Sinopsis film "Panji Tengkorak": Animasi terbaru karya anak bangsa

9 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Film animasi "Panji Tengkorak" hadir sebagai salah satu karya terbaru anak bangsa yang berani menembus batas kreativitas perfilman nasional. Sebagai adaptasi dari komik legendaris karya Hans Jaladara yang pertama kali terbit pada 1968, film ini mencoba menghadirkan kembali kisah klasik Panji Tengkorak dalam medium animasi dua dimensi untuk menjangkau penonton lintas generasi, khususnya generasi Z.

Disutradarai Daryl Wilson dan diproduksi oleh Falcon Pictures, film ini melibatkan sejumlah aktor ternama dalam pengisi suara, di antaranya Denny Sumargo sebagai Panji, Aisha Nurra Datau sebagai Murni, serta Donny Alamsyah sebagai Panglima Wirabaya. Penulisan naskah dikerjakan oleh Agung Prasetiarso dan Theo Arnoldy, sementara Frederica bertindak sebagai produser.

Baca juga: Film animasi Panji Tengkorak sajikan silat yang kuat dan ekspresif

Sinopsis "Panji Tengkorak"

Kisah bermula dari Panji (Denny Sumargo) yang menjual jiwanya kepada ilmu hitam demi membalaskan dendam atas kematian istrinya, Murni (Aisha Nurra Datau). Namun, niat itu justru menyeretnya dalam kutukan abadi yang membuat raganya terbelenggu.

Dalam perjalanan tanpa arah, Panji bertemu seorang pendekar tua yang memintanya membantu mengejar bandit Kalawereng (Tanta Ginting). Bandit itu berhasil merebut pusaka sakti Ajisaka yang diyakini mampu menghapus kuasa ilmu hitam. Tawaran tersebut menyeret Panji ke dalam perang besar antara dua kerajaan, sekaligus membuka tabir masa lalunya yang kelam.

Latar utama cerita berada di Kerajaan Madyantara, sebuah kerajaan fiksi pada abad ke-15 yang tengah dilanda ketegangan politik dan ancaman peperangan. Ketidakmampuan raja menjaga stabilitas membuat rakyat terhimpit penderitaan, sementara pusaka sakti Ajisaka menjadi rebutan para pendekar hingga akhirnya jatuh ke tangan Kalawereng, seorang mantan panglima yang membelot.

Bramantya, salah seorang tetua pendekar, meminta Panji untuk menemaninya merebut kembali pusaka itu. Meski diliputi niat pribadi untuk melepaskan diri dari kutukan ilmu hitam, Panji perlahan terjerat pada takdir besar yang menantangnya untuk menentukan jalan kepahlawanannya.

Baca juga: Film "Demon Slayer" terbaru telah menarik 19,8 juta pemirsa di Jepang

Eksperimen visual matte painting

Film ini menampilkan gaya animasi dua dimensi dengan sentuhan matte painting, sehingga memberikan nuansa visual yang ekspresif, kelam, dan mistis. Pilihan tersebut dinilai berani, karena di tengah dominasi animasi 3D modern, pendekatan ini justru menghidupkan kembali suasana komik aslinya dengan adegan pertarungan yang brutal dan intens.

Selain itu, penggunaan matte painting berhasil menciptakan latar belakang sinematik yang megah, menggambarkan dunia kuno dengan atmosfer misterius. Keputusan untuk menampilkan unsur kekerasan secara eksplisit juga membuat film ini lebih tepat ditujukan bagi penonton dewasa berusia 21 tahun ke atas.

Karakter penuh luka

Karakter Panji Tengkorak digambarkan sebagai sosok kompleks yang dipenuhi trauma masa lalu. Suara serak Denny Sumargo dianggap mampu menghadirkan kegetiran sekaligus pergulatan batin tokoh utama. Monolog serta kilas balik dalam cerita menambah kedalaman psikologis karakter ini.

Selain Denny, sejumlah aktor pendukung seperti Cok Simbara, Pritt Timothy, Donny Damara, dan Aghniny Haque turut memberi warna pada film ini. Mereka menghidupkan peran para pendekar dan tokoh kerajaan yang terjerat intrik politik serta perebutan pusaka sakti.

Warisan klasik dalam wajah baru

Tokoh Panji Tengkorak sebelumnya dikenal luas melalui komik silat yang populer pada era 1970-an hingga 1980-an, bahkan sempat diadaptasi menjadi film laga. Namun, versi animasi terbaru ini menghadirkan pendekatan berbeda yang lebih relevan bagi audiens modern, tanpa meninggalkan identitas kelam dan heroik dari karya aslinya.

Melalui film ini, Falcon Pictures bersama Daryl Wilson berupaya menunjukkan bahwa cerita klasik Indonesia memiliki potensi besar untuk dihidupkan kembali dalam medium baru, sekaligus memperkenalkan warisan budaya populer kepada generasi masa kini.

Baca juga: Panji Tengkorak, animasi Indonesia tanpa embel-embel "Merah Putih"

Baca juga: Pertunjukan animasi wayang tampil memukau di World Osaka Expo

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |