DUA pekerja rumah tangga (PRT) berinisial R dan D melompat dari lantai empat rumah kos di Jalan Bendungan Walahar Buntu, Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kepolisian masih menyelidiki kejadian tersebut.
Peristiwa yang terjadi pada Rabu, 22 April 2026 sekitar pukul 23.00 WIB itu menewaskan R. Sedangkan D dirawat di rumah sakit karena patah tulang. Bangunan tersebut terdiri dari empat lantai, di mana lantai atas ditempati oleh pemilik bersama PRT, sedangkan lantai bawah disewakan sebagai indekos.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Nani, seorang warga yang tinggal berjarak satu bangunan dari tempat kejadian perkara (TKP), mengatakan peristiwa tersebut cukup membuat geger kampung mereka. Ketika dua PRT itu melompat dari atas, Nani sudah tidur. Ia baru mengetahuinya sekitar pukul 23.15 WIB, setelah dipanggil-panggil oleh tetangganya.
"Mas-mas sebelah bilang ‘Bu, ada yang jatuh.’ Karena mereka yang dengar (suara) gedebuk,” katanya saat ditemui Tempo pada Jumat, 24 April 2026.
Begitu Nani keluar dari rumahnya, dia melihat ada dua orang sudah terkapar di aspal.
Menurut Nani, kedua PRT itu masih dalam keadaan bernyawa. Namun, hanya satu orang yang merintih kesakitan. “Yang masih bergerak itu ada satu, yang masih hidup sekarang,” katanya.
Di lokasi yang sama, warga menemukan tas milik kedua PRT tersebut. Warga sempat memeriksa tas-tas yang berisikan pakaian korban itu untuk mencari kartu identitasnya.
Warga sempat menanyakan kepada D, mengapa mereka melompat dari atas. Namun, ia mengaku tak bisa menceritakannya.
R diketahui sudah bekerja di rumah tersebut selama kurang lebih tiga bulan. Sementara itu, D baru bekerja di sana selama sepekan.
Tak lama kemudian, mobil ambulans datang. Kepolisian juga menyusul. Nani mengatakan korban sempat diobati di tempat sebelum dibawa ke rumah sakit.
Mereka lalu dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 01.00 WIB. Salah satu korban dinyatakan meninggal di RSAL Dr. Mintoharjo.
Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat Ajun Komisaris Besar Roby Heri Saputra mengatakan berdasarkan informasi sementara, kedua PRT itu tidak betah bekerja di sana. “Terus kabur dengan cara melompat," katanya pada Kamis, 23 April 2026, seperti dikutip Antara.
Ia menyebutkan ada informasi lain bahwa sikap bosnya yang galak membuat dua PRT itu ingin kabur. Namun, kepolisian belum mengetahui apakah galak yang dimaksud berupa tindakan atau ucapan.
"Ada saksi yang lain ngomong bahwa mereka itu tidak betah karena majikannya sadis. Sadis itu tidak tahu seperti apa, tapi tidak ngomong suka menyiiksa, hanya galak," kata Roby.







































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4908650/original/070505300_1722696593-20240803BL_Perebutan_Peringkat_Ketiga_Piala_Presiden_2024_3.JPG)








