CNN Indonesia
Rabu, 02 Apr 2025 22:55 WIB

Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel Itamar Ben Gvir mengunjungi kompleks Masjid Al Aqsa di Kota Tua Yerusalem pada hari Rabu (2/4). Kunjungan itu memicu kecaman keras dari Yordania, Arab Saudi, dan kelompok pejuang Palestina Hamas
Melalui pernyataan Kementerian Luar Negeri, Arab Saudi mengutuk kunjungan tersebut dengan mengecam bahwa yang dilakukan Menteri Israel itu adalah penyerbuan terhadap Masjid Al Aqsa.
Ben Gvir mengunjungi Al Aqsa, yang merupakan tempat suci bagi orang Yahudi dan Muslim. Aksi provokasi Ben Gvir di tengah dimulainya invasi kembali Israel melawan Hamas di Gaza.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ben Gvir telah keluar dari kabinet pemerintahan Israel pada bulan Januari lalu sebagai protes atas perjanjian gencatan senjata di wilayah Palestina. Sejak pembentukan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada akhir tahun 2022, Ben Gvir telah mengunjungi kompleks Al Aqsa setidaknya delapan kali, dan selalu memicu kecaman internasional.
Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Yordania mengecam kunjungan Ben Gvir sebagai "serangan" dan "provokasi yang tidak dapat diterima". Yordania adalah negara penjaga situs suci tersebut.
Di sisi lain, Hamas menyebut provokasi Ben Gvir sebagai "eskalasi yang provokatif dan berbahaya". Hamas juga menyatakan kunjungan itu adalah "bagian dari genosida yang sedang berlangsung terhadap rakyat Palestina kami".
"Kami menyerukan kepada rakyat Palestina dan pemuda kami di Tepi Barat untuk meningkatkan konfrontasi mereka, untuk membela tanah dan kesucian kami, yang terpenting di antaranya adalah Masjid Al-Aqsa yang diberkahi," katanya dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir AFP.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Saudi menyatakan dalam sebuah pernyataan "kecaman terkerasnya" terhadap kompleks tersebut oleh Ben Gvir. Al Aqsa adalah tempat tersuci ketiga bagi umat Islam dan simbol identitas nasional Palestina.
Berdasarkan status quo yang dipertahankan oleh Israel, yang telah menduduki Yerusalem timur dan Kota Tua sejak 1967, orang Yahudi dan non-Muslim lainnya diizinkan untuk mengunjungi kompleks tersebut selama jam-jam tertentu, tetapi mereka tidak diizinkan untuk berdoa di sana atau memperlihatkan simbol-simbol keagamaan.
Situs tersebut dikelola oleh Yordania berdasarkan status quo, sementara akses ke sana dikontrol oleh pasukan keamanan Israel.
(wiw)