Mahasiswa Pariwisata Olah Kulit Pisang Jadi Cookies Premium

8 hours ago 3

DARI dapur sederhana di Desa Wisata Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Rabu, 1 Juli 2026, aroma mentega dan cookies (kue kering) yang baru matang menyeruak. Tak ada yang menyangka, camilan renyah yang rasanya membuat orang ingin mengambil satu lagi dan lagi itu dibuat dari bahan yang selama ini dianggap tak bernilai, yaitu kulit pisang.

Setiap hari, sentra olahan pisang di kawasan Solo Raya menghasilkan berton-ton limbah kulit pisang. Sebagian besar berakhir di tempat sampah atau sekadar menjadi pakan ternak. Namun, di tangan Alex D. Santoso, seorang mahasiswa Magister Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata Politeknik Sahid Jakarta, limbah itu justru menjelma menjadi produk pangan premium.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Saya suka sekali cookies dan cokelat. Karena latar belakang saya juga seorang chef, saya berpikir bagaimana mengolah limbah menjadi produk yang bernilai," kata Alex saat ditemui di produsen keripik pisang Minions Winner Sumber Echo, Desa Berjo, Rabu, 1 Juli 2026.

Pencarian ide membawanya berkeliling Solo Raya. Ia menelusuri sejumlah produsen keripik pisang hingga akhirnya menemukan sumber bahan baku di Desa Berjo. Di desa yang berada di lereng Gunung Lawu itu, ia melihat potensi besar yang selama ini terabaikan.

Kulit pisang dikumpulkan, dipotong-potong, lalu dicuci bersih. Setelah itu, dijemur selama dua hari hingga benar-benar kering sebelum digiling menjadi tepung halus. Dari sekitar lima kuintal limbah kulit pisang yang dihasilkan setiap hari, setelah melalui proses pengeringan, dihasilkan sekitar satu kuintal tepung kulit pisang.

Tepung inilah yang kemudian menjadi bahan utama pembuatan cookies. Komposisinya, 75 persen tepung kulit pisang dan hanya 25 persen tepung terigu. 

Untuk memperkuat cita rasa, Alex juga tidak menggunakan gula pasir seperti pada cookies umumnya. Ia memilih gula aren sebagai pemanis alami. Tujuannya, memberikan rasa manis lebih lembut sekaligus aroma khas yang memperkaya karakter cookies. 

"Dari berbagai percobaan, kami menemukan komposisi yang tepat. Ternyata tepung kulit pisang bisa menjadi bahan utama dan menghasilkan rasa yang enak," ujarnya sambil menambahkan, cookies ciptaannya menyimpan manfaat kesehatan. "Kulit pisang diketahui mengandung serat yang tinggi sehingga baik untuk pencernaan," kata dia lagi. 

Bagi Alex, inovasi ini bukan semata proyek akademik. Ia melihat peluang ekonomi yang bisa tumbuh dari limbah yang selama ini dipandang sebelah mata.

Warga Desa Berjo pun menyambutnya dengan positif. Selama empat bulan penelitian berlangsung, masyarakat ikut terlibat dalam proses pengolahan. 

"Kulit pisang yang biasanya dibuang kami manfaatkan menjadi cookies yang jadi inovasi produk baru. Harapannya bisa mengurangi sampah dan menambah penghasilan masyarakat," ujar pemilik atau produsen keripik pisang Minions Winner Sumber Echo, Rifal Alfandi di Desa Berjo.

Hingga kini, produk tersebut memang belum dipasarkan secara komersial. Alex bersama tim masih melakukan riset pasar sebelum memutuskan untuk memproduksinya dalam skala lebih besar. Namun, respons awal dianggap cukup menjanjikan. 

Desa Berjo selama ini dikenal sebagai desa wisata yang terus mengembangkan berbagai potensi alam dan pemberdayaan masyarakat. Kehadiran cookies kulit pisang menambah daftar inovasi dari desa di kaki Gunung Lawu tersebut.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |