Jakarta, CNN Indonesia --
Serangan mendadak Israel yang dibantu oleh Amerika Serikat ke Iran, telah menelan korban lebih dari 1.000 warga sipil Iran.
Negara adidaya seperti Amerika Serikat dengan kekuatan militer nomor satu justeru membantu Israel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara Iran yang sudah lebih dari 40 tahun diembargo, harus mempertahankan diri sendirian. Para pengamat menyebut perang ini sebagai perang asimetris.
Daniel Riggs, mantan tentara dan pakar Hubungan Internasional dari London School of Economics menulis di jurnal militarystrategymagazine.com pada 2021, tentang perang asimetris.
Perang tersebut adalah strategi dan taktik tidak konvensional yang diadopsi oleh suatu kekuatan ketika kemampuan militer negara-negara yang bertikai bukan hanya sangat tidak setara, tetapi sangat berbeda sehingga mereka tidak dapat melakukan jenis serangan yang sama satu sama lain.
Misalnya perang gerilya antara partisan bersenjata ringan dan tentara konvensional dalam perang AS di Vietnem.
Daniel menguraikan, pemberontakan di Irak dan Afghanistan memahami bahwa pertempuran konvensional tidak mungkin dilakukan dengan AS.
Strategi yang dibutuhkan para milisi adalah membalikkan lingkungan operasional ke kekuatan mereka. Media murah dan bahan peledak buatan sendiri yang lebih murah menghentikan satu-satunya negara adidaya di dunia saat itu.
Kedua pemberontakan tersebut berhasil karena menguras harta AS, memperpanjang jangka waktu untuk kemungkinan kemenangan apa pun, kesabaran warga AS yang dulunya mendukung telah habis.
Dikutip dari laman Britannica, secara teori pembajakan dan bom bunuh diri, juga dianggap asimetris, baik karena cenderung melibatkan kelompok yang lebih kecil dan lebih lemah yang menyerang kelompok yang lebih kuat, maupun karena serangan terhadap warga sipil pada dasarnya adalah perang satu arah.
Perang antara negara yang mampu dan bersedia menggunakan senjata nuklir dan negara yang tidak mampu akan menjadi contoh lain dari perang asimetris.
Kemenangan dalam perang tidak selalu diraih oleh kekuatan yang unggul secara militer. Memang, kekuatan kolonial telah menghadapi ancaman asimetris sejak munculnya kekaisaran.
Pada abad ke-6 SM Darius I dari Persia, yang memimpin pasukan terbesar dan terkuat pada saat itu, dihentikan oleh Bangsa Skithia yang memiliki pasukan yang lebih kecil tetapi jauh lebih lincah.
Seperti yang diceritakan oleh Herodotus dalam Kitab IV karyanya. Dalam sejarah, bangsa Skithia mundur di hadapan pasukan utama Persia, menarik mereka lebih dalam ke wilayah Skithia, hanya untuk kemudian melancarkan serangan berkuda yang mematikan ke perkemahan Persia.
Darius terpaksa mundur, meninggalkan bangsa Skithia untuk menguasai wilayah di seberang Sungai Danube.
(imf/bac)

2 hours ago
1











































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486410/original/015853500_1769586166-Pesib_Kurzawa.jpg)



