Dugaan Rasialisme di EPA U-20, Erick Thohir Minta I-League dan Klub Liga Tegakkan Sikap Saling Hargai dan Empati

9 hours ago 1

Bola.com, Jakarta - Ketua PSSI Erick Thohir menegaskan, pihaknya tidak membenarkan segala bentuk ucapan, ungkapan, maupun perilaku rasialisme dalam sepakbola nasional.

Dalam kompetisi pembinaan dan juga profesional, setiap peristiwa yang mengandung unsur rasisme harus disikapi serius, tegas, dan bertanggung jawab oleh semua pihak, termasuk operator kompetisi dan para klub.

Erick Thohir menekankan, sepakbola usia muda tidak boleh hanya berfokus pada hasil pertandingan atau kemampuan teknis pemain. Menurutnya, pembinaan yang benar harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter, pengendalian emosi, penghormatan kepada lawan, dan kepatuhan terhadap aturan pertandingan serta keputusan wasit.

“FIFA dan PSSI tidak membenarkan segala bentuk ucapan dan ungkapan rasisme di sepakbola. Baik di kancah internasional dan juga nasional. Sejak usia muda, pemain harus dibentuk dengan prinsip fair play, anti-rasisme, toleransi, disiplin, dan penghormatan kepada wasit. Prestasi tidak cukup hanya dengan skill. Prestasi harus ditopang karakter dan watak yang baik," ujarnya di Jakarta, Rabu (22/4/2026)

Fadly Alberto meminta maaf usai menendang Rakha Nurkholis dalam laga EPA U-20 di Semarang, Minggu (19/4/2026). Ia mengakui kesalahan, meminta maaf ke tim, Timnas Indonesia, dan siap menerima sanksi dari PSSI.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Sikap Saling Menghargai

Karena itu, Erick Thohir meminta I-League sebagai operator Elite Pro Academy (EPA) dan juga kompetisi BRI Super League, Pegadaian Championship, serta klub-klub peserta kompetisi tersebut, tak pernah berhenti dan terus menegakkan sikap saling menghargai dan empati antar pemain.

PSSI juga meminta agar sosialisasi mengenai anti-rasisme, anti-kekerasan, toleransi, disiplin, kepatuhan terhadap aturan, dan penghormatan kepada wasit diperkuat secara konsisten di seluruh level EPA dan kompetisi profesional. Selain itu, pengawasan pertandingan harus diperketat agar kompetisi pemain muda benar-benar menjadi ruang belajar yang sehat, aman, dan mendidik.

“Kompetisi usia muda harus menjadi wadah tumbuhnya pemain yang lebih dewasa, matang, dan berkemampuan mumpuni. Karena itu, operator, klub, ofisial, dan seluruh pemangku kepentingan harus memastikan pembinaan karakter berjalan sekuat pembinaan teknik," lanjutnya.

Upaya Bhayangkara FC dan Dewa United

Dalam kesempatan ini, Erick Thohir juga menghargai usaha klub Bhayangkara FC dan Dewa United, asal para pemain yang terlibat dalam masalah tersebut, untuk mempertemukan dan mendamaikan kedua pemain, Fadly Alberto dan Rakha Nurkholis.

"Saya apresiasi karena kedua klub tetap menomorsatukan persatuan dan kesatuan sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Pancasila, bahwa meskipun kita berbeda-beda daerah, tapi kita semua ini berjuang bersama demi Indonesia. Ini harus menjadi pelajaran bagi pemain," tandas sosok yang juga menjabat sebagai Menpora RI itu. 

  • 0%suka
  • 0%lucu
  • 0%sedih
  • 0%marah
  • 0%kaget
  • 0%aneh
  • 0%takut
  • 0%takjub
  • Hery Kurniawan
  • Wiwig Prayugi
Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |