BNN Khawatir Bandar Narkoba Indonesia seperti di Brazil

19 hours ago 3

KEPALA Badan Narkotika Nasional atau BNN, Komisaris Jenderal Suyudi Ario Seto, mengungkap kondisi peredaran narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya atau narkoba belakangan ini. Lembaga tersebut menilai pergerakan pelaku sudah semakin terkonsolidasi dengan modus pengedaran yang kian kompleks.

Suyudi mengaku khawatir bisnis narkoba di Indonesia semakin besar. "Seperti di Meksiko dan Brasil, yang bandarnya punya pasukan dan senjata yang kuat," kata Suyudi dalam acara peringatan Hari Anti Narkotika Internasional, di Balai Besar Rehabilitasi BNN Lido, Bogor pada Kamis, 23 Juli 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Suyudi mengatakan, pihaknya menemukan sejumlah bandar narkoba di Indonesia memiliki amunisi persenjataan. Petugas menyita sekitar 19 pucuk senjata api dan 64 bilah senjata tajam dari tangan para pelaku. 

Menurut Suyudi, kondisi itu semestinya menjadi alarm untuk memperkuat upaya pemberantasan narkoba. "Artinya para bandar ini sangat mempersiapkan diri untuk melawan petugas," kata dia. 

Selain itu, BNN juga menemukan ada semacam ekosistem bisnis narkoba yang berlangsung di Bali yang dijalankan seluruhnya oleh warga Rusia. Bahkan pemakainya orang-orang Rusia juga.

Menurut Suyudi, kelompok warga Rusia tersebut biasanya memproduksi dan mengonsumsi narkoba sintetis jenis mephedrone. "Ini adalah campuran antara kokain dan MDMA atau ekstasi," ujar Suyudi. 

Suyudi menuturkan, pihaknya baru mengetahui hal itu setelah membongkar sebuah laboratorium ilegal atau clandestine lab di daerah Gianyar, Bali. Petugas menemukan 7,8 kilogram mephedrone beserta seorang pelaku warga negara Rusia. 

BNN kini telah berkoordinasi dengan otoritas penegak hukum di Rusia untuk bisa membongkar keberadaan para pelaku. "Kami terus menggali dan mengungkap jaringan internasional yang sedang kami buru di Rusia itu," ucap Suyudi. 

Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago, menilai peredaran narkoba di Indonesia sebetulnya sudah dalam tahap yang sangat gawat. Pemberantasan narkoba kini telah menjadi prioritas pemerintah. 

Menurut Djamari, cita-cita Indonesia mencapai generasi emas pada 2045 hanya bisa terwujud jika kelompok anak muda terbebas dari narkoba. "Jika generasi muda hancur karena narkoba, maka yang terjadi adalah Indonesia Cemas," ucap Djamari. 

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |