Jakarta, CNN Indonesia --
Kebuntuan dalam negosiasi Amerika Serikat dan Iran mendorong pertimbangan putaran baru untuk mengakhiri konflik yang berlangsung di Timur Tengah.
Para pejabat menyebutkan pertemuan kedua tengah dipertimbangkan sebelum masa gencatan senjata dua pekan berakhir pada 21 April, atau untuk memperpanjangnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Belum ada tanggal yang ditetapkan secara pasti, namun delegasi dari kedua pihak mengosongkan jadwal antara Jumat hingga Minggu," ujar seorang sumber senior dari Iran, dikutip Reuters.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan terbuka untuk melanjutkan pembicaraan setelah ia menilai Iran siap memenuhi tuntutan Washington.
"Mereka sangat ingin mencapai kesepakatan," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Senin sore, dikutip The Times.
Di sisi lain, pemerintahan Trump meningkatkan tekanan terhadap Teheran dengan memberlakukan blokade laut terhadap kapal yang menuju atau dari pelabuhan Iran melalui Selat Hormuz.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump memperingatkan kapal Iran yang mendekati blokade akan segera dihancurkan.
Namun, langkah itu juga meningkatkan ketegangan dan berpotensi memicu kembali pertempuran antara kedua negara.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan kehadiran kapal militer AS di Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.
Sementara itu, juru bicara Gedung Putih Olivia Wales menegaskan Trump masih membuka berbagai opsi.
"Setelah 21 jam negosiasi, pihak Iran memilih mengejar senjata nuklir daripada perdamaian. Presiden telah memerintahkan blokade laut di Selat Hormuz untuk menghentikan tekanan Iran, dan tetap membuka semua opsi lainnya," ujarnya.
"Siapa pun yang mengklaim mengetahui langkah Presiden Trump selanjutnya hanyalah berspekulasi," tambahnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan kedua pihak "hampir mencapai kesepakatan," sebelum menghadapi tuntutan maksimal dan blokade dari AS.
Upaya diplomasi masih terus berjalan. Pakistan menawarkan diri menjadi tuan rumah pertemuan kedua di Islamabad, sementara Turki sebagai mediator.
Namun, dukungan internasional terhadap langkah AS terbatas. Inggris menolak bergabung dalam blokade, dan sekutu NATO sebelumnya juga enggan terlibat dalam pengamanan Selat Hormuz.
(rnp/bac)
Add
as a preferred source on Google

6 hours ago
3















































