5 Transisi Struktural Industri Fintech Indonesia Menurut AMS AFTECH 2025-2026

4 hours ago 4
5 Transisi Struktural Industri Fintech Indonesia Menurut AMS AFTECH 2025-2026 Penjabaran Annual Members Survey AFTECh(MI/HO)

INDUSTRI teknologi finansial (fintech) di Indonesia kini tengah memasuki babak baru. Setelah lebih dari satu dekade tumbuh secara ekspansif, sektor ini mulai bergeser ke arah pendewasaan yang lebih stabil dan berkelanjutan. Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) memetakan fenomena ini melalui lima transisi struktural yang akan menentukan daya saing industri di masa depan.

Pemetaan strategis tersebut tertuang dalam Annual Members Survey (AMS) 2025–2026. Survei ini melibatkan 141 perusahaan anggota AFTECH yang mencakup berbagai sektor, mulai dari sistem pembayaran, pembiayaan digital, aset digital, hingga platform pendukung ekosistem lainnya.

Ketua Umum AFTECH, Pandu Sjahrir, menekankan bahwa fase pendewasaan ini mengubah tolok ukur keberhasilan industri.

"Daya saing ke depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat perusahaan tumbuh, tetapi oleh seberapa kuat fundamental bisnisnya, konsistensi implementasi regulasi, kepercayaan digital, serta dampak nyata bagi ekonomi," ujar Pandu.

Lima Transisi Struktural Utama

Berdasarkan hasil AMS 2025-2026, berikut adalah lima pergeseran mendasar yang sedang terjadi di industri fintech nasional:

  1. Dari Pertumbuhan ke Fundamental Bisnis: Fokus industri kini beralih pada profitabilitas dan efisiensi. Sebanyak 77% responden memilih kemitraan strategis sebagai motor pertumbuhan, sementara 97% tetap mempertahankan model bisnis mereka, menunjukkan stabilitas yang mulai terbentuk.
  2. Dari Regulasi ke Kepastian Implementasi: Kebutuhan industri kini bergeser pada harmonisasi dan kepastian penerapan aturan. Mayoritas responden (84%) mengharapkan stabilitas regulasi sebagai bentuk dukungan utama pemerintah.
  3. Dari Infrastruktur ke Kepercayaan Digital: Konektivitas saja tidak cukup. Fokus kini beralih pada keamanan, di mana 53% responden memprioritaskan penguatan identitas digital.
  4. Dari Adopsi Teknologi ke Penguatan Kapabilitas: Tantangan terbesar saat ini adalah ketersediaan talenta. Sekitar 48% perusahaan mengaku kesulitan merekrut tenaga ahli di bidang data, AI, dan analitik.
  5. Dari Inklusi ke Dampak Berkelanjutan: Setelah akses terbuka luas, tantangannya adalah literasi. Sebanyak 71% responden menilai rendahnya literasi keuangan masih menjadi hambatan utama masyarakat dalam merasakan manfaat nyata fintech.

Kesehatan Industri dan Adopsi Teknologi

Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, menambahkan bahwa data AMS menunjukkan tren positif pada sisi tata kelola dan profitabilitas. Saat ini, 43% responden telah berhasil membukukan laba, dan 81% telah menjalin kolaborasi aktif dalam ekosistem digital.

Dari sisi teknologi, kecerdasan buatan (AI) telah menjadi bagian integral dari operasional harian. Sebanyak 83% responden telah menguji coba atau menggunakan AI untuk berbagai kebutuhan, mulai dari deteksi fraud hingga penilaian kredit (credit scoring).

Data Kunci Industri Fintech (AMS 2025-2026)

Indikator Persentase
Perusahaan yang telah membukukan laba 43%
Menggunakan/menguji coba teknologi AI 83%
Menilai regulasi saat ini mendukung inovasi 86%
Memiliki atau sedang mengembangkan program ESG 56%
Menjalankan program literasi keuangan 81%

Selain aspek bisnis, komitmen terhadap keberlanjutan juga meningkat. Sebanyak 50% responden menyatakan produk mereka dirancang khusus untuk menjangkau kelompok unbanked dan underserved, sementara 56% mulai mengintegrasikan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) ke dalam operasional mereka.

Melalui temuan ini, AFTECH menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kolaborasi antara regulator, pelaku industri, dan institusi pendidikan guna memastikan ekosistem keuangan digital Indonesia tetap inovatif, aman, dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. (Z-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |