PT ANEKA Tambang Tbk. atau Antam mencatat kinerja keuangan positif pada triwulan I 2026. Pada periode Januari-Maret 2026, Antam membukukan laba bersih sebesar Rp 3,66 triliun, naik 58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2,32 triliun.
Kinerja ini juga diikuti peningkatan EBITDA sebesar 55 persen menjadi Rp 5,05 triliun, dari Rp 3,26 triliun pada kuartal I 2025.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Direktur Utama Antam, Untung Budiharto, mengatakan capaian tersebut ditopang oleh strategi pemasaran yang adaptif serta pengendalian biaya yang disiplin di seluruh lini operasional.
Dari sisi profitabilitas, laba kotor perusahaan tercatat Rp 5,62 triliun, naik 54 persen dari Rp 3,64 triliun. Sementara laba usaha meningkat 67 persen menjadi Rp 4,50 triliun.
“Kenaikan juga terlihat pada laba bersih per saham yang mencapai Rp 141,77, atau tumbuh 60 persen dibandingkan Rp 88,69 pada periode yang sama tahun lalu,” kata Untung dikutip dari keterangan tertulis, Kamis, 30 April 2026.
Di laporan posisi keuangan, total aset Antam mencapai Rp 63,30 triliun, meningkat 31 persen secara tahunan. Nilai ekuitas naik 17 persen menjadi Rp 40,41 triliun, sementara kas dan setara kas tumbuh 31 persen menjadi Rp 9,04 triliun.
Dari sisi pendapatan, Untung mengatakan perseroan mencatat penjualan bersih sebesar Rp 29,32 triliun, meningkat 12 persen dibandingkan Rp 26,15 triliun pada kuartal I 2025.
“Penjualan domestik mendominasi dengan kontribusi 97 persen atau Rp 28,31 triliun, terutama dari produk emas, bijih nikel, dan bauksit,” katanya.
Untung melanjutkan, segmen emas masih menjadi penopang utama dengan kontribusi sekitar 81 persen terhadap total penjualan. Nilai penjualan emas mencapai Rp 23,89 triliun, naik 11 persen, dengan volume penjualan sebesar 8.464 kilogram.
Untuk menjaga keberlanjutan pasokan, Antam menandatangani kerja sama Gold Sales & Purchase Agreement (GSPA) dengan Merdeka Copper Gold pada 4 Maret 2026.
Sementara itu, segmen nikel menyumbang 15 persen dari total penjualan atau sebesar Rp 4,47 triliun, meningkat 19 persen. Produksi bijih nikel mencapai 3,88 juta wet metric ton (wmt), dengan penjualan 3,40 juta wmt yang seluruhnya diserap pasar domestik.
Adapun segmen bauksit dan alumina berkontribusi 3 persen atau Rp 879,14 miliar, naik 24 persen. Produksi bauksit mencapai 628.785 wmt, sedangkan produksi alumina meningkat 13 persen menjadi 49.566 ton.















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502638/original/046269700_1770993794-vickery.jpg)