Melalui KONEKIN, Marthella Sirait Berdayakan Ekonomi Penyandang Disabilitas

2 hours ago 2

CANTIKA.COMJakarta - Bagi sebagian orang, perjalanan ke sebuah desa terpencil mungkin hanya menjadi pengalaman sekali seumur hidup. Namun bagi Marthella Sirait, perjalanan ke Desa Adodomolu di Kepulauan Tanimbar, Maluku, justru mengubah arah hidupnya.

Kala itu, Marthella menjadi guru sekolah dasar di desa yang hanya bisa ditempuh selama dua hari perjalanan. Listrik belum tersedia secara memadai, sinyal telepon nyaris tidak ada, dan fasilitas pendidikan sangat terbatas.

Di ruang kelas sederhana itulah ia bertemu dengan tiga murid penyandang disabilitas. Seorang anak dengan cerebral palsy, seorang dengan kesulitan belajar (learning difficulty), dan seorang lagi penyandang disleksia.

Pengalaman tersebut membuka matanya terhadap realitas yang selama ini jarang terlihat. "Di sana saya melihat kesenjangan yang luar biasa. Guru saja jumlahnya sangat terbatas, apalagi bicara tentang pendidikan inklusif atau penyesuaian pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus," kenang Marthella di acara talkshow Founder Wirausaha Sosial oleh DBS Foundation, Selasa, 23 Juni 2026. 

Di tengah keterbatasan itu, Marthella membuat sebuah janji sederhana kepada dirinya sendiri. Ia ingin memastikan ketiga muridnya tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan suatu hari bisa bekerja secara mandiri.

"Kalau saya belum bisa menyelesaikan semua persoalan di Indonesia, setidaknya saya ingin mengusahakan masa depan tiga anak ini. Saya ingin mereka percaya bahwa meski memiliki disabilitas, mereka tetap bisa sekolah dan bekerja."

Janji pribadi itulah yang kemudian melahirkan Koneksi Indonesia Inklusif (KONEKIN), sebuah platform yang berfokus pada edukasi publik dan pemberdayaan ekonomi penyandang disabilitas pada 2028.

Ketika Mencari Kerja Menjadi Tantangan Berlipat

Perjalanan membangun Konekin berangkat dari kenyataan bahwa penyandang disabilitas menghadapi hambatan yang jauh lebih besar dibanding pencari kerja pada umumnya.

Menurut Marthella, jika masyarakat umum menganggap mencari pekerjaan sudah sulit, maka bagi penyandang disabilitas tantangan tersebut bisa dua hingga tiga kali lebih berat. Bahkan, persoalannya dimulai sebelum mereka melamar pekerjaan.

Tidak semua penyandang disabilitas dapat mengakses platform pencarian kerja secara mudah. Bagi penyandang disabilitas netra, misalnya, proses mencari informasi lowongan bergantung sepenuhnya pada teknologi pembaca layar (screen reader). Sayangnya, tidak semua platform dirancang ramah aksesibilitas. "Bayangkan, mencari informasi lowongan saja sudah menjadi tantangan."

Di sisi lain, masih banyak perusahaan yang ingin merekrut penyandang disabilitas tetapi belum mengetahui bagaimana cara menjangkaunya. Padahal sejak disahkannya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, perusahaan memiliki kewajiban menyediakan kuota pekerja disabilitas.

"Perusahaan sering bertanya kepada kami, 'Siapa yang bisa membantu kami menemukan talenta penyandang disabilitas?' Di situlah kami melihat adanya kesenjangan antara pencari kerja dan dunia industri."

Dari kiri ke kanan: Marthella Sirait — CEO KONEKIN Indonesia, Margareta Astaman — Co-Founder & CEO Java Fresh, Riany Agustina — SVP Communications & Impact Beyond Banking PT Bank DBS Indonesia, dan Elisa Yoshigoe Wijaya — CCO & Co-Founder DoctorTool di acara talkshow Founder Wirausaha Sosial oleh DBS Foundation, Selasa, 23 Juni 2026

Membangun Jembatan antara Talenta dan Dunia Kerja

Marthella percaya bahwa pemberdayaan ekonomi penyandang disabilitas tidak cukup hanya membuka lowongan pekerjaan. Kedua belah pihak harus dipersiapkan. Di satu sisi, penyandang disabilitas membutuhkan pelatihan agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Mereka harus direkrut berdasarkan kemampuan, bukan sekadar rasa iba.

Di sisi lain, perusahaan juga perlu membangun budaya kerja yang inklusif agar keberagaman benar-benar menjadi bagian dari strategi bisnis.

"Kami ingin perusahaan melihat bahwa talenta disabilitas bukan sekadar memenuhi aturan, tetapi juga dapat membawa inovasi dan keberlanjutan bagi perusahaan."

Selama bertahun-tahun, seluruh proses tersebut dijalankan secara manual. Namun semakin luas wilayah yang ingin dijangkau, Marthella menyadari bahwa teknologi menjadi solusi yang tidak bisa dihindari.

Memanfaatkan AI untuk Mempermudah Akses

Salah satu tantangan yang paling sering ditemui Konekin justru berasal dari hal yang tampak sederhana, yakni membuat curriculum vitae (CV). Marthella bercerita, tidak sedikit peserta yang datang dengan CV hingga delapan atau sepuluh halaman, lengkap dengan berbagai pengalaman yang sebenarnya tidak relevan. "Kadang pengalaman lomba makan kerupuk pun ikut dimasukkan ke dalam CV. Itu benar-benar terjadi."

Berangkat dari pengalaman tersebut, Konekin mengembangkan platform berbasis kecerdasan buatan (AI) yang membantu penyandang disabilitas menyusun CV yang lebih ringkas, profesional, sekaligus ramah terhadap sistem perekrutan digital (Applicant Tracking System atau ATS).

Platform tersebut juga dirancang agar mudah diakses oleh penyandang disabilitas netra sehingga mereka dapat menggunakannya secara mandiri. Bagi perusahaan, platform ini mempermudah proses mencari kandidat karena seluruh profil yang tersedia telah melalui proses verifikasi sebagai pencari kerja penyandang disabilitas.

Menyiapkan Talenta Sejak Bangku Kuliah

Selain membangun platform digital, Konekin juga mengembangkan Bersiap Academy. Program ini menyasar mahasiswa penyandang disabilitas yang sedang berada di semester akhir, baik jenjang diploma maupun sarjana.

Melalui berbagai pelatihan, peserta dibekali keterampilan nonteknis seperti komunikasi, kesiapan menghadapi wawancara kerja, hingga pemahaman mengenai budaya profesional di dunia kerja.

Program tersebut kini mulai diperluas melalui kolaborasi dengan sejumlah kawasan industri, termasuk kawasan industri di Karawang yang memiliki potensi penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar. Langkah ini diharapkan mampu membuka lebih banyak peluang kerja bagi penyandang disabilitas di berbagai sektor.

Berawal dari Tiga Murid, Kini Menjangkau Jutaan Harapan

Apa yang dimulai dari janji seorang guru kepada tiga muridnya kini berkembang menjadi gerakan yang lebih besar. Melalui Konekin, Marthella Sirait ingin memastikan bahwa penyandang disabilitas tidak lagi dipandang sebagai kelompok yang membutuhkan belas kasihan, melainkan sebagai individu yang memiliki kompetensi, potensi, dan hak yang sama untuk memperoleh pekerjaan yang layak.

Baginya, pemberdayaan ekonomi bukan hanya soal menciptakan lapangan kerja, tetapi juga membuka akses yang adil bagi sekitar 17 juta penyandang disabilitas usia kerja di Indonesia.

"Saya percaya semua orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk bekerja. Tugas kami adalah memastikan kesempatan itu benar-benar bisa diakses oleh semua orang."

ECKA PRAMITA 

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |