Kesaksian Suami-Istri Korban Tabrakan Kereta di Bekasi

5 hours ago 3

DETIK-detik mencekam kecelakaan kereta di Bekasi masih membekas dalam ingatan pasangan suami istri asal Tambun, Subur Sagita, 51 tahun, dan Yunita Endang PS, 42 tahun. Keduanya menjadi korban dalam tabrakan tersebut.

Subur dan Yunita mengalami luka setelah benturan keras melempar tubuh mereka saat berada di dalam KRL yang melaju menuju Cikarang pada Senin malam, 27 April 2026. Subur menceritakan, gerbong saat itu dipenuhi penumpang. Ia dan istrinya berdiri di area sambungan antar-gerbong ketika benturan dari arah belakang menghantam kereta. “Kami ditabrak dari belakang. Semua terpental,” kata Subur, Selasa, 28 April 2026.

Setelah benturan terjadi, Subur mengaku sempat kehilangan kesadaran. Namun, ia masih sempat bangkit dan mencari istrinya yang pingsan. “Istri saya pingsan. Saya sempat bangun dan menyeret dia dari pintu kereta,” ujarnya.

Di tengah kepanikan, Subur berusaha menyelamatkan istrinya yang tak sadarkan diri, sementara penumpang lain juga berteriak dan terluka. Subur juga mengingat kepulan asap sesaat setelah benturan. Ia tidak mengetahui apakah asap itu berasal dari pendingin udara atau dari rangkaian kereta. “Ada asap setelah tabrakan,” katanya.

Setelah mendapat penanganan medis di rumah sakit, Subur baru merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Ia mengatakan benturan keras membuat tubuhnya menghantam tiang dan bangku di dalam gerbong. “Di rumah sakit baru terasa sakit. Saya kena tiang dan bangku,” ujarnya.

Subur juga mengingat detik-detik sebelum tabrakan. Menurut dia, kereta sempat berhenti cukup lama. Sesaat sebelum benturan, ia melihat sorot cahaya terang dan mendengar teriakan penumpang. “Saya lihat sorot lampu, lalu orang-orang menjerit, setelah itu benturan terjadi,” katanya.

Sementara itu, Yunita mengaku sempat tidak sadarkan diri selama sekitar 15 menit setelah kejadian. Ia baru tersadar saat petugas telah mengevakuasinya ke lantai atas stasiun. “Waktu sadar, semua sudah luka-luka,” kata Yunita.

Yunita mengatakan kakinya tak bisa digerakkan dan darah mengalir dari hidungnya saat ia sadar. Sebelum kejadian, Yunita sempat berpindah beberapa gerbong karena kondisi kereta sangat padat. Ia akhirnya berdiri di area sambungan agar bisa bersandar. “Saya pindah beberapa kali karena penuh, lalu berdiri di sambungan,” ujarnya.

Akibat kejadian itu, Yunita mengalami luka pada kaki dan hidung. Sementara itu, Subur mengalami benturan di tubuh tanpa luka terbuka. Keduanya telah menjalani perawatan medis dan diperbolehkan pulang. Namun, dokter meminta mereka kembali ke rumah sakit jika kondisi memburuk.

Pilihan Editor: Mengapa Perlintasan Kereta Api Rawan Kecelakaan?

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |