10 Desa di Purbalingga Terdampak Kekeringan, Warga Butuh Bantuan Air Bersih

14 hours ago 3
10 Desa di Purbalingga Terdampak Kekeringan, Warga Butuh Bantuan Air Bersih 10 desa yang tersebar 6 kecamatan di Purbalingga mengalami kekeringan(Doc BPBD Purbalingga)

SEBANYAK 10 desa yang tersebar 6 kecamatan di Purbalingga, Jawa Tengah mengalami kekeringan. Warga di wilayah tersebut kini membutuhkan bantuan pasokan air bersih.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purbalingga Revon Haprindiat mengatakan 6 kecamatan yang terdampak meliputi Karangreja, Karanganyar, Pengadegan, Kejobong, Kemangkon, dan Rembang. Menurutnya, jumlah desa yang mengalami kekeringan masih berpotensi bertambah apabila musim kemarau terus berlangsung.

"Sejumlah sumber mata air di Purbalingga mulai mengalami penurunan debit sehingga pasokan air bersih di beberapa wilayah ikut berkurang," kata Revon, Senin (20/7).

Ia menjelaskan, selain dipicu musim kemarau, gangguan pasokan air juga disebabkan belum pulihnya sejumlah jaringan distribusi yang rusak akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Purbalingga pada Januari 2026.

Kondisi tersebut membuat BPBD masih terus menyalurkan bantuan air bersih ke Desa Serang dan Desa Kutabawa. Kedua desa tersebut hingga kini belum dapat menikmati layanan air secara normal karena jaringan distribusi belum sepenuhnya diperbaiki. 

"Untuk Desa Serang dan Kutabawa memang belum pulih sehingga kami masih melakukan dropping air bersih sejak awal," ujarnya.

Dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, BPBD bekerja sama dengan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Perwira Purbalingga. Hingga saat ini, pasokan air dari Perumdam dinilai masih mencukupi untuk mendukung penyaluran bantuan ke wilayah terdampak.

BPBD mengimbau masyarakat menggunakan air secara hemat selama musim kemarau. Warga diminta memanfaatkan air sesuai kebutuhan serta menjaga sumber-sumber air agar tetap tersedia hingga musim hujan tiba.

Selain ancaman kekeringan, BPBD juga mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang biasanya meningkat pada musim kemarau.

Revon mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta memastikan api benar-benar padam setelah digunakan, terutama saat beraktivitas di kawasan hutan maupun jalur pendakian.

Menurutnya, jalur pendakian menjadi salah satu kawasan yang memiliki risiko tinggi terjadi kebakaran hutan karena akses menuju lokasi cukup sulit dan ketersediaan sumber air untuk pemadaman sangat terbatas.

"Upaya pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk meminimalkan risiko kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau," kata Revon. (LD)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |