Jason Ranti: Musik Tetap Jadi Ruang Kritik di Era Digital

15 hours ago 1

MUSISI Jason Ranti melihat musik masih memiliki peran penting sebagai ruang untuk menyampaikan kegelisahan, kritik sosial, hingga refleksi diri. Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus informasi melalui media sosial, ia menilai setiap generasi tetap memiliki cara sendiri untuk bersuara.

Menurut Jeje, sapaan akrab dari penggemar, keberanian menyampaikan kritik melalui musik tidak pernah hilang. Namun, bentuk dan cara penyampaiannya terus berubah mengikuti perkembangan zaman. "Setiap masa ada orang-orang berani yang ingin mengutarakan pikiran atau hati nurani mereka. Tapi tiap zaman berbeda metode, cara, pendekatan, dan pengemasan musiknya," kata Jeje kepada Tempo usai tampil di pertunjukan Tak Kalah Kasat Mata di Muara Space Palembang, Jumat malam, 24 Juli 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ia mengatakan musik pada masa lalu memiliki pendekatan yang berbeda dengan generasi sekarang. Jika sebelumnya kritik sosial banyak disampaikan melalui lagu-lagu yang terang-terangan berbicara tentang keadaan masyarakat dan pemerintahan, kini musisi memiliki banyak medium untuk menyampaikan gagasan.

Menurut Jeje, bukan berarti kritik sosial dalam musik semakin berkurang. Hanya saja bahasa dan bentuk ekspresinya berubah. "Bahasa musik itu berubah. Mungkin isinya sama, tapi cara penyampaian juga kadang lebih penting daripada isi," ucapnya.

Ia melihat generasi muda saat ini memiliki banyak ruang untuk menyuarakan pandangan, salah satunya melalui media sosial. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru karena arus informasi yang terlalu cepat. "Media sosial itu cepat, tapi cepat belum tentu tepat," ujar dia.

Menurut Jeje, derasnya informasi membuat manusia semakin sulit memiliki waktu untuk berhenti dan memahami sebuah pesan secara mendalam. Setiap pendapat bisa langsung mendapatkan tanggapan, bantahan, bahkan dibelokkan. "Sensor indera kita seperti overload. Narasi berkembang luar biasa bebas. Untuk setiap argumen yang kita sampaikan pasti ada counter di luar," katanya.

Berbeda dengan media sosial yang bergerak cepat, dia menilai musik memiliki kemampuan menciptakan ruang refleksi bagi pendengarnya. "Kalau saya dengar musik, orang dengar musik, itu bisa menciptakan ruang dan waktu untuk merenung. Banyak yang hilang sekarang, ruang pause itu," ujar dia.

Bagi Jason, kekuatan musik tidak hanya terletak pada lirik, tetapi juga bagaimana melodi membawa pesan kepada pendengar. "Melodi itu kendaraan yang bagus sekali. Isinya pesan apa pun bisa disampaikan," katanya.

Komunitas dan Ekosistem Musik

Selain perubahan cara bermusik, Jeje juga melihat komunitas sebagai bagian penting dalam perkembangan ekosistem musik. Menurut dia, komunitas menjadi ruang pertukaran pengalaman dan pengetahuan antar-musisi. "Saya melihat komunitas selalu bagus karena pasti ada proses transfer ilmu di sana," ujarnya.

Menurut Jason, hubungan dalam komunitas musik tidak seharusnya dibatasi oleh senioritas. Yang lebih penting adalah bagaimana para musisi saling menghargai dan menciptakan ruang bersama. "Tidak peduli abang-abangan atau adik-adikan, semuanya sama. Saling respek untuk acara dan kebahagiaan bersama," katanya.

Kehadiran Jason Ranti di Palembang bersama Langgam dan Hutan Tropis menjadi salah satu bentuk pertemuan antara musisi yang telah lama berkarya dengan skena musik lokal.

Ancaman Terbesar bagi Seniman

Saat ditanya mengenai tantangan terbesar bagi seniman hari ini, Jeje tidak menyebut tekanan industri atau kritik publik sebagai ancaman utama. Menurut dia, bahaya terbesar justru ketika seorang seniman kehilangan dirinya sendiri. "Yang berbahaya adalah mencoba menjadi orang lain. Sibuk mendengarkan ujian maupun kritikan, tapi lupa mendengarkan diri sendiri," ungkap Jeje.

Baginya, proses kreatif membutuhkan dialog dengan diri sendiri. Sebuah karya tidak bisa dipaksakan hanya untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Ia juga mengatakan sebuah perasaan atau pengalaman membutuhkan proses sebelum akhirnya berubah menjadi karya. "Perasaan juga butuh proses fermentasi dalam diri kita. Tiap orang berbeda-beda cara keluarnya menjadi karya," katanya.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |