Pengendali Drone Buatan Mahasiswa ITB Juara di Singapura

2 hours ago 4

TIM mahasiswa Fakultas Teknik Mesin Dirgantara Institut Teknologi Bandung (FTMD ITB) angkatan 2022 meraih medali emas dan penghargaan Best International Team di ajang Singapore Amazing Flying Machine Competition (SAFMC) pada April 2026. Mereka menampilkan inovasi sarung tangan pengendalian drone oleh pilot melalui gerakan tangan. 

Karya inovasi yang dilombakan itu merupakan tugas akhir dari anggota tim, yaitu Jeffrey Sirait, mahasiswa Teknik Dirgantara, yang berjudul “Pengembangan Controller Berbasis Drone Wearable". Sementara rekan satu timnya adalah Manggora Zerah Kristina Simanjuntak dari program studi Teknik Material. Mereka menamakan timnya sebagai Bucipro.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Tangan adalah anggota tubuh yang paling sering kita gunakan sehari-hari, sehingga lebih mudah beradaptasi saat digunakan untuk hal baru," kata Jeffrey di laman resmi ITB, Selasa, 19 Mei 2026.

Singapore Amazing Flying Machine Competition adalah kompetisi tahunan teknologi pesawat tanpa awak yang dikendalikan dari jarak jauh atau terbang secara mandiri dengan peserta dari kalangan institusi berbagai negara. Inovasi tim mahasiswa ITB itu menjadi keunikan di antara peserta lomba lain yang mengandalkan banyak remote control serta anggota tim hingga lima orang. 

Menurut Jeffrey, sarung tangan pengendali drone itu beroperasi dengan sensor IMU (Inertial Measurement Unit) yang mendeteksi gerakan telapak tangan. Data dari sensor tersebut kemudian diproses oleh mikrokontroler bersama input dari tombol-tombol pendukung yang fungsinya menyerupai remote control  pada umumnya. “Selanjutnya dikirim melalui transmitter yang terpasang pada sarung tangan untuk berkomunikasi langsung dengan drone,” ujarnya.

Jeffrey mengatakan ia menjadikan ajang kompetisi internasional itu sebagai arena uji dari tugas akhirnya. Dia ingin mengetahui apakah sistem alatnya sudah benar dan berjalan baik. "Menurut saya, jarang ada yang membuktikan teori tugas akhir langsung lewat kompetisi,” kata dia.

Tim mempersiapkan ikut lomba sejak Desember 2025. Jeffrey merancang sistem dari Tokyo, tempat ia menjalani program pertukaran mahasiswa jalur internasional, sementara Manggora mengerjakan perakitan di Bandung.

Sarung tangan canggih itu selesai dibuat pada Februari 2026. Sebelumnya Jeffrey selama dua tahun berturut-turut meraih medali emas dan Best International Team bersama Tim Aksantara ITB. Pengalaman itu memberinya pemahaman mendalam soal tren kompetisi dari tahun ke tahun. 

Menurutnya, potensi mahasiswa Indonesia di kancah internasional sangat besar karena idenya tidak kalah unggul. Tantangannya justru ada pada keberanian untuk mencoba dan kemampuan berkolaborasi dalam mewujudkan ide tersebut. "Ide seaneh apa pun, coba dulu. Mau menang atau tidak, yang penting puas karena sudah mencoba," kata Jeffrey. Medali bagi mereka hanya sebagai bonus dari suatu kompetisi. 

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |