(Al Jazeera)
JUTAAN warga Iran memadati jalan-jalan di Teheran pada Sabtu (5/7) untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Upacara pemakaman kenegaraan yang megah ini menandai berakhirnya era kepemimpinan Khamenei yang mendominasi Iran selama puluhan tahun sebelum ia tewas dalam konflik dengan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.
Puluhan ribu orang mulai tiba sejak fajar di Masjid Agung Mosalla, ibu kota Teheran, untuk memulai rangkaian upacara publik selama enam hari. Jenazah Khamenei dijadwalkan akan dibawa ke berbagai kota di seluruh negeri, dengan jutaan orang diperkirakan akan berpartisipasi dalam prosesi tersebut.
Ketegangan di Tengah Duka Nasional
Peti mati Ayatollah Khamenei, yang ditempatkan dalam kotak kaca dan dibalut bendera Iran, diletakkan di atas panggung bersama peti mati beberapa anggota keluarganya yang juga tewas dalam serangan tersebut, termasuk putri dan dua cucunya. Di tengah suasana duka, massa meneriakkan slogan-slogan anti-Amerika Serikat dan anti-Israel serta membawa spanduk yang menuntut balas dendam.
Momen ini menjadi titik krusial bagi Iran yang tengah dilanda krisis beruntun, mulai dari protes antipemerintah yang ditindak keras hingga perang berbulan-bulan dengan AS dan Israel. Serangan udara Israel pada hari pertama konflik dilaporkan menjadi penyebab tewasnya Khamenei beserta jajaran pemimpin tinggi Iran lain.
Ancaman Donald Trump dan Gencatan Senjata
Di tengah prosesi pemakaman, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan kontroversial. Trump mengeklaim bahwa ia memiliki kemampuan untuk melenyapkan seluruh kepemimpinan Iran yang tersisa hanya dengan satu serangan saat mereka berkumpul di upacara pemakaman. Namun, Trump menyatakan tidak akan melakukannya karena ingin tetap memiliki pihak untuk bernegosiasi.
"Mereka semua ada di sana. Satu tembakan dan kita bisa menghabisi mereka semua, tetapi kita tidak akan melakukan itu karena kita tidak akan punya siapa-siapa lagi untuk diajak bernegosiasi," ujar Trump kepada Axios. Ia juga menambahkan bahwa kedua belah pihak sepakat untuk menghentikan serangan selama sepekan hingga rangkaian pemakaman selesai.
Jadwal Rangkaian Pemakaman:
- 4 Juli: Dimulainya upacara publik di Teheran (bertepatan dengan HUT ke-250 AS).
- 7 Juli: Upacara keagamaan di kota suci Qom.
- 9 Juli: Pemakaman akhir di kota suci Mashhad, kampung halaman Khamenei.
Transisi Kepemimpinan dan Kritik Internal
Pascakematian Khamenei, putranya, Mojtaba Khamenei, ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi yang baru. Namun, hingga saat ini Mojtaba belum terlihat muncul di hadapan publik, dan belum dipastikan apakah ia akan menghadiri rangkaian upacara pemakaman ayahnya.
Meskipun pendukung konservatif menunjukkan kesetiaan yang mendalam, tidak sedikit warga Iran yang memandang sinis pemakaman mewah ini. Selama 37 tahun kekuasaannya, Khamenei dikritik karena menekan perbedaan pendapat serta membiarkan salah kelola ekonomi dan korupsi merajalela. Di sisi lain, kelompok garis keras agama juga mulai melontarkan kritik, menganggap gencatan senjata dengan Amerika Serikat sebagai bentuk kapitulasi atau menyerah kalah.
Pemakaman ini baru dapat dilaksanakan empat bulan setelah kematian Khamenei, menyusul kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani bulan lalu. Analis menilai otoritas Iran sebelumnya ragu menyelenggarakan acara besar yang melibatkan pejabat senior karena tingginya risiko serangan udara dari pihak lawan. (New York Times/I-2)































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)






:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6007179/original/011565500_1778899711-20260512BL_Portrait_John_Herdman_24.jpg)











