KEPALA Pusat Studi Cyber Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri Yudho Giri Sucahyo mengatakan perkembangan teknologi kecerdasan buatan, khususnya deepfake memainkan peran penting dalam konflik global modern. “Perang modern mencakup information warfare, termasuk di dalamnya perang kognitif, perang siber, dan perang media,” ujarnya pada pertengahan April 2026.
Menurut Yudho, konflik seperti yang ada di Timur Tengah tidak lagi hanya berlangsung secara fisik, tetapi juga meluas ke ranah perang informasi. Ia menjelaskan bahwa berbagai teknologi, termasuk deepfake, digunakan untuk membentuk emosi, persepsi, dan opini publik. Konten manipulatif seperti pidato palsu hingga video serangan yang direkayasa menjadi alat propaganda yang efektif dalam mempengaruhi masyarakat.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Yudho menilai penggunaan deepfake dalam bentuk video saat ini memang sudah meningkat terutama di media sosial, namun belum sepenuhnya mendominasi dibandingkan metode disinformasi klasik seperti teks dan gambar yang diedit. “Kemajuan generative AI berkontribusi besar terhadap semakin maraknya deepfake di internet,” katanya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa dampak deepfake dalam situasi konflik sangat berbahaya. Selain berpotensi memanipulasi opini publik, konten palsu ini juga dapat menggerus kepercayaan masyarakat terhadap informasi. “Publik bisa sampai pada titik tidak lagi tahu mana yang benar dan mana yang palsu,” ujarnya.
Dalam konteks Indonesia, Yudho menyebut tingkat kesadaran masyarakat terhadap ancaman deepfake masih belum merata. Meski pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital telah mendorong literasi digital, tantangan geografis dan jumlah penduduk membuat upaya tersebut belum optimal. Kelompok rentan seperti pengguna baru media sosial dan lansia dinilai perlu mendapat perhatian lebih.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih kritis dalam menyikapi konten digital. Salah satu cara sederhana untuk mengenali deepfake adalah dengan memperhatikan ketidaksesuaian gerakan bibir dengan suara, ekspresi wajah yang kaku, hingga suara yang terdengar tidak natural. Namun, ia mengakui bahwa teknologi deepfake terus berkembang sehingga semakin sulit dideteksi.
“Di dunia internet, jangan pernah langsung percaya pada konten viral, apalagi yang mengajak untuk segera disebarkan. Selalu lakukan verifikasi melalui media mainstream,” tegasnya.
Yudho menambahkan, saat ini kecepatan penyebaran konten deepfake jauh melampaui kemampuan publik dalam mendeteksinya. Faktor media sosial dan dorongan emosional menjadi penyebab utama cepatnya penyebaran disinformasi.
Untuk mencegah masyarakat menjadi korban, ia menekankan pentingnya peningkatan literasi digital secara berkelanjutan, edukasi untuk berpikir sebelum berbagi, serta peran aktif media dan pemerintah dalam menyediakan fasilitas cek fakta. Selain itu, ia juga mendorong adanya pelabelan konten berbasis AI oleh penyelenggara sistem elektronik sesuai regulasi yang berlaku.
“Yang paling penting, masyarakat harus selalu bersikap skeptis dan melakukan verifikasi sebelum mempercayai atau menyebarkan sebuah informasi,” katanya.
GHAEIZA KAY RASUFFI







































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4908650/original/070505300_1722696593-20240803BL_Perebutan_Peringkat_Ketiga_Piala_Presiden_2024_3.JPG)








