INFO TEMPO - Peringatan Bulan Bung Karno tahun ini juga memperlihatkan bagaimana warisan Soekarno diterjemahkan ke dalam konteks Indonesia masa kini. Seni menjadi ruang dialog sejarah, museum menjadi tempat merawat ingatan kolektif, film menjadi medium membangun semangat kebangsaan, sementara kuliner Nusantara menghidupkan kembali gagasan kedaulatan pangan.
Melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, Bulan Bung Karno 2026 diharapkan mampu memperkuat nasionalisme sekaligus menginspirasi generasi muda untuk memahami dan meneruskan nilai-nilai perjuangan sang Proklamator.
Pameran "Mata Hati Soekarno", nonton bareng film "Ghost in the Cell", Festival Wisata Kuliner Nusantara Bulan Bung Karno 2026, ziarah ke Makam Bung Karno, hingga peresmian renovasi Istana Gebang dan Patung Bung Karno menjadi rangkaian peringatan Bulan Bung Karno 2026 untuk mengenang warisan pemikiran, perjuangan, dan nilai-nilai kebangsaan dari Presiden pertama Republik Indonesia tersebut. Melalui beragam kegiatan yang memadukan unsur sejarah, budaya, seni, hingga kuliner, peringatan ini diharapkan mampu mendekatkan kembali sosok Bung Karno kepada generasi muda, sekaligus memperkuat semangat nasionalisme dan persatuan di masyarakat.
Ketua Umum PDIP yang juga Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri didampingi seniman Butet Kartaredjasa memperhatikan lukisan berjudul “Supermemar” karya M. Guntur Romli di Le Gareca Space, Bantul, Yogyakarta, pada Sabtu, 6 Juni 2026. DOK. PDIP
Dimulai dari Le Gareca Space, Bantul, Yogyakarta. Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri membuka pameran seni rupa bertajuk "Mata Hati Soekarno" yang menghadirkan 47 perupa lintas generasi. Melalui lukisan, grafis, hingga karya kontemporer, para seniman mencoba membaca ulang sosok Bung Karno, bukan hanya sebagai proklamator, melainkan juga ideolog, pecinta seni, dan sumber inspirasi yang terus hidup melampaui zamannya.
Saat berkeliling ruang pamer, Megawati beberapa kali berhenti cukup lama di depan karya-karya tertentu. Salah satunya lukisan "Ku Antar ke Seberang" karya Agus Noor. Lukisan itu menggambarkan Bung Karno mengayuh sepeda sambil membonceng Megawati kecil. Megawati terkenang masa bersama sang ayah. Ia juga memberi perhatian pada karya-karya yang mengangkat tafsir sejarah, termasuk lukisan bertema "Supermemar", plesetan visual dari dokumen historis Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) 1966 dan karya tentang restu ibu Bung Karno, Ida Ayu Nyoman Rai. Pameran ini menunjukkan bagaimana seni dapat menjadi medium untuk membuka dialog baru mengenai sejarah bangsa lintas generasi.
Pada kesempatan yang sama, Megawati mengungkapkan rasa syukur atas pencabutan TAP MPRS Nomor XXXIII/MPRS/1967 yang selama puluhan tahun membayangi nama Bung Karno. Pencabutan tersebut, menurut dia, menjadi akhir dari penantian panjang tanpa adanya proses hukum yang benar-benar membuktikan tuduhan terhadap ayahnya. "Bayangkan, 56 tahun saya menunggu namun tidak pernah diproses apakah beliau punya hukuman atau tidak," kata Megawati seraya mengingatkan pengorbanan Bung Karno yang harus mendekam di penjara dan dibuang di pengasingan kolonial selama total 22 tahun demi memerdekakan bangsa Indonesia.
Megawati juga membagikan sisi lain kehidupan keluarganya yang jarang diketahui publik. Menurut dia, Bung Karno dan Fatmawati sesungguhnya adalah seniman. Di lingkungan Istana, anak-anak dibiasakan belajar tari sejak usia lima tahun, mengenal para maestro, seperti Basoeki Abdullah, Affandi, hingga Nashar, serta tumbuh dalam atmosfer yang memandang seni sebagai bagian penting dari pembentukan karakter manusia. Karena itu, ia mendorong agar sanggar-sanggar seni terus dikembangkan sebagai ruang pendidikan kebangsaan bagi generasi muda.
Di Blitar, Megawati bersama keluarga dan ratusan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) berziarah ke makam Bung Karno. Kegiatan itu berlanjut dengan peresmian renovasi Istana Gebang -rumah masa kecil Bung Karno, serta monumen Sang Proklamator. Dalam pidato tanpa teks, Megawati mengajak masyarakat tidak hanya melihat bangunan bersejarah sebagai objek wisata, namun juga ruang kontemplasi untuk memahami gagasan Soekarno.
Dari Istana Gebang pula, Megawati menyinggung persoalan-persoalan aktual bangsa. Ia berbicara mengenai kenaikan harga kebutuhan pokok, pentingnya menyampaikan kritik secara etis melalui mekanisme demokrasi, perlunya memperkuat ketahanan pangan melalui gerakan menanam tanaman pendamping beras, hingga keprihatinannya terhadap maraknya perundungan di sekolah. Megawati menegaskan, nilai Pancasila tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari melalui penghormatan terhadap sesama manusia.
Ketua Umum PDIP yang juga Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri bersama putranya yang menjabat Ketua DPP PDIP M. Prananda Prabowo melakukan napak tilas ke kediaman sang ayah, Presiden Soekarno, di Istana Gebang, Blitar, pada Senin, 15 Juni 2026. Dok. PDIP
Napak tilas Megawati di Istana Gebang juga memperlihatkan perhatian terhadap pelestarian sejarah. Ia meminta museum ditutup sehari setiap pekan untuk perawatan, mendorong peningkatan kapasitas para pemandu agar memiliki pengetahuan lebih mendalam tentang kehidupan Bung Karno, hingga mengusulkan penambahan jumlah petugas museum. Ada pula sejumlah momen yang menunjukkan kepedulian Megawati terhadap penyandang disabilitas dan pengunjung museum.
Peringatan Bulan Bung Karno juga dimeriahkan oleh komunitas Kulturanesia dengan menggelar nonton bareng film "Ghost in the Cell" karya Joko Anwar. Sebelum film diputar, penonton dikejutkan dengan suara hasil teknologi kecerdasan buatan yang menirukan Bung Karno. "Saudara-saudara sekalian. Film Indonesia adalah kebanggaan kita. Harus kita dukung. Saat ini, seluruh pintu teater telah dibuka. Saudara sekalian, dipersilakan masuk. Mari kita apresiasi karya anak bangsa. Merdeka!” seru suara Bung Karno yang diolah dengan kecerdasan buatan.
Tak hanya sejarah dan kebudayaan, Bulan Bung Karno mengangkat kembali ide tentang kedaulatan pangan. Buku "Mustika Rasa" yang digagas Bung Karno menjadi panduan pemanfaatan pangan lokal bergizi bagi rakyat Indonesia. Gagasan ini lahir jauh sebelum konsep makan bergizi menjadi program pemerintah. Festival Wisata Kuliner Nusantara Bulan Bung Karno 2026 di Tangerang Selatan, menghadirkan ratusan menu berbasis bahan pangan lokal. Pesan utamanya adalah lidah dan perut rakyat Indonesia tidak boleh bergantung pada pangan impor.
Perihal pangan, Megawati menyampaikan keprihatinannya atas nasib petani sebagai "Soko Guru" bangsa. Mengambil pelajaran dari konsep Marhaenisme yang diajarkan Bung Karno melalui dialognya dengan Pak Marhaen, Megawati menegaskan pentingnya mengorganisir petani agar mandiri dan mampu mewujudkan kedaulatan pangan. Dia pun menjernihkan identitas Marhaen bukan seorang komunis, melainkan petani di Bandung yang memiliki sawah, padi, dan alat produksi sendiri, namun tidak mampu berbagi karena hidup pas-pasan. Megawati mengingatkan kembali pesan mendasar dari Bung Karno bahwa urusan perut rakyat adalah prioritas mutlak yang harus dipenuhi demi mencegah terjadinya kerusuhan. "Artinya nomor satu untuk rakyat adalah makanan," ujarnya.
Beragam agenda dalam Rangkaian Bulan Bung Karno 2026 menunjukkan bahwa mengenang Soekarno tidak lagi hanya dilakukan melalui upacara atau pidato. Warisan sang Proklamator diterjemahkan dalam berbagai bentuk, mulai dari pameran seni, film, kuliner, museum, hingga diskusi kebangsaan. Di tengah perubahan zaman, upaya tersebut menjadi ikhtiar untuk menjaga agar "api" pemikiran Bung Karno tetap menyala. Menjadi bagian dari sejarah sekaligus menginspirasi, dan menjawab tantangan Indonesia hari ini. (*)































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)














:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5469567/original/092858600_1768130667-4.jpg)

