamat di China dan Hong Kong menilai citra publik Xi menunjukkan kemiripan dengan kultus personal pada masa Mao, yang masih menyisakan trauma dalam memori institusional.
Budaya politik elite di China dinilai masih menyimpan ingatan terhadap dampak personalisasi kekuasaan terhadap tata kelola pemerintahan dan profesionalisme militer. Oleh karena itu, sebagian kalangan, khususnya generasi lama dalam militer, disebut tidak sepenuhnya nyaman dengan tren tersebut.
Namun, analisis tersebut menegaskan bahwa makna utama dari pembersihan ini bukan terletak pada kasus individu, melainkan pada pola yang ditunjukkannya.
Menurut Doddi, politik militer China saat ini semakin bergantung pada loyalitas yang bersifat publik, kepatuhan ideologis, serta bentuk-bentuk dukungan simbolik terhadap pemimpin.
Dalam konteks tersebut, setiap indikasi jarak terhadap figur Xi, baik secara nyata maupun simbolik, berpotensi dipandang sebagai ancaman dalam struktur kekuasaan yang semakin terpusat.
(dna)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
2
















































