Pameran Seni Jakarta Provoke! 2026, Seniman Membaca Jakarta

2 hours ago 3

Di salah satu sudut Taman Menteng Sabtu malam, 18 Juli 2026 itu cukup ramai. Beberapa anak-anak tampak asyik dan gembira bermain ular tangga raksasa, ditemani orangtuanya yang menunggui di pinggir arena. Salah satu anak terlihat melemparkan kotak dadu dan bergerak berlari sesuai angka yang keluar dari sisi dadu besar itu. Karya ular tangga berukuran 8 x 8 meter ini berjudul Mengadu Nasib, Naik Karena Tangga, Turun Karena Ular, Jakarta yang Terus Bermain. Sebuah karya dari seniman kelahiran Sleman Yogyakarta, yang tinggal di Jakarta, Deskamtoro. Karya Deskamtoro dikuratori Agung R. Prakasa.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Karya ini bersebelahan dengan instalasi karya Ade Artie di air mancur dengan wujud tubuh perempuan yang terdistorsi. Wajahnya tak dikenali, tubuhnya berdiri sedikit membungkuk dikelilingi instlasi resin transparan. Pada malam hari tersorot lampu memperlihatkan tampilan yang berbeda. Terlihat mewah tetapi rapuh.

Sedikit melangkah di antara dua rumah kaca, sebuah instalasi dua badan becak dengan sebuah alat permainan seperti bidak-bidak ludo untuk dimainkan dua atau tiga orang. Di bagian belakang becak berhias miniatur gambar-gambar rumah kumuh sesak berhimpitan. Mengingatkan pemandangan rumah-rumah di bantaran kali. Karya ini adalah karya Jimmy Silaen dengan kurator Saut Marpaung.

Pengunjung mengamati karya dalam pameran seni rupa kontemporer luar ruang bertajuk "Jakarta Provoke!" di Taman Menteng, Jakarta, 17 Juli 2026. Tempo/Muhammad Zaki Fauzi

Di bagian belakang taman yang berdekatan dengan area permainan dan olahraga, anak-anak bermain dengan gembira. Berlarian ke sana kemari di antara karya-karya berbahan sampah plastik. Beberapa orang tua terlihat duduk -duduk di rerumputan. Karya instalasi  berbentuk seperti cakar ayam, sayap ayam atau kepala ayam berbahan plastik. Karya Ary Okta ini di letakkan cukup tersebar dalam ukuran beragam.

Beberapa karya ini merupakan karya empat dari 25 seniman yang dikurasi oleh 25 perupa dalam pameran bertajuk "Jakarta Provoke! 2026" yang berlangsung di Taman Menteng sejak 17-26 Juli 2026. Karya-karya para perupa tersebut di tampilkan di ruang  terbuka dan tertutup.  Ada dua ruang tertutup yang dipakai dalam pameran ini yaitu: Gedung Kaca 1, dan Gedung Kaca 2, di mana masing-masing gedung  ditempatkan lima karya perupa. Sedangkan di ruang terbuka ditampilkan  patung dan proyek instalasi di sejumlah titik Taman Menteng karya dari 15 perupa.

Pameran ini diselenggarakan oleh Yayasan Artpora Jakarta Provoke bekerja sama dengan beberapa Dinas Kebudayaan, dan dinas lainnya. Para seniman atau perupa menghadirkan satire, kritik atas Jakarta, lingkungan dan manusia di dalamnya.

Di ruang kaca 1 dan 2 beberapa seniman menampilkan karya-karya mereka. Seperti Cecil Maryani yang karya abstraknya dikuratori Ibrahim Soetomo atau Zamrud Setya Negara yang dikuratori . Karya Zamrud yang berbasis sketsa tampil dalam lukisan cat minyak. Beberapa lukisannya mengambil wajah-wajah beberapa titik tempat di ibukota, seperti lanskap di seputar Bundaran Hotel Indonesia dengan gedung-gedung dan halte busnya yang megah.  Ia memberi judul karyanya Menjual Kavling Jakarta!. Karyanya cukup memprovokasi dengan tampilan seperti perusahaan properti menjajakan iklan propertinya. “Konsepnya memang seperti orang jualan properti dan ini memang dijual,” ujar Zamrud kepada Tempo,  Juli 2026.

Banyak pengunjung mengerubungi karya  Sri Hardana yang mengajak untuk berinteraksi. Karya Sri Hardana berupa panel-panel yang berisi ramalan berjudul Eskatologi Harapan. Beberapa keluarga terlihat bermain,  memusatkan perhatian pada pertanyaan yang dipilih, lalu melemparkan anak panah ke arah simbol-simbol pada angka di panel pertanyaan yang memuat tentang nasib, karier, cinta, keinginan dan sebagainya. Angka yang tertancap dicocokkan jawabannya pada panel lainnya. Menurut Sri Hardana, permainan tersebut bukan sekadar karya tentang Primbon, nasib, atau permainan simbolik belaka. Ia adalah refleksi tentang manusia modern yang terus mencari arah di tengah dunia yang kehilangan kepastian.

Pengunjung mengamati karya dalam pameran seni rupa kontemporer luar ruang bertajuk "Jakarta Provoke!" di Taman Menteng, Jakarta, 17 Juli 2026. Tempo/Muhammad Zaki Fauzi

Edukasi Untuk Publik dan Seniman

Revoluta Syafri, Ketua Pelaksana Jakarta Provoke! 2026 mengatakan menampilkan karya para seniman di ruang publik seperti di Taman Menteng cukup menantang, karena cukup luas areanya dan ada dua gedung kaca. Ia harus menyiasati hal-hal teknis di lapangan baik untuk area luar ruangan dan dalam ruangan. Tapi baginya hal itu bisa dikendalikan. Yang menjadi perhatiannya adalah mengajak para seniman berani memajang karyanya di tempat umum dan memperkenalkan para seniman dan karyanya yang selama ini dikenal di galeri-galeri. Selama ini juga ada kekhawatiran para seniman atau perupa ketika publik menonton atau memperlakukan karya mereka.

“Kali ini kami bawa mereka ke sini, biar berani juga menampilkan karya di tempat publik dan ini acara gratis. Kalau tidak dimulai sekarang mau kapan lagi,” ujar Revoluta kepada Tempo pada 20 Juli 2026.

Karya-karya seniman ini dipajang di tersebar di taman, selain untuk mengenalkan seni kepada masyarakat, juga memberikan edukasi baik kepada masyarakat dan senimannya. Pameran ini juga menjadi ruang percakapan bagi seniman dan masyarakat tentang karya-karya mereka, memantik diskusi kritis juga tentang situasi kota yang tertuang dalam karyanya. Panitia juga mengedukasi masyarakat, anak-anak sekolah dengan beragam lokakarya.Mereka belajar membuat karya seni dengan beberapa medium yang disediakan panitia.

Laras, seorang ibu muda bersama putrinya berumur lima tahunan juga ikut menikmati acara di Taman Menteng ini. Warga Jakarta Timur ini cukup senang bisa menikmati karya seni para seniman di ruang publik ini. Dengan pameran ini ia  sedikit banyak mengenalkan seni dan pendidikan kepada putrinya.”Ya mungkin dia belum akan paham betul ya dengan bentuk-bentuk karya dan maksudnya, tapi dari salah satu karya misalnya yang terbuat dari sampah itu bisa mengajarkan tentang kebersihan, tidak buang sampah,” ujarnya.

Dari pantauan Tempo, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bagaimana mengapresiasi atau memperlakukan karya yang dipajang. Contohnya beberapa orang tua atau orang dewasa dan anak-anak masih menyentuh-nyentuh atau meraba lukisan yang dipajang. Banyak anak-anak kecil yang tiba-tiba berlari menyentuh dan meraba lukisan karena melihat ada obyek seperti mobil atau gedung di lukisan.

Tempo juga sempat melihat seorang anak menunggangi vespa dalam yang menjadi medium  karya Kusmei Santo yang berjudul Daya Tahan dalam Rangka Besi dan Ingatan yang dipamerkan. Si orang tua menyuruh putra kecilnya berfoto naik vespa tersebut. Akibatnya para staf pun tergopoh-gopoh memberitahu anak dan ibunya. Saat itu memang tidak ada penanda,  pembatas atau teks yang menjelaskan bahwa karya tidak boleh disentuh kecuali memang diperbolehkan.

Asikin Hasan, Kepala kurator Jakarta Provoke! 2026 menjelaskan Jakarta Provoke! sejak awal memang mempunyai konsep menghadirkan seni di ruang publik, tapi sejak awal dirinya mengajak para seniman untuk bertemu di Taman Menteng. “Selain untuk survei tempat juga saya anjurkan seniman dan kurator untuk melihat apa saja yang menarik perhatian mereka, masalah transportasi, urbanisasi, hunian, kemiskinan, polusi, kemacetan dan sebagainya untuk ide berkarya,”ujar Asikin kepada Tempo, Selasa, 21 Jui 2026.

Dari sini, ia mengajak mereka ‘mendalami dan mengalami’ Jakarta sebagai ruang berada dan menjadi tantangan global di depan mata. Dari sanalah lahir gagasan-gagasan dan karya yang mereka buat untuk ditampilkan di Taman Menteng ini. Menurutnya penting bagi para seniman dan kurator mengalami sesuatu dari modernitas di sekelilingnya

 Pilihan editor:

Kritik Seniman untuk Jakarta

Karya-karya para seniman yang dipajang di area public ini cukup menarik dielaborasi. Dari karya instalasi, patung dan lukisan, para seniman menghadirkan pembacaan atas kota yang mereka tinggali. Terselip nada getir atas situasi, kondisi yang  melintas dari memori dan kenyataan yang mereka hadapi dalam keseharian masyarakat Jakarta. Mereka cukup kritis melihat ibukota dengan karya-karyanya.

Seperti karya Deskamtoro, dengan karya ular tangga- mungkin orang dengan mudah mencerna tentang ruang bermain anak di kota metropolitan ini. Hak atas ruang anak-anak yang terampas dengan laju pembangunan hanya menyisakan gang-gang kecil atau sudut-sudut kampung atau bahkan trotoar dan jalanan sebagai tempat mereka bermain. Karyanya menjadi medium bermain, berinteraksi, mendekatkan tubuh satu dengan lain hadir kembali di ruang-ruang yang telah terampas.

Ular tangga ini dihadirkan menjadi sebuah metafora penting untuk membaca Jakarta, yang terus naik, terus cepat, dan mengharuskan siapapun untuk mencapai sesuatu. Deskamtoro menghadirkan tangga sebagai simbol tentang ambisi, percepatan, pencapaian, dan harapan untuk segera sampai di tujuan. Namun di saat yang sama, ular dihadirkan sebagai sebuah rintangan yang sewaktu-waktu dapat menjatuhkan kembali ke bawah. Kehidupan urban di Jakarta ini berjalan pada logika permainan ini, penuh cepat, kompetisi, dan selalu berkutat pada ketidakpastian

Ade Artie  dengan dampingan kurator Diaz Ramadhansyah membongkar paradoks Jakarta sebagai kota yang terus mempercantik permukaan visualnya sambil perlahan kehilangan stabilitas ekologis di bawahnya. Taman kota, air mancur, ruang hijau, dan proyek  revitalisasi menghadirkan kesan keteraturan sekaligus menutupi tekanan ruang yang terus bergerak di bawah permukaan. Tekanan itu seperti penurunan muka tanah, eksploitasi air tanah, banjir rob, masalah air bersih, dan kepadatan infrastruktur berlangsung bersamaan dengan upaya mempertahankan citra metropolitan yang stabil. Ia juga mencoba menghadirkan kegagalan kota menghadapi budaya instan hingga masalah lingkungannya.

Narasi kritis yang hampir sama dihadirkan oleh Ary Okta dengan karya Playground Kota: Pitik Kota di Ruang yang Dipermainkan. Karya Ary Okta Kota hari ini adalah ruang bermain yang paradoks. Ia tampak bersih, teratur, aman, dan penuh fasilitas, namun di balik itu menyimpan lapisan ekologis yang rapuh. Plastik, material sintetis, dan sisa konsumsi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan urban. Pembacaan kritis terhadap ruang publik urban, ruang bermain anak sebagai cermin ekologi urban hari ini. Playground yang seharusnya menjadi ruang bermain alami, perlahan berubah menjadi ruang yang steril, sintetis, dan terputus dari relasi ekologis.

Dalam catatan kuratorialnya, Jakarta dalam karya Jimmy hadir sebagai ruang yang diperebutkan, dinegosiasikan, dan disiasati oleh masyarakat kecil untuk tetap hidup. Pendekatan tersebut sangat terasa dalam proyek Trilogi Transportasi Urban Jakarta, yang menjadikan Metro Mini, Bajaj, dan Becak sebagai simbol utama pembacaan kota. Ketiga moda transportasi itu dipilih bukan hanya karena bentuk visualnya yang ikonik, tetapi karena memiliki hubungan emosional dan historis dengan kehidupan masyarakat Jakarta.

Karya berjudul Bersiasat #2, Becak – Ruang Publik,becak tidak lagi diposisikan sebagai alat transportasi, melainkan sebagai metafora sosial-politik tentang masyarakat urban yang terus dipaksa bertahan hidup. Becak yang dahulu bergerak kini berhenti. Namun justru dalam posisi diam itulah ia memperoleh fungsi baru sebagai ruang temu, ruang percakapan, ruang bermain, dan ruang sosial alternatif.

Di atas becak berdiri miniatur rumah-rumah padat kaum urban yang saling berhimpitan. Visual ini menjadi simbol kuat tentang masyarakat pinggiran yang hidup di bawah tekanan kota metropolitan. Namun Jimmy tidak memposisikan mereka sebagai korban pasif. Sebaliknya, mereka digambarkan sebagai kelompok sosial yang justru menopang denyut ekonomi Jakarta: pengemudi, buruh, pedagang kaki lima, pekerja informal, dan masyarakat urban tanpa identitas resmi. Permainan ludo yang hadir di atas becak memperkuat metafora tentang strategi bertahan hidup masyarakat kecil.

Sementara instalasi Yuke Ardhiati, dengan kurator Jeong Ok Jeon Backlog: Rumah Cantik untuk Wong Cilik, yang menghadirkan miniatur rumah bercat putih yang tampak cantik dan nyaman, dengan beberapa elemen kain batik, figura,   yang dapat diterjemahkan sebagai Backlog: A Beautiful House for the Common People. Karya ini berbicara tentang krisis perumahan di Jakarta, terutama bagi wong cilik, yaitu orang biasa dengan daya ekonomi terbatas. Di beberapa kawasan kota yang padat, keluarga harus berbagi ruang yang sangat kecil. Dalam kondisi yang ekstrem, anggota keluarga bahkan harus bergantian tidur karena ruang yang tersedia tidak memadai.

Karya ini bukan saja  hanya tentang menyelesaikan kekurangan rumah. Karya ini juga tentang mengubah cara kita memandang orang-orang yang membutuhkan rumah tersebut. Karya ini mengingatkan bahwa masyarakat berpenghasilan rendah tidak hanya membutuhkan tempat berteduh. Mereka juga membutuhkan penghormatan, rasa aman, keterikatan budaya, dan keindahan yang dapat mendorong martabat.

Dalam catatan kuratorial Teguh Margono atas karya Zamrud, Judul Menjual Kavling Jakarta! memakai bahasa yang sederhana, langsung, dan terasa akrab seperti iklan properti yang sering ditemui sehari-hari. Cara bahasa itu bekerja mencerminkan bagaimana pasar berbicara tentang kota dengan menawarkan harapan, peluang, dan keuntungan seolah semuanya terlihat biasa saja. Namun ketika ditempatkan dalam konteks pameran, bahasa tersebut berubah menjadi satir.

Ia mengajak kita menyadari bahwa menjual tanah bukan sekadar urusan bisnis, tetapi juga berkaitan dengan siapa yang memiliki ruang, siapa yang tersingkir, warga kota ikut dipengaruhi oleh logika pasar. Melalui pendekatan satir, karya ini mempertanyakan siapa sebenarnya yang diuntungkan dari pembangunan kota, sekaligus menegaskan bahwa yang diperdagangkan bukan hanya tanah, melainkan juga hak atas Jakarta itu sendiri.

MENJUAL KAVLING JAKARTA! Kota sebagai Artefak Sosial, Seni sebagai Metode Pembacaan karya Zamrud Setya. Tempo/Dian Yuliastuti

 Seniman dan Kuratornya

Berikut ini para seniman dan kuratornya dalam Jakarta Provoke!2026: Ary Okta- Adi Surya Triwibowo, Awan Simatupang- Anggun Priambodo, Bambang Winaryo- Syakieb Sungkar, Cyca Leonita - Gie Sanjaya, Deskamoto- Agung Rachmat Prakarsa, Jimmy Silaen - Saut Marpaung, Kusei Santo- Abima Nara SAtriangga, Oscar Motuloh- Jay Subyakto, Redy Rahadian- Samuel Soerojo, Sri Hardana -Damhuri Muhammad, Tantio Adjie Arianto- Aidil Usman, Yuke Ardhiati- Jeong Ok Jeon, Baron Basuning- Agung Frigidanto, Cecil Mariani- Ibrahim Soetomo, Dedi Suherdi- D Adikara Rachman, Dick Syahrir- Anindyo Widito, Galuh Tadjimalela- Tubagus Andre, Hudi Alfa- Maek Prayitno, Indira Natalia- Ayu Mauliani, Indyra- Sigit Tandyono, Prajna Dewantara Wirata- Gedis Kendra, Zamrud Setya Negara- Teguh Margono.

Pilihan editor:

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |