Festival Gunung Slamet Gelar Tradisi Pengambilan Air Tuk Sikopyah, Simbol Pelestarian Alam

18 hours ago 6
Festival Gunung Slamet Gelar Tradisi Pengambilan Air Tuk Sikopyah, Simbol Pelestarian Alam Festival Gunung Slamet (FGS) IX kembali menjadi magnet wisata budaya di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga.(MI/Lilik Darmawan)

FESTIVAL Gunung Slamet (FGS) IX kembali menjadi magnet wisata budaya di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Pada hari kedua penyelenggaraan, Sabtu (4/7), masyarakat menggelar prosesi adat pengambilan air dari mata air Tuk Sikopyah yang menjadi simbol rasa syukur sekaligus komitmen menjaga kelestarian alam di lereng Gunung Slamet.

Festival yang berlangsung selama 3–5 Juli 2026 tersebut diawali dengan ritual pengambilan air di Dusun Kaliurip. Air dari mata air Tuk Sikopyah diambil oleh tokoh adat, kemudian dimasukkan ke dalam 99 lodong bambu serta satu Kendi Pratolo yang dibawa oleh para pemuda dan pemudi Desa Serang mengenakan pakaian adat.

Koordinator acara sekaligus pranata acara Festival Gunung Slamet IX, Tuwuh Permanajati, mengatakan angka 99 melambangkan Asmaul Husna sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas limpahan air yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga.

Menurutnya, prosesi tersebut juga memiliki makna pelestarian tradisi sekaligus upaya mengenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda agar tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.

"Tahun ini sebanyak 99 pemuda dan pemudi dilibatkan membawa lodong berisi air dari Tuk Sikopyah. Ini bukan sekadar ritual, tetapi bentuk penghormatan terhadap sumber kehidupan sekaligus pendidikan budaya bagi generasi penerus," ujarnya.

Ia menjelaskan, keberadaan mata air Tuk Sikopyah mengalami sedikit pergeseran setelah bencana longsor dan banjir bandang yang terjadi pada awal 2026. Meski demikian, sumber air tetap berasal dari mata air yang sama dan kini muncul di bawah Watu Langgar sehingga lebih mudah dijangkau masyarakat.

"Ini menjadi hikmah dari bencana. Mata air tetap mengalir, bahkan sekarang lokasinya lebih mudah diakses warga. Penyatuan air dari seluruh lodong juga melambangkan bersatunya doa dan harapan masyarakat untuk kemajuan Desa Serang," katanya.

Usai pengambilan air, rombongan melakukan kirab menuju kawasan wisata D'Las Serang. Arak-arakan semakin semarak dengan hadirnya 16 gunungan berisi hasil bumi berupa sayuran dan buah-buahan dari delapan RW di Desa Serang, serta iring-iringan peserta berkostum karnaval yang menarik perhatian pengunjung.

PESERTA PROSESI
Prosesi budaya tersebut diikuti tidak hanya oleh masyarakat setempat, tetapi juga wisatawan dari berbagai daerah yang datang untuk menyaksikan tradisi tahunan tersebut.

Setibanya di lokasi festival, rombongan disambut Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif bersama Wakil Bupati Dimas Prasetyahani beserta istri, Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara III Kementerian Pariwisata RI Indera Dewantho, perwakilan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah, unsur Forkopimda, Bank Indonesia Purwokerto, serta tamu undangan lainnya.

Selanjutnya dilakukan prosesi penyatuan air dari 99 lodong dan Kendi Pratolo ke dalam satu wadah besar. Bupati Fahmi menjadi orang pertama yang menuangkan air dari kendi, kemudian diikuti Wakil Bupati, jajaran pejabat, serta para pembawa lodong. Prosesi tersebut dimaknai sebagai simbol bersatunya doa, harapan, dan ikhtiar masyarakat dalam mewujudkan kehidupan yang lebih sejahtera.

Setelah didoakan oleh sesepuh adat, sebanyak 16 gunungan hasil bumi diperebutkan masyarakat. Tradisi itu diyakini membawa berkah sekaligus menjadi ungkapan syukur atas hasil pertanian yang selama ini menjadi penopang ekonomi warga lereng Gunung Slamet.

AGENDA TAHUNAN
Bupati Fahmi mengatakan Festival Gunung Slamet merupakan agenda tahunan yang tidak hanya melestarikan budaya lokal, tetapi juga mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat.

"Hari ini kita melaksanakan prosesi pengambilan air Tuk Sikopyah, penyatuan air, kirab gunungan hasil bumi hingga makan bersama Nasi 3G. Seluruh rangkaian ini mencerminkan semangat kebersamaan, rasa syukur, dan harapan agar kehidupan masyarakat semakin baik karena air adalah sumber kehidupan," katanya.

Menurut Fahmi, Festival Gunung Slamet telah memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, kegiatan tersebut dikunjungi sekitar 50 ribu wisatawan dengan nilai perputaran ekonomi mencapai sekitar Rp3,5 miliar.

Pemerintah Kabupaten Purbalingga berharap jumlah kunjungan pada tahun ini meningkat sehingga manfaat ekonomi semakin dirasakan masyarakat, terutama petani sayuran yang menjadi mata pencaharian utama warga Desa Serang.

Rangkaian prosesi budaya ditutup dengan makan bersama menikmati Nasi 3G, kuliner khas Desa Serang yang terdiri atas nasi jagung, gandul (tumis pepaya muda), gundil (tempe goreng), dan gereh atau ikan asin, sebagai simbol kebersamaan seluruh peserta Festival Gunung Slamet IX. (E-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |