CANTIKA.COM, Jakarta - Virus Nipah kembali menjadi perhatian dunia kesehatan setelah laporan kasus terbaru di Asia, yang memicu kewaspadaan di berbagai negara, termasuk kawasan Asia Tenggara. Meski bukan virus baru, Nipah dikenal sebagai salah satu penyakit zoonosis paling berbahaya karena tingkat kematiannya tinggi dan hingga kini belum ada obat spesifik maupun vaksin yang tersedia secara luas. Situasi ini membuat pemahaman publik soal virus Nipah dan cara pencegahannya menjadi semakin penting.
Apa Itu Virus Nipah?
Virus Nipah (Nipah virus/NiV) adalah virus zoonotik, yaitu penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Inang alaminya adalah kelelawar buah dari genus Pteropus. Selain itu, hewan seperti babi juga bisa terinfeksi dan menjadi perantara penularan ke manusia.
Virus ini pertama kali teridentifikasi pada akhir 1990-an dalam wabah di Malaysia yang menyerang para peternak babi. Sejak saat itu, Nipah dikategorikan sebagai patogen berisiko tinggi karena bisa menyebabkan penyakit berat pada manusia, terutama gangguan pernapasan dan peradangan otak.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Infeksi virus Nipah bisa dimulai dengan gejala yang tampak ringan, tetapi dapat berkembang cepat menjadi kondisi serius. Beberapa gejala umum meliputi:
Demam dan sakit kepala
Nyeri otot dan muntah
Batuk serta kesulitan bernapas
Kebingungan, kejang, hingga penurunan kesadaran akibat ensefalitis (radang otak)
Pada kasus berat, pasien dapat mengalami koma dalam waktu singkat. Tingkat kematian kasus Nipah dilaporkan berkisar antara 40 persen hingga 75 persen, tergantung kecepatan penanganan dan kapasitas sistem kesehatan setempat.
Bagaimana Virus Nipah Menular?
Penularan virus Nipah dapat terjadi melalui beberapa jalur:
Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, seperti kelelawar atau babi, termasuk cairan tubuhnya.
Konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, misalnya buah yang terkena air liur kelelawar atau minuman mentah dari nira yang terpapar.
Penularan antarmanusia melalui kontak dekat dengan penderita, terutama lewat cairan tubuh seperti air liur, lendir, atau darah.
Karena gejala awalnya mirip flu, banyak kasus berisiko terlambat terdeteksi, yang membuat penularan lebih sulit dikendalikan.
Perkembangan Terbaru: Asia dan Dampaknya ke Asia Tenggara
Laporan kasus terbaru di India kembali memicu kekhawatiran regional. Otoritas kesehatan di sejumlah negara Asia meningkatkan kewaspadaan, terutama di pintu masuk internasional, karena mobilitas penduduk yang tinggi. Situasi ini membuat negara-negara Asia Tenggara memperkuat pemantauan penyakit menular dan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan.
Beberapa negara di kawasan menilai risiko tetap ada mengingat keberadaan kelelawar buah yang juga tersebar luas di Asia Tenggara. Pendekatan pengawasan berbasis One Health, yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, terus didorong untuk mencegah potensi wabah lintas negara.
Sebagai respons terhadap laporan kasus Nipah virus di India baru-baru ini dan meningkatnya kewaspadaan di kawasan Asia, pihak berwenang Indonesia memperketat pengawasan kesehatan di pintu masuk negara, khususnya bandara internasional. Ini termasuk langkah-langkah yang diambil di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) di Tangerang, Banten, yang menjadi fokus utama karena volume penumpang internasional yang tinggi.
Pengawasan dan Skrining Kesehatan yang Lebih Ketat
Pemerintah, melalui Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Bandara Soekarno-Hatta, telah meningkatkan sistem pengawasan terhadap pelaku perjalanan internasional. Ini mencakup:
Pengisian deklarasi kesehatan wajib bagi semua penumpang sebelum tiba di Indonesia melalui sistem elektronik yang memuat status kesehatan mereka.
Skrining suhu tubuh menggunakan thermal scanner dan pemeriksaan visual oleh petugas kesehatan di titik-titik pemeriksaan khusus di area terminal.
Pengawasan dinamis yang bisa ditingkatkan atau disesuaikan tergantung perkembangan risiko penularan di negara lain.
Jika ditemukan calon penumpang dengan gejala yang mencurigakan, petugas siap melakukan pemeriksaan lanjutan, termasuk pemeriksaan di pesawat ketika diperlukan.
Kolaborasi dan Kewaspadaan Lintas Sektor
Koordinasi juga dilakukan antara otoritas karantina kesehatan manusia dan karantina hewan, karena virus Nipah berasal dari hewan seperti kelelawar, monyet, dan babi. Kerja sama ini penting untuk meminimalkan risiko masuknya penyakit melalui berbagai jalur.
Walaupun hingga Januari 2026 belum ada kasus Nipah yang terkonfirmasi di Indonesia, pemerintah tetap mempertahankan level kewaspadaan tinggi untuk mencegah potensi penyebaran, terutama melalui mobilitas internasional.
Cara Mencegah Penularan Virus Nipah
Karena belum ada terapi khusus, pencegahan menjadi kunci utama. Langkah yang disarankan antara lain:
Menghindari kontak langsung dengan kelelawar, babi, atau hewan yang tampak sakit.
Mencuci bersih dan mengupas buah sebelum dikonsumsi.
Menghindari konsumsi minuman mentah yang berisiko terkontaminasi.
Rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
Menggunakan alat pelindung diri saat merawat orang dengan gejala mencurigakan.
Virus Nipah menunjukkan bagaimana penyakit dari hewan dapat dengan cepat menjadi ancaman kesehatan manusia. Dengan tingkat kematian tinggi dan belum adanya vaksin, edukasi publik, deteksi dini, serta kebiasaan hidup bersih menjadi pertahanan pertama yang paling realistis.
Kewaspadaan bukan berarti panik, tetapi memahami risiko dan tahu langkah pencegahan yang tepat. Di tengah mobilitas regional yang tinggi, informasi yang akurat menjadi salah satu bentuk perlindungan paling penting bagi diri sendiri dan orang sekitar. Jangan lupa jaga kesehatan ya, Sahabat Cantika!
Pilihan Editor: Dokter Gia Pratama Ingatkan Risiko Munculnya Penyakit Kritis, Apa Saja?
UK HEALTH SECURITY AGENCY | WHO | NIH | ANTARA
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5343503/original/009674500_1757434237-20250909AA_Timnas_Indonesia_U-23Vs_Korea_Selatan-03.JPG)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5390165/original/033586000_1761235850-Persib_Bandung_1.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5321271/original/035046300_1755668869-ong.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5385175/original/090228500_1760881526-Bali_United.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5267951/original/037003100_1751185942-souza.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5233597/original/013085700_1748319472-IMG_9065.JPG)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4605399/original/051919700_1696925599-Timnas_Indonesia_-_Arkhan_Fikri_dan_Hokky_Caraka_copy.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5387582/original/025954200_1761053138-selangor.jpeg)