Nilai Tukar Rupiah Ditentukan Pasar Obligasi

4 hours ago 2

TEMPO.CO, Jakarta - KEPALA Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan stabilisasi nilai tukar rupiah memerlukan capital inflow atau aliran masuk modal asing yang lebih besar. Pasar obligasi dinilai sebagai faktor paling menentukan arah rupiah karena merupakan pintu masuk utama bagi aliran modal portofolio asing.

“Investor asing memang mulai kembali membeli obligasi Indonesia, namun menurut saya proses tersebut masih berada pada tahap awal,” ucap Fakhrul dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu, 4 Juli 2026. Menurut dia, untuk menghasilkan arus modal yang berkelanjutan, pasar obligasi Indonesia perlu menawarkan tingkat imbal hasil yang cukup menarik dibandingkan risiko global yang masih tinggi.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ia melanjutkan langkah Bank Indonesia (BI) memperketat pengelolaan likuiditas merupakan fondasi yang tepat. Sebagai informasi, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali menjadi 5,75 persen.

Namun demikian, Fakhrul berpendapat, keberhasilan proses stabilisasi tersebut memerlukan konsistensi kebijakan dari BI dan Kementerian Keuangan. “Tantangan berikutnya bukan lagi menghentikan tekanan terhadap rupiah, tetapi membangun keyakinan investor bahwa proses normalisasi pasar obligasi akan dijalankan secara konsisten hingga Indonesia kembali menjadi salah satu tujuan utama investasi portofolio di kawasan,” katanya.

Dalam laporan tim ekonom Bank Rakyat Indonesia (BRI), investor asing mencatatkan aliran modal masuk sebesar Rp 70,39 triliun pada Juni 2026 seiring meningkatnya imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara modal asing yang masuk lewat Surat Berharga Negara (SBN) Rp 21,03 triliun.

Meski begitu, rasio bid-to-cover SBN dan SRBI pada Juni tercatat berada di bawah rata-rata historis 2025. Bid-to-cover SBN tercatat sebesar 1,82 kali untuk SBN, lebih rendah dibandingkan pada 2025 yaitu 3,19 kali. Sementara bid-to-cover SRBI tercatat sebesar 1,98 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata 2025 sebesar 2,80 kali. “Penurunan bid-to-cover pada SBN dan SRBI secara bersamaan mengindikasikan permintaan investor terhadap aset keuangan domestik yang relatif terbatas secara agregat,” tulis tim ekonom BRI dalam kajiannya, dikutip Sabtu, 4 Juli 2026.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |