6 Fakta Culling Game di Jujustu Kaisen

4 hours ago 1
6 Fakta Culling Game di Jujustu Kaisen Culling Game(Doc IMDB)

DALAM dunia Jujutsu Kaisen, busur cerita (arc) Culling Game atau Permainan Pemusnahan menjadi salah satu fase paling krusial sekaligus mematikan. Setelah insiden Shibuya yang meluluhlantakkan Tokyo, struktur masyarakat penyihir berubah total akibat rencana besar yang disusun oleh Kenjaku.

Culling Game bukan sekadar turnamen pertarungan biasa. Ini adalah ritual jujutsu berskala besar yang melibatkan ratusan penyihir dari berbagai era. Bagi Anda yang sedang mengikuti kelanjutan kisah Yuji Itadori dan kawan-kawan, memahami mekanisme permainan ini sangatlah penting untuk mengetahui arah akhir dari cerita karya Gege Akutami ini.

Berikut adalah 6 fakta penting mengenai Culling Game di Jujutsu Kaisen yang perlu Anda ketahui.

1. Ritual untuk Evolusi Umat Manusia

Tujuan utama Kenjaku menciptakan Culling Game bukanlah untuk mencari siapa yang terkuat, melainkan sebagai sarana pengumpulan energi kutukan dalam jumlah masif. Kenjaku berniat memaksa evolusi umat manusia di Jepang dengan cara menyatukan mereka dengan Tengen-sama.

Untuk mencapai penggabungan (merger) tersebut, diperlukan energi kutukan yang sangat besar yang dihasilkan dari pertarungan hidup dan mati antar peserta di dalam koloni-koloni yang telah ditentukan. Culling Game berfungsi sebagai "inkubator" untuk mempersiapkan dunia menuju era baru yang diinginkan Kenjaku.

2. Melibatkan 10 Koloni di Seluruh Jepang

Culling Game tidak terjadi di satu lokasi saja, melainkan tersebar di 10 koloni yang membentuk garis batas (barrier) di sepanjang Jepang, mulai dari Aomori hingga Kagoshima. Satu-satunya wilayah yang tidak tersentuh oleh barrier ini adalah Hokkaido, yang dianggap sebagai tanah suci oleh masyarakat jujutsu.

Setiap koloni berfungsi sebagai medan tempur tertutup. Begitu seseorang masuk ke dalam koloni, mereka secara otomatis terdaftar sebagai pemain dan harus mengikuti aturan main yang berlaku atau menghadapi kematian akibat pelanggaran sumpah pengikat (Binding Vow).

3. Aturan Main yang Mengikat (Binding Vow)

Culling Game dikendalikan oleh serangkaian aturan ketat yang bekerja berdasarkan prinsip Binding Vow. Beberapa aturan dasarnya meliputi:

  • Pemain harus menyatakan partisipasi mereka di koloni pilihan dalam waktu 19 hari setelah membangkitkan teknik kutukan.
  • Pemain yang melanggar aturan atau menolak berpartisipasi akan kehilangan teknik kutukan mereka, yang berujung pada kematian.
  • Poin diberikan berdasarkan pembunuhan: 5 poin untuk penyihir dan 1 poin untuk non-penyihir.
  • Pemain dapat menambahkan aturan baru dengan menukarkan 100 poin, selama aturan tersebut tidak mengganggu kelangsungan jangka panjang permainan.

4. Kebangkitan Penyihir Masa Lalu

Salah satu hal yang membuat Culling Game sangat berbahaya adalah kehadiran penyihir dari masa lalu. Kenjaku telah membuat kontrak dengan berbagai penyihir kuat dari era Heian dan era lainnya selama ribuan tahun.

Penyihir-penyihir ini bereinkarnasi ke dalam tubuh manusia modern yang telah ditandai oleh Kenjaku. Karakter seperti Hajime Kashimo dan Ryu Ishigori adalah contoh penyihir masa lalu yang memiliki kekuatan luar biasa dan motivasi tersendiri untuk bertarung di era modern.

5. Peran Krusial "Game Master"

Meskipun Kenjaku adalah arsitek di balik permainan ini, dia bukanlah Game Master yang memiliki kendali penuh secara teknis. Culling Game berjalan secara otomatis melalui sistem barrier dan sumpah pengikat yang sangat kompleks.

Hal ini dilakukan agar permainan tetap berjalan meskipun Kenjaku tewas. Namun, Kenjaku tetap memiliki otoritas untuk memanipulasi aturan melalui poin yang dikumpulkan atau dengan memanfaatkan celah dalam sistem untuk mempercepat ritual penggabungan dengan Tengen.

6. Dampak Terhadap Masyarakat Non-Penyihir

Culling Game membawa dampak bencana bagi warga sipil. Ribuan orang terjebak di dalam koloni dan menjadi sasaran empuk bagi para penyihir yang haus poin. Selain itu, Kenjaku juga melibatkan pihak militer asing untuk masuk ke dalam koloni dengan dalih riset energi alternatif.

Kehadiran tentara non-penyihir ini sebenarnya adalah bagian dari rencana Kenjaku untuk meningkatkan jumlah kematian di dalam koloni, sehingga energi kutukan yang dilepaskan saat mereka mati di tangan roh kutukan atau penyihir lain dapat mempercepat proses ritual.

Culling Game adalah puncak dari rencana seribu tahun Kenjaku. Ini bukan sekadar pertarungan antar karakter, melainkan sebuah mekanisme sistematis untuk mengubah tatanan dunia Jujutsu Kaisen selamanya. Keberhasilan atau kegagalan Yuji Itadori dalam menghentikan permainan ini akan menentukan nasib seluruh umat manusia. (Z-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |