RANGKAIAN gempa bumi mengguncang Jepang dalam sepekan terakhir, termasuk gempa terbaru bermagnitudo 6,2 di Hokkaido pada Senin, 27 April 2026 waktu setempat. Meski otoritas memastikan infrastruktur transportasi utama seperti bandara masih berfungsi, wisatawan internasional diminta untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul peringatan adanya potensi "megaquake" atau gempa besar di masa mendatang.
Peristiwa ini merupakan kelanjutan dari guncangan besar magnitudo 7,7 yang melanda wilayah Sanriku pada 20 April lalu. Gempa tersebut sempat memicu peringatan tsunami setinggi tiga meter dan perintah evakuasi bagi ratusan ribu penduduk di Prefektur Iwate, Hokkaido, dan Aomori. Dampak dari aktivitas seismik ini tidak hanya dirasakan oleh warga lokal, tetapi juga para pelancong yang sedang menikmati musim semi di wilayah utara Jepang.
Status Operasional Bandara dan Transportasi
Dilansir dari Time Out, dua hub udara utama di wilayah terdampak, yakni Bandara Shin-Chitose di Hokkaido dan Bandara Sendai, tetap beroperasi secara normal tanpa adanya pembatalan massal. Meskipun demikian, para ahli perjalanan menyarankan wisatawan untuk selalu memeriksa status jadwal secara berkala langsung kepada pihak maskapai.
Kondisi berbeda terjadi pada jalur darat. Layanan kereta cepat Tohoku Shinkansen dan beberapa jalur lokal JR sempat mengalami penangguhan sementara untuk pengecekan jalur rel demi menjamin keselamatan penumpang.
"Jepang berada di zona gempa utama. Pantau informasi gempa bumi, termasuk peringatan tsunami dan gempa susulan dari Badan Meteorologi Jepang (JMA)," demikian bunyi saran keselamatan yang dikutip dari panduan perjalanan Kantor Luar Negeri Inggris (FCDO) dalam laporan Time Out.
Ancaman Gempa Susulan dan Prosedur Keamanan
Ketegangan kembali meningkat setelah gempa magnitudo 6,2 mengguncang Hokkaido selatan pada Senin, 27 April 2026 pukul 05.23 waktu setempat. Dilansir dari CNA (Channel News Asia), guncangan ini tidak memicu tsunami, namun JMA memperingatkan adanya risiko tinggi terjadinya gempa susulan dengan kekuatan serupa dalam satu minggu ke depan. Hal ini menjadi perhatian serius karena risiko tanah longsor dan jatuhnya bebatuan di daerah wisata pegunungan kini meningkat.
Menanggapi situasi yang dinamis ini, otoritas Jepang mengingatkan kembali pentingnya pemahaman prosedur evakuasi bagi warga asing. Pejabat JMA dalam konferensi pers yang dilaporkan oleh CNA menyatakan bahaya batu runtuh dan tanah longsor meningat di daerah yang mengalami guncangan kuat.
Para wisatawan sangat disarankan untuk mengunduh aplikasi tanggap bencana resmi dan menjauhi area pesisir atau muara sungai saat peringatan tsunami atau gempa bumi dikeluarkan, guna menghindari luapan air laut yang mendadak.
Laode Muhammad Ashegaf berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Pilihan editor: Lampion-lampion Jepang di Festival Lentera Taiwan







































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4908650/original/070505300_1722696593-20240803BL_Perebutan_Peringkat_Ketiga_Piala_Presiden_2024_3.JPG)









