Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pemerintahnya telah mengambil minyak yang semula berada di kapal-tanker Venezuela yang disita oleh militer AS, dan minyak itu kini sedang diolah di kilang-kilang di Amerika Serikat termasuk di wilayah Houston, Texas.
Pernyataan ini disampaikan Trump dalam wawancara dengan New York Post yang diterbitkan pada Sabtu (24/1), di tengah meningkatnya ketegangan dengan Caracas dan upaya Washington mengendalikan aliran minyak Venezuela.
"Ayo begini saja, mereka tidak punya minyak. Kita yang mengambil minyaknya," ujar Trump kepada media tersebut, mengutip Reuters.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah itu merupakan bagian dari kampanye yang lebih luas oleh administrasi Trump untuk menguasai aliran minyak dari Venezuela, negara dengan salah satu cadangan minyak terbesar di dunia. Sejak awal kampanye, militer AS dikabarkan telah menyita sedikitnya tujuh kapal tanker yang terkait dengan Venezuela, dengan alasan penegakan sanksi dan pengendalian perdagangan minyak.
Trump mengklaim bahwa sejak beberapa waktu lalu, pemerintahannya telah 'mengeluarkan' sekitar 50 juta barel minyak dari Venezuela, dan sebagian sudah dijual di pasar global.
Menurut Trump, minyak hasil penyitaan itu sedang diolah di sejumlah tempat di Amerika Serikat, termasuk di kilang-kilang yang mampu menangani jenis minyak berat Venezuela yang dikenal lebih pekat dibanding minyak mentah jenis ringan. Pengolahan di kilang AS dipandang sebagai cara cepat untuk memanfaatkan minyak yang disita itu secara komersial.
Namun, tidak semua pihak memberi konfirmasi atau komentar tentang rencana ini. Permintaan komentar kepada kilang maupun perusahaan migas besar termasuk Chevron, SLB, Halliburton, dan Baker Hughes tidak segera mendapat respons.
Selain memproses minyak yang disita, administrasi AS disebut juga tengah melakukan pembicaraan dengan perusahaan minyak besar mengenai rencana untuk meningkatkan produksi minyak mentah Venezuela yang turun drastis dalam beberapa tahun terakhir akibat kurangnya investasi dan infrastruktur yang usang.
Sumber Bloomberg News menyebut diskusi itu melibatkan perusahaan-perusahaan seperti Chevron, SLB (dahulu Schlumberger), Halliburton, dan Baker Hughes, yang diharapkan dapat memperbaiki dan memperbaharui fasilitas produksi agar output bisa meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
Langkah Washington ini memicu kontroversi. Venezuela sebelumnya menyerukan penolakan keras terhadap penyitaan kapal dan minyaknya, meskipun pemerintah AS membela tindakan itu sebagai bagian dari upaya menegakkan sanksi dan membatasi aliran minyak Venezuela di tengah dinamika geopolitik yang kompleks.
(tis/tis)

9 hours ago
6


































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5343503/original/009674500_1757434237-20250909AA_Timnas_Indonesia_U-23Vs_Korea_Selatan-03.JPG)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5390165/original/033586000_1761235850-Persib_Bandung_1.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5267951/original/037003100_1751185942-souza.jpg)


