PERSEKUTUAN Gereja-Gereja di Indonesia atau PGI mengecam keras tindakan kekerasan dan serangan bersenjata yang belakangan meningkat di Papua. Kepala Biro PGI Papua Pdt. Ronald Rischard Tapilatu mengatakan konflik itu menyebabkan korban jiwa berjatuhan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Dia menyoroti penembakan terhadap pilot asal Amerika Serikat, Nicholas F. Goselin, serta pembakaran pesawat perintis AMA PK-RCY di Bandara Ipdeheik, Yahukimo pada 2 Juli lalu. Peristiwa itu menambah daftar panjang kasus pembunuhan di wilayah Indonesia paling timur tersebut.
Berdasarkan catatan PGI, warga sipil, pendeta, ibu hamil dan bayi yang dikandung, hingga aparat keamanan menjadi korban jiwa akibat berbagai peristiwa kekerasan. "Konflik juga menyebabkan ribuan warga sipil mengungsi akibat memburuknya situasi keamanan," kata dia dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 4 Juli 2026.
Ronald mengatakan jatuhnya korban dari berbagai kalangan tak hanya menyisakan luka bagi keluarga. Lebih dari itu, ujar dia, konflik bersenjata yang terus-menerus terjadi di Papua telah melukai harkat martabat kemanusiaan.
Menurut dia, setiap nyawa yang terbunuh mesti dimaknai sebagai tragedi kemanusiaan yang menyedihkan. "Apa pun kepentingan atau alasannya baik politik maupun keamanan, menghilangkan nyawa manusia yang tak bersalah tidak dapat dibenarkan," ujar dia.
PGI mendesak semua pihak yang berkonflik untuk menghentikan segala bentuk kekerasan. Ronald menegaskan keselamatan dan pelindungan terhadap warga sipil harus diprioritaskan.
"Mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas seluruh peristiwa ini melalui penyelidikan independen dan tidak memihak," ucapnya.
PGI juga meminta agar pelaku yang terbukti bersalah dijatuhkan sanksi hukuman berat. Termasuk penegakan terhadap aparat kepolisian dan prajurit militer yang patut diduga melanggar hukum atau hak asasi manusia.
Selain itu, dia mengatakan negara harus merespons seruan dialog damai yang disampaikan pihak gereja, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat sipil sebagai solusi penyelesaian. PGI, kata dia, menilai pendekat militeristik yang diterapkan selama ini gagal menghasilkan jalan keluar yang berorientasi pada perdamaian dan keadilan.
"Pendekatan militeristik justru melahirkan penderitaan panjang yang berulang bagi warga sipil di daerah konflik," ujar Ronald.






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)








:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6007179/original/011565500_1778899711-20260512BL_Portrait_John_Herdman_24.jpg)









