Menlu Iran Tuding AS Plin-Plan, Sengaja Bikin Negosiasi Gagal

9 hours ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuding Amerika Serikat (AS) bersikap keras kepala dan plin-plan sehingga perundingan damai kedua negara gagal mencapai mufakat.

Melalui unggahan di media sosial X, Arghchi mengatakan AS telah bersikap maksimalis, mengubah-ubah target, dan memblokade selama pembicaraan damai dengan Iran pada Sabtu (11/4) lalu. Sikap itu pun menyebabkan tak ada kesepakatan yang dicapai dalam pembicaraan langsung perdana kedua negara sejak revolusi Islam 1979.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dalam pembicaraan intensif di tingkat tertinggi dalam 47 tahun, Iran terlibat dengan AS dengan iktikad baik untuk mengakhiri perang. Tapi, ketika hanya tinggal beberapa inci dari 'MoU Islamabad', kami menghadapi maksimalisme, perubahan target, dan blokade," tulis Araghchi di X pada Senin (13/4).

"Tidak ada pelajaran yang dipetik. Niat baik melahirkan niat baik. Permusuhan melahirkan permusuhan," lanjutnya.

Perundingan damai AS dan Iran gagal mencapai mufakat pada Minggu (12/4) pagi. Perundingan tatap muka perdana yang berlangsung 21 jam tersebut digelar di Islamabad dengan dimediasi Pakistan.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan mandeknya pembicaraan terjadi karena Iran menolak permintaan Washington, salah satunya terkait penghentian semua program nuklir Teheran.

Menurut sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran, justru AS yang mencari-cari alasan untuk meninggalkan meja perundingan dengan tidak memenuhi syarat yang diajukan Iran sebelumnya.

Sebelum pembicaraan dimulai, seorang sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa pencairan aset Teheran di Qatar menjadi salah satu tuntutan Iran dalam negosiasi dengan AS. Sumber itu mengeklaim AS sudah setuju mencairkan miliaran dolar aset Iran yang selama ini dibekukan di Qatar dan bank-bank asing.

Selain pembebasan dana, Iran juga disebut menuntut kendali atas Selat Hormuz, ganti rugi perang, serta gencatan senjata di seluruh wilayah termasuk Lebanon.

Teheran juga ingin memungut biaya transit bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

(blq/dna)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |