Inovasi Tim Riset ITB Hasilkan Pepton dari Maggot

7 hours ago 5

TIM peneliti Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB) berinovasi dalam pembuatan pepton sebagai protein pengembang biak mikroba dengan menggunakan maggot alias larva lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF).

Hasil riset mereka telah mengundang minat investor. Inovasi itu sekaligus berpotensi mengatasi persoalan limbah organik dan mengurangi ketergantungan pepton impor.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ketua tim riset, Muhammad Yusuf Abduh, mengatakan pepton merupakan sumber nutrisi penting untuk pertumbuhan mikroba yang digunakan mulai dari laboratorium kampus untuk perkuliahan maupun riset hingga proses produksi di industri bioteknologi, farmasetikal, dan pangan. Selama ini, termasuk di ITB, pepton didatangkan lewat impor, seperti dari Jerman atau Ameriksa Serikat, seharga kisaran Rp 1,3-5 juta per kilogram. 

Berdasarkan data riset yang diperoleh tim, permintaan pepton meningkat 12,7 persen setiap tahun. Adapun permintaan pasar domestik mencapai 13 juta kilogram atau senilai US$ 29 juta. “Tepung dari maggot ini bisa diubah menjadi pepton yang pasarnya sangat besar,” kata Yusuf kepada Tempo, Ahad, 19 Juli 2026.

Menurutnya, pepton impor menggunakan bahan dari tanaman seperti kedelai, juga dari hewan, yaitu ikan atau daging sapi. Tim ITB mencari alternatif lain dari semua bahan pepton impor itu yang merupakan sumber pangan di Indonesia, yaitu dari maggot.

Dari hasil uji coba dan perbandingan dengan pepton impor, pepton dari maggot memiliki profil asam amino esensial yang lebih tinggi. “Pepton dari maggot memiliki profil asam amino yang lebih lengkap,” ujarnya. Akibatnya, pertumbuhan mikroba menjadi lebih banyak.

Berdasarkan hasil uji performa biologis, kepadatan sel atau densitas mikroba yang diberi nutrisi pepton maggot, yaitu 1,15 x 10 pangkat 9, atau 90 persen lebih tinggi dari sebuah pepton komersial yang sebanyak 6,05 x 10 pangkat 8. “Dampaknya juga pemakaian pepton akan menjadi lebih sedikit,” kata Yusuf. Selain itu berdasarkan kalkulasi tim riset, pepton maggot bisa lebih murah hingga separuh harga dari produk impor.

Saat ini, menurut Yusuf, ada calon investor yang telah memproduksi maggot tertarik soal pepton dan tengah mengkalkulasi secara bisnis. Sejauh ini produk yang dihasilkan seperti minyak dari maggot dan tepung maggot. “Dua tahap lagi dengan proses hidrolisis dan purifikasi bisa menjadi pepton,” katanya. 

Maggot lazim digunakan untuk mengolah sampah organik yang sebagian mengandung karbohidrat, protein, dan sebagainya sehingga tubuhnya mengandung lipid atau protein. Dengan cara sederhana, maggot dikeringkan untuk dijual.

Namun, produsen lain ada yang memisahkan lemak pada maggot untuk menjadi minyak. Sisa maggot lalu dihaluskan menjadi tepung untuk pakan ternak seperti ikan atau ayam. “Protein tepung maggot sedikit meningkat karena lemaknya sudah dihilangkan, dibandingkan dengan maggot yang langsung dikeringkan,” kata Yusuf. 

Proses hidrolisis digunakan untuk mengecilkan berat molekul protein pada tepung maggot agar lebih mudah dicerna oleh mikroba. Adapun bobot total tepung maggot yang diolah, menurut Yusuf, tidak berkurang terlalu besar. Proses itu menggunakan tangki hidrolisis dan enzim khusus. 

Riset pepton dari maggot itu dirintis tim ITB sejak 2015. Menurut Yusuf, sebenarnya sudah banyak penelitian tentang esktrak protein dari lalat tentara hitam, namun belum ada penelitian yang melaporkan aplikasi hidroisat protein sebagai pepton untuk media nutrisi pertumbuhan mikroba. “Karena itu penelitian dilakukan untuk mengkaji karakteristik pepton dari maggot dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan berbagai jenis mikroba,” katanya.

Dalam perjalanan risetnya, tim menggaet mitra industri agrobisnis yang memasok limbah organik untuk pakan maggot hingga diolah menjadi tepung maggot, kemudian memakai pepton maggot hasil uji coba tim peneliti ITB.

Secara umum, menurut Yusuf, perbedaan komposisi limbah organik akan mempengaruhi profil asam amino dan kandungan protein maggot. “Ke depan itu bagaimana melakukan standarisasi limbah organik untuk diberikan ke maggot kalau ingin menghasilkan pepton dengan kualitas tertentu,” ujarnya. 

Selain dari limbah organik agroindustri, proses pembuatan pepton ini pun berpotensi mengatasi  sampah organik domestik, restoran, atau pasar. Menurut Yusuf, dari 1 kilogram maggot, misalnya, 4 bisa menghasilkan pepton sebanyak 4 persen atau 40 gram dalam bentuk serbuk berwarna krem. 

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |