Tim pengabdian masyarakat dari ITB dan IPB University, bantu terapkan teknologi rumpon portabel untuk nelayan.(Dok.Istimewa)
INSTITUT Teknologi Bandung (ITB) bersama IPB University mengembangkan teknologi rumpon portabel berbasis atraktor suara untuk meningkatkan hasil tangkapan nelayan di Desa Kabetan, Kabupaten Toli-Toli, Sulawesi Tengah. Teknologi tersebut diterapkan melalui program pengabdian kepada masyarakat yang berlangsung pada Oktober 2025 hingga Juli 2026.
Program bertajuk Intensifikasi Penerapan Teknologi Rumpon Portabel dan Alat Tangkap untuk Peningkatan Hasil Tangkapan Nelayan Desa Kabetan itu didanai Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB.
Kegiatan dipimpinSri Raharno dari Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB bersama Indria Herman, serta berkolaborasi dengan Roza Yusfiandayani dari Departemen Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University. Program juga melibatkan mahasiswa Program Doktor dan Sarjana Teknik Mesin ITB.
Desa Kabetan merupakan wilayah kepulauan yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Selama ini, aktivitas penangkapan ikan masih menggunakan teknologi sederhana dan dilakukan di perairan dangkal sehingga hasil tangkapan didominasi ikan karang yang memiliki nilai ekonomi relatif rendah. Sementara itu, potensi ikan pelagis bernilai ekonomi lebih tinggi belum dimanfaatkan secara optimal.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim mengembangkan rumpon portabel berbasis atraktor suara yang dirancang untuk mengumpulkan ikan pelagis di sekitar lokasi penangkapan. Perangkat ini dibuat agar mudah dirakit, dirawat, serta mampu dioperasikan hingga kedalaman 30 meter sehingga sesuai dengan kebutuhan nelayan di wilayah kepulauan.
UJI LAPANGAN
Sebelum diterapkan di Desa Kabetan, teknologi tersebut lebih dahulu melalui uji lapangan. Hasil pengujian menunjukkan penggunaan rumpon portabel mampu meningkatkan jumlah hasil tangkapan sekaligus memperluas variasi jenis ikan yang diperoleh nelayan. Temuan tersebut menjadi dasar penyempurnaan desain sebelum diterapkan secara luas.
Pada Juni 2026, tim melaksanakan implementasi teknologi di Desa Kabetan melalui penyerahan bantuan sarana penangkapan ikan, pelatihan penggunaan rumpon portabel, pendampingan nelayan, serta pemasangan fasilitas pendukung bagi masyarakat.
Bantuan yang disalurkan meliputi enam unit rumpon portabel berbasis atraktor suara, 23 paket jaring insang monofilamen, 10 paket pancing ulur, dan lima unit lampu jalan tenaga surya.
Selain menerima bantuan peralatan, nelayan juga mendapatkan pelatihan mengenai pemasangan, pengoperasian, dan perawatan rumpon portabel, termasuk penggunaan alat tangkap yang lebih efektif dan ramah lingkungan. Pendampingan dilakukan agar teknologi yang diperkenalkan dapat dimanfaatkan secara mandiri dan berkelanjutan.
Ketua Tim Pelaksana, Dr. Sri Raharno, mengatakan program tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan hasil tangkapan ikan, tetapi juga memperkuat kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi untuk mendukung kesejahteraan mereka.
"Teknologi yang kami kembangkan harus dapat digunakan oleh masyarakat dalam kondisi nyata. Karena itu, kegiatan ini tidak hanya berupa penyerahan alat, tetapi juga pelatihan, pendampingan, dan implementasi langsung di lapangan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang," kata Sri.
PEMANFAATAN ENERGI TERBARUKAN
Menurut dia, program tersebut juga mendorong pemanfaatan energi terbarukan melalui pemasangan lampu jalan tenaga surya. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan meningkatkan keamanan dan kenyamanan masyarakat sekaligus memperkenalkan penggunaan energi bersih di wilayah yang masih memiliki keterbatasan akses listrik.
Sri menambahkan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat nelayan membuktikan bahwa hasil riset di lingkungan kampus dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
"Dari pengembangan teknologi di laboratorium hingga implementasi di laut, rumpon portabel menjadi contoh bagaimana rekayasa teknik dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat pesisir," ujarnya.
Ia menambahkan, program tersebut mendukung pembangunan berkelanjutan melalui peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir, penguatan ketahanan pangan, pemanfaatan energi bersih, serta pengelolaan sumber daya laut yang lebih bertanggung jawab. Model pendampingan yang diterapkan di Desa Kabetan juga diharapkan dapat direplikasi di berbagai desa pesisir lain yang menghadapi tantangan serupa. (E-2)































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)






:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/6007179/original/011565500_1778899711-20260512BL_Portrait_John_Herdman_24.jpg)











