BMKG dan BRIN: El Nino 2026 Telah Tumbuh Menjadi Kuat

3 hours ago 3

KENAIKAN suhu muka laut di Samudra Pasifik ekuator bagian timur telah melampaui lebih dari 1,56 derajat Celsius daripada suhu normalnya. Itu artinya fenomena El Nino telah memasuki fase intensitas kuat.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG mengungkap perkembangan itu dalam 'Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian II Juli' yang dipublikasi pada 23 Juli 2026. "BMKG memprediksi El Nino 2026 akan mencapai level sangat kuat," bunyi keterangan tambahannya.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Beberapa daerah kemudian ditetapkan BMKG berstatus Waspada, Siaga, dan Awas terhadap kekeringan meteorologis sepanjang dasarian ketiga bulan ini (20-30 Juli). Beberapa daerah kota/kabupaten di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur disebutkan yang berstatus Awas atau status peringatan dini kekeringan yang tertinggi.

Analisis BMKG juga menyebutkan kalau nilai indeks Indian Ocean Dipole (IOD) pada Juni lalu masih berada dalam fase netral. Prediksinya, nilai itu akan beralih menuju positif mulai September hingga Desember nanti. Seperti diketahui IOD+ mirip dengan fenomena El Nino di Samudra Pasifik, yang menyebabkan wilayah Indonesia kering tanpa hujan.

Peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin juga telah pada pekan lalu menyebut El Nino telah memasuki fase intensitas kuat (+1,5 derajat Celsius). Kenaikan suhu muka laut di region yang disebut Nino3.4 di Samudra Pasifik disebutkannya naik 0,2 derajat setiap pekannya sejak Februari lalu.

Versi Erma, anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik saat ini bahkan telah mencapai +1,74 derajat. Angka anomali ini sudah melampaui fenomena El Nino kuat pada 2023 lalu. "Fixed, El Nino 2026 akan jauh lebih kuat dibandingkan 2023. Begitupun dengan dampak yang ditimbulkannya."

Menurutnya, ada peluang sebesar 81 persen kalau El Nino super atau El Nino sangat kuat (+2.0 derajat Celsius derajat) akan dicapai pada Oktober-November-Desember nanti. Artinya, Erma menerangkan, El Nino bisa bertahan sampai tahun depan.

Yang juga mendapat perhatiannya adalah anomali pemanasan suhu air di bawah muka laut (subsurface). Pekan lalu Erma menyebut kenaikan suhu subsurface tersebut sebesar 5 derajat. Tapi kini sudah +7 derajat. "Panas di subsurface ini akan didistribusikan ke permukaan dan pada akhirnya dilepaskan ke atmosfer," kata Erma.

Dampaknya, menurut Erma, bisa dilihat Samudra Pasifik tumbuh sebagai pusat tekanan rendah yang mampu membangkitkan badai-badai secara berurutan. Hujan di Indonesia, Afrika Selatan, dan Brasil boleh dibilang telah disedot ke satu lokasi itu.

Di Indonesia, Erma menambahkan, Kalimantan adalah pulau yang paling responsif terhadap dampak kekeringan dari El Nino. "Jangan sampai terjadi karhutla padahal lagi peak-peak nya," katanya berpesan.

Pilihan Editor: Seperti Apa Drone ITB untuk Jaga Perbatasan Negara

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |