Kemiskinan Yogya di Atas Nasional, Ini Kata Sultan HB X

12 hours ago 2

GUBERNUR Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X mengungkapkan jumlah penduduk miskin di wilayahnya masih mencapai 422,79 ribu orang atau setara dengan 10,08 persen per September 2025.

Meskipun angka tersebut telah menunjukkan tren penurunan dibandingkan data Maret 2025, Sultan menyoroti secara prosentase kemiskinan di DIY masih tetap berada di atas rata-rata nasional. 

Sultan pun menginstruksikan para kepala daerah dan birokrasi tidak lagi sekedar bekerja rutin menghabiskan anggaran. Melainkan fokus pada efektivitas program yang berdampak langsung pada kesejahteraan.

"Jangan hanya meneruskan program yang sudah ada tanpa mengevaluasi relevansi dan dampaknya secara kritis bagi masyarakat," kata Sultan saat forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) DIY Tahun 2027 bersama para kepala daerah, Kamis 23 April 2026.

Sultan menilai, pemerintah tidak bisa lagi menggunakan pendekatan konvensional dalam menyusun program tanpa mempertimbangkan dinamika tantangan di lapangan.

Sultan menjelaskan tantangan utama yang harus segera diatasi diantaranya ketimpangan pendapatan serta disparitas antara wilayah perkotaan dan perdesaan. 

Di tengah proyeksi belanja daerah DIY yang mencapai Rp 4,59 triliun, Sultan mengingatkan pentingnya prinsip value for money. Setiap rupiah yang dikeluarkan harus memiliki justifikasi yang kuat dan hasil yang jelas bagi peningkatan kualitas hidup warga. "Perencanaan tanpa eksekusi yang tepat hanya akan menjadi dokumen di atas meja," kata dia.

Pemerintah DIY sendiri mematok target pada tahun 2027 dapat menekan angka kemiskinan hingga ke kisaran 8,5 persen sampai 9,5 persen serta menurunkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 3,06 persen hingga 3,38 persen. "Pola pikir out of the box harus dikedepankan," kata dia.

Sekretaris DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menuturkan upaya pengentasan kemiskinan akan difokuskan pada penguatan ekonomi di wilayah selatan, mencakup Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul. 

Harapannya, kontribusi ekonomi dari wilayah-wilayah tersebut dapat meningkat hingga 40,24 persen melalui optimalisasi investasi dan reformasi kalurahan sebagai motor penggerak ekonomi lokal.

“Terhadap kinerja yang belum optimal, kami telah merumuskan strategi akselerasi. Misalnya, untuk Indeks Kebahagiaan, intervensi akan dilakukan melalui penguatan modal sosial dan layanan sosial yang lebih optimal bagi kelompok rentan,” kata Ni Made.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |